Momentum HUT RI ke-80 dan HUT IJTI ke-27 Jadi Ajang Silaturahmi Insan Pers
Sumedang, Info Burinyay – Suasana khidmat menyelimuti lomba tahfidz Quran yang diadakan BAZNAS Kabupaten Sumedang. Wartawan Helmi Fauzi Ridwan dari FORKOWAS.id, grup KAPOL.id, sekaligus kontributor NU Online Jabar, tampil sebagai juara pertama. Ia melantunkan Surat At-Takatsur ayat 1 sampai 8 dengan penghayatan dan ketepatan tajwid yang memukau juri.
Helmi meraih nilai lebih dari 800 poin dan mengungguli seluruh peserta lain yang juga berprofesi sebagai wartawan. Lomba ini berlangsung pada Rabu (13/8/2025) di Sumedang sebagai rangkaian peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia dan HUT ke-27 Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).
Ide lomba muncul spontan dari obrolan santai para wartawan di sebuah warung kopi. Para peserta langsung menyepakati dan mempersiapkan kegiatan tersebut dengan dukungan penuh BAZNAS Sumedang.
Ketua BAZNAS Kabupaten Sumedang, H. Ayi Subhan Hafas, menegaskan pentingnya kebersamaan insan pers. “Kegiatan ini lahir dari kekompakan wartawan. Selain merayakan HUT IJTI, kami memanfaatkannya untuk mempererat silaturahmi,” ujarnya.
Ayi menargetkan kegiatan keagamaan seperti ini terus berjalan secara rutin. Ia menilai kehadiran wartawan dalam acara keagamaan memberi pengaruh positif bagi masyarakat.
Acara sederhana tersebut menghadirkan kehangatan di tengah rekan-rekan media. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa wartawan mampu berperan aktif dalam kegiatan syiar. Selain itu, kegiatan ini membuka peluang kolaborasi baru antara media dan lembaga keagamaan.
Sebagai pemenang, Helmi menyampaikan rasa syukur. “Alhamdulillah, dukungan rekan-rekan wartawan dan kerja sama dengan BAZNAS membuat acara ini terwujud. Momen HUT RI dan HUT IJTI sangat tepat untuk lomba murotal Al-Qur’an,” katanya.
Helmi menegaskan bahwa lomba ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana dakwah. Ia mendorong para santri untuk mempertimbangkan profesi wartawan sebagai bagian dari syiar agama.
“Oleh karena itu, saya berharap para santri melihat bahwa dakwah bisa dilakukan melalui jurnalistik. Wartawan juga dapat menyampaikan pesan kebaikan kepada publik,” ungkapnya.
Ia mengucapkan terima kasih kepada para kiai dan guru di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah. “Bimbingan mereka menjadi bekal penting yang selalu saya bawa. Tanpa mereka, saya tidak akan sampai di titik ini,” tutur Helmi.
Helmi ingin keberhasilannya menginspirasi insan pers lain. Ia percaya, wartawan yang memadukan kompetensi jurnalistik dengan nilai agama dapat membangun masyarakat yang berilmu, beretika, dan saling menghormati.