Jumat, Jan 16, 2026
Info Burinyay
Pendidikan

Rizky Prasetya Handani Apresiasi Sinergi Tiga Lembaga dalam Kuliah Umum Menteri HAM RI di Universitas Kristen Maranatha

Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Natalius Pigai berbicara kepada awak media didampingi sejumlah pejabat dan undangan, termasuk Rizky Prasetya Handani yang berdiri di belakang mengenakan batik.
Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Natalius Pigai memberikan keterangan kepada wartawan usai kuliah umum di Universitas Kristen Maranatha. Di belakangnya tampak Rizky Prasetya Handani yang hadir sebagai tamu undangan VIP serta fasilitator sinergi antara kampus dan Kanwil Kemenham Jawa Barat. (Foto:InfoBurinyay/Rizky)

Bandung, Info Burinyay — Auditorium Universitas Kristen Maranatha kembali menghadirkan atmosfer akademik yang kuat melalui kuliah umum bersama Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Natalius Pigai. Kegiatan ini menarik perhatian sivitas akademika karena membahas pengetahuan hukum, perkembangan isu HAM, serta tantangan kemanusiaan di era digital. Suasana berlangsung hangat, dinamis, dan penuh antusiasme sejak awal sesi hingga acara berakhir.

Pada kesempatan ini, alumni Universitas Kristen Maranatha, Rizky Prasetya Handani, S.E., M.M., menunjukkan apresiasi mendalam terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia hadir sebagai tamu undangan VIP mewakili almamater dan Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat. Selain itu, ia berperan sebagai penghubung yang menjembatani koordinasi antara pihak kampus dan Kanwil Kemenkumham hingga kehadiran Menteri HAM RI dapat terwujud.

Rizky mengungkapkan rasa syukur karena dapat kembali berkarya untuk universitas yang membentuk perjalanan akademik dan profesionalnya.

“Saya merasa terhormat dapat kembali memberi kontribusi. Melihat Rektor, Guru Besar, dosen, dan mahasiswa hadir dengan penuh semangat membuat saya yakin bahwa pendidikan dan nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi bangsa,” ujarnya.

Acara ini menghadirkan jajaran pimpinan universitas, para Wakil Rektor, dekan fakultas, serta ratusan dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi. Kehadiran mereka memperkuat tujuan kuliah umum sebagai ruang dialog yang mendorong literasi HAM secara lebih kritis. Selain itu, forum ini membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami peran negara dan masyarakat dalam menjaga nilai kemanusiaan.

Rizky menyebut momentum ini sebagai bukti nyata sinergi antara dunia pendidikan dan institusi negara. Menurutnya, kehadiran Menteri HAM RI merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat edukasi HAM di lingkungan perguruan tinggi.

“Kolaborasi seperti ini menunjukkan energi positif dari kedua pihak. Kampus menghadirkan ruang akademik yang matang, sementara pemerintah membawa perspektif kebijakan dan pengalaman lapangan,” jelasnya.

Sebagai fasilitator acara, Rizky menjalankan peran strategis untuk memastikan komunikasi berjalan efektif. Ia merasa kontribusinya merupakan tanggung jawab moral terhadap almamater.

“Maranatha memberikan nilai yang membentuk karakter saya. Kembali ke kampus dengan membawa sesuatu yang bermanfaat selalu menjadi kebahagiaan bagi saya,” ungkapnya.

Selain materi dari Menteri HAM, kegiatan ini juga menampilkan partisipasi komunitas disabilitas yang memberikan karya terbaik mereka. Penampilan tersebut menjadi bagian yang paling emosional karena menghadirkan pesan kemanusiaan yang kuat. Melalui karya dan performa, mereka mengirimkan pesan bahwa keberanian, kreativitas, dan kesetaraan merupakan nilai universal.

Rizky menilai keterlibatan komunitas disabilitas dalam forum akademik berskala nasional sebagai langkah penting.

“Ketika panggung diberikan kepada mereka, kita melihat kekuatan yang melampaui batas fisik. Pendidikan dan HAM harus berpihak kepada semua, tanpa kecuali,” katanya.

Selanjutnya, acara juga dimeriahkan oleh kehadiran KOPPETA HAM Jawa Barat, yaitu Komunitas Pemuda Pelajar Pecinta Hak Asasi Manusia. Organisasi ini beranggotakan pelajar SMA/SMK se-Jawa Barat yang mendapat pembinaan langsung dari Kanwil Kemenham Jawa Barat. Mereka hadir untuk belajar, berdiskusi, sekaligus melihat praktik dialog HAM secara langsung.

KOPPETA fokus pada edukasi HAM, advokasi isu kemanusiaan, pengembangan kepemimpinan muda, serta pembentukan karakter pelajar yang kritis dan berani bersuara. Keberadaan mereka pada forum ini memperluas refleksi mengenai masa depan generasi muda dalam isu HAM. Rizky menyampaikan kekagumannya terhadap antusiasme para pelajar tersebut.

“Kehadiran mereka menunjukkan bahwa masa depan HAM berada di tangan generasi yang cerdas, peduli, dan berani menyuarakan keadilan,” tegasnya.

Melalui rangkaian acara ini, Rizky menyampaikan apresiasi kepada tiga lembaga yang menjadi pilar utama penyelenggaraan kegiatan. Ia berterima kasih kepada Kementerian HAM Republik Indonesia, Kanwil Kemenham Jawa Barat, serta Universitas Kristen Maranatha yang bekerja sama secara solid. Sinergi ketiga institusi tersebut membuktikan bahwa kolaborasi yang terarah dapat memberi dampak positif bagi pendidikan dan literasi HAM.

Sebagai penutup, Rizky menyampaikan harapan agar kegiatan serupa terus berkembang di masa mendatang. Ia percaya bahwa ruang dialog antara pemerintah, akademisi, mahasiswa, pelajar, dan komunitas masyarakat merupakan elemen penting dalam memperkuat kesadaran kemanusiaan.

“Saya bersyukur dapat menyaksikan interaksi yang membangun antara berbagai kelompok. Semoga semakin banyak ruang diskusi yang membuka kesadaran, keberanian, dan kebijaksanaan bagi generasi penerus,” tutupnya.

Kuliah umum ini meninggalkan kesan mendalam bagi peserta karena menghadirkan pandangan yang relevan mengenai isu-isu HAM kontemporer. Selain itu, acara ini mempertegas komitmen Universitas Kristen Maranatha dalam menghadirkan ruang akademik yang inklusif, kritis, dan responsif terhadap perkembangan zaman. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi salah satu tonggak penting bagi penguatan literasi HAM bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.