Baleendah, Info Burinyay – Siswa-siswi SMP Prima Cendekia Islami (SMP PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, menjalin kerja sama internasional dengan Sekolah Indonesia Singapura (SIS). Kerja sama tersebut berlangsung bersamaan dengan kunjungan akademik ke Singapura pada Selasa, 13 Januari 2026.
Program ini menjadi bagian dari agenda tahunan Rihlah Ilmiah yang diikuti siswa kelas IX SMP PCI. Selama lima hari, para siswa mengikuti rangkaian pembelajaran lintas negara di Singapura dan Malaysia. Melalui kegiatan ini, sekolah mendorong siswa memperluas wawasan global dan memperkaya pengalaman belajar internasional.
Selain itu, sekolah juga menargetkan penguatan relasi antarpelajar lintas budaya. Oleh karena itu, panitia menyusun agenda yang memadukan kegiatan akademik dan pengenalan lingkungan global secara langsung. Selama berada di Singapura, kunjungan ke Sekolah Indonesia Singapura menjadi agenda utama kegiatan.
Para siswa SMP PCI mengikuti aktivitas pembelajaran bersama siswa SIS. Di sela kegiatan akademik, rombongan juga mengunjungi sejumlah destinasi edukatif dan wisata. Dengan pendekatan tersebut, sekolah menghubungkan teori pembelajaran dengan pengalaman nyata di lapangan.
Momen istimewa terjadi saat siswa SMP PCI dan SIS mengikuti sesi motivasi bersama Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Atip Latipulhayat, Ph.D., secara daring. Kehadiran Wamen Dikdasmen tersebut memberi nilai tambah tersendiri bagi kegiatan rihlah ilmiah ini.
Prof. Atip menyambut baik kunjungan akademik SMP PCI ke Sekolah Indonesia Singapura. Menurutnya, kegiatan lintas negara seperti ini mampu membentuk pola pikir global sejak dini.
“Teruslah mengejar prestasi dan kembangkan potensi diri agar mampu bersaing di era global,” ujar Prof. Atip kepada para siswa.
Ia juga menilai siswa Indonesia yang belajar di luar negeri memiliki keunggulan perspektif. Lingkungan multikultural membentuk karakter adaptif dan terbuka terhadap perbedaan. Karena itu, Prof. Atip mendorong para siswa memanfaatkan pengalaman global tersebut secara optimal.
Kepada siswa SMP PCI, Prof. Atip menekankan pentingnya membangun jejaring. “Kunjungan ini harus membuka wawasan dan memperkuat kebersamaan serta pemahaman lintas budaya dalam dunia pendidikan,” ungkapnya.
Setelah sesi motivasi, para siswa dari kedua sekolah langsung berinteraksi dalam berbagai kegiatan bersama. Mereka mengikuti permainan edukatif, diskusi kelompok, dan sesi perkenalan. Melalui aktivitas ini, siswa melatih kerja sama, komunikasi, dan kolaborasi lintas budaya.
Salah satu orang tua siswa SMP Prima Cendekia Islami menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut.
“Ini pengalaman yang sangat berharga bagi anak-anak kami. Kegiatan ini memotivasi mereka untuk berani bercita-cita belajar ke luar negeri,” ujarnya.
Sekolah juga memaknai kunjungan ini sebagai penguatan kelembagaan. Pihak SMP Prima Cendekia Islami dan Sekolah Indonesia Singapura menandatangani perjanjian kerja sama pendidikan. Kepala SMP PCI, Beny Saputro, M.Pd., dan Kepala SIS, Semuel Kuriake Balubun, S.Pd., menandatangani dokumen tersebut secara langsung.
Melalui kerja sama ini, kedua sekolah berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan dan mengembangkan program kolaboratif berkelanjutan. Kepala Sekolah SIS menyambut positif kolaborasi ini dan menilai kerja sama lintas negara sangat relevan dengan tantangan pendidikan global.
“Momentum ini membuka ruang berbagi pengalaman antara sekolah di Indonesia dan Singapura. Kami berharap kolaborasi terus berkembang ke depan,” kata Semuel.
Ia juga membuka peluang kerja sama lanjutan, seperti pertukaran pelajar dan tenaga pendidik.
Pembina Yayasan Pendidikan Prima Cendekia Islami, Siti Komariah, Ph.D., turut mendampingi kunjungan tersebut. Ia berharap kegiatan ini membentuk pola pikir terbuka pada siswa. Menurutnya, pengalaman lintas budaya memperkuat kesiapan siswa menghadapi dunia global.
Interaksi siswa dari Bandung dan Singapura menunjukkan hubungan yang saling melengkapi. Mereka membangun persahabatan secara kolektif dan berlandaskan norma sosial. Karakter siswa Indonesia di Singapura yang hidup di persimpangan budaya dinilai menjadi fenomena menarik dalam kajian pendidikan global.
