26.3 C
Bandung
Senin, Mar 16, 2026
Info Burinyay
Pemerintahan

Usai Umrah, Bupati Bandung Langsung Tinjau Banjir Bandang Solokanjeruk: 4 Langkah Besar Siap Atasi Sungai Cisunggalah

Bupati Bandung Dadang Supriatna meninjau lokasi banjir bandang Sungai Cisunggalah di Desa Panyadap Kecamatan Solokanjeruk bersama jajaran perangkat daerah
Bupati Bandung Dadang Supriatna memberikan keterangan kepada awak media saat meninjau lokasi banjir bandang akibat luapan Sungai Cisunggalah di Kampung Puja, Desa Panyadap, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Minggu (15/3/2026). - Foto:infoburinyay/red

Solokanjeruk, Info Burinyay – Bupati Bandung Dadang Supriatna meninjau langsung lokasi banjir bandang di Kampung Puja RT 03/RW 04 Desa Panyadap, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Minggu (15/3/2026). Kunjungan itu bertujuan memastikan penanganan bencana berjalan cepat sekaligus mencari solusi jangka panjang bagi warga terdampak.

Bupati yang akrab disapa Kang DS tersebut langsung menuju lokasi setelah kembali dari ibadah umrah di Tanah Suci Makkah dan Madinah, Arab Saudi. Ia memilih turun ke lapangan agar dapat melihat kondisi warga secara langsung.

Banjir bandang terjadi pada Kamis (12/3/2026) malam setelah waktu Magrib. Saat itu, luapan Sungai Cisunggalah menerjang kawasan permukiman padat penduduk.

Peristiwa tersebut merusak empat rumah warga hingga mengalami kerusakan berat. Selain itu, luapan air juga berdampak pada 47 kepala keluarga yang tinggal di sekitar aliran sungai.

Air sungai meluap setelah tanggul penahan aliran Sungai Cisunggalah sepanjang sekitar empat meter dengan tinggi satu meter jebol. Selain itu, pendangkalan sungai memperburuk kondisi karena aliran air meningkat saat hujan deras turun di wilayah hulu.

Saat meninjau lokasi, Kang DS menjelaskan bahwa kondisi wilayah Desa Panyadap hampir sama dengan wilayah sekitar, termasuk Desa Bojong di Kecamatan Majalaya.

“Kondisi Desa Panyadap yang berbatasan dengan Desa Bojong hampir sama. Jika tidak ada langkah strategis, persoalan ini tidak akan selesai dan banjir bandang bisa terus terjadi,” kata Kang DS.

Karena itu, ia langsung menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Bandung untuk berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum.

Menurutnya, pemerintah daerah telah menyiapkan empat langkah utama untuk mengatasi ancaman banjir bandang di wilayah tersebut.

Langkah pertama adalah melakukan normalisasi Sungai Cisunggalah dengan menurunkan sedimentasi atau endapan tanah di dasar sungai. Pemerintah daerah merencanakan pekerjaan itu setelah Lebaran atau sekitar satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

“Untuk jangka pendek, kita harus melakukan normalisasi sungai secara manual. Jika memakai alat berat, ruang geraknya terbatas,” ujarnya.

Langkah kedua menitikberatkan pada pengembalian lebar sungai seperti kondisi semula. Pemerintah desa dan warga telah menyepakati keputusan itu melalui musyawarah desa.

Mereka sepakat mengembalikan lebar aliran Sungai Cisunggalah menjadi sekitar delapan meter. Saat ini, sebagian besar lebar sungai hanya berkisar antara tiga hingga empat meter.

“Hasil musyawarah desa sudah sepakat bahwa lebar sungai harus kembali menjadi delapan meter. Jika ada warga yang memanfaatkan lahan sungai, maka harus ada kesadaran bersama,” jelasnya.

Langkah ketiga melibatkan program pentahelix. Program ini menggabungkan peran pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media dalam penanganan lingkungan.

Kang DS menilai pendekatan tersebut mampu mempercepat penyelesaian masalah dibandingkan hanya mengandalkan anggaran pemerintah.

“Jika hanya menggunakan APBD, prosesnya bisa panjang. Melalui pentahelix, kita dapat bergerak lebih cepat,” ungkapnya.

Ia juga mencontohkan keberhasilan program tersebut dalam normalisasi Sungai Citarik di Kecamatan Cicalengka dan Cikancung. Selain itu, pemerintah juga telah menyelesaikan normalisasi Sungai Cikeruh di Kecamatan Rancaekek.

Menurutnya, program tersebut berhasil mengurangi potensi banjir di beberapa wilayah Kabupaten Bandung.

Langkah keempat menargetkan peninggian jembatan di atas aliran Sungai Cisunggalah. Jembatan yang terlalu rendah sering menghambat aliran air saat debit meningkat.

“Jika jembatan menuju permukiman warga tidak kita tinggikan, air bisa kembali meluap ke rumah warga,” katanya.

Selain empat langkah tersebut, pemerintah daerah juga mendorong revitalisasi total Sungai Cisunggalah. Upaya itu mencakup pelebaran sungai dan pengerukan endapan lumpur.

Saat ini, endapan lumpur di beberapa bagian sungai mencapai sekitar 1,5 meter. Kondisi tersebut menghambat aliran air dan meningkatkan risiko luapan.

Karena itu, Kang DS mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan sungai. Ia menegaskan bahwa penanganan banjir membutuhkan kerja sama semua pihak.

“Ini tidak bisa diselesaikan pemerintah saja. Semua pihak harus bekerja sama agar banjir tidak terus berulang,” ujarnya.

Dalam peninjauan tersebut, Bupati Bandung didampingi Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Bandung Wahyudin, Kepala DPUTR Zeis Zultaqawa, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ruli Hadiana, serta sejumlah perangkat daerah lainnya. Perwakilan BBWS Citarum juga ikut hadir dalam kegiatan tersebut.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.