Rancaekek, Info Burinyay – Penilaian cabang Nembang Pupuh pada Porseni PGRI Rancaekek 2025 memasuki hari ketiga dan langsung menghadirkan persaingan yang hangat di Ballroom SMP–SMK Skye Digipreuneur, Jalan Walini Nomor 24, Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Rabu 19 November 2025. Panitia menyiapkan sesi penilaian sejak pagi sehingga seluruh peserta dapat tampil teratur dan tepat waktu.
Kegiatan tahun ini mengusung tema “Dengan Porseni PGRI Kita Ciptakan Guru Hebat, Indonesia Kuat”. Dengan tema tersebut, panitia menargetkan atmosfer seni yang bukan hanya kompetitif, tetapi juga edukatif. Karena itu, peserta dari seluruh ranting hadir untuk menampilkan kemampuan terbaiknya. Total 16 ranting putra dan 16 ranting putri ikut serta dan mengisi panggung sepanjang hari.
Panitia pelaksana, Siti Hassanah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa jumlah peserta yang penuh membuat kegiatan berjalan hidup. Ia menilai Nembang Pupuh tetap memikat para guru yang peduli budaya.
“Hari ini Alhamdulillah kategori putra diikuti 16 ranting, begitu juga kategori putri. Semuanya dapat tampil. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi lomba, tetapi juga menjadi cara kita mewariskan budaya agar tetap hidup,” ujarnya.
Dewan juri kemudian melakukan penilaian dengan pendekatan teknik, musikalitas, dan kedalaman pemahaman terhadap pupuh. Drs. Amas Effendi, DM., M.Pd., memandang keberlanjutan kegiatan ini sebagai tanda positif.
“Alhamdulillah Pupuh masih hidup. Penggemarnya masih banyak. Mudah-mudahan guru bisa menularkan ilmunya kepada para siswa, dan PGRI terus mengadakan lomba ini setiap tahun agar Pupuh tidak hilang,” tegasnya.
Dewan juri lainnya, Eef Rosmana Gunawan, S.Pd., M.Pd., menyoroti aspek teknis yang perlu peserta tingkatkan. Ia mengapresiasi kemegahan penyelenggaraan dan antusiasme seluruh peserta.
“Saya sangat apresiasi kegiatan yang diselenggarakan PGRI Rancaekek. Ke depan, peserta perlu lebih memperhatikan artikulasi dan prasering atau penggalan kalimat. Dua aspek ini sangat menentukan kualitas Nembang Pupuh,” katanya.
Para peserta pun merasakan manfaat kegiatan ini dari sisi silaturahmi hingga penguatan identitas budaya. Nitasari Purwanti, S.Pd., dari Ranting 1 menyampaikan dorongannya agar kegiatan seperti ini terus berjalan.
“Lanjutkan kegiatannya karena ini bagus untuk mempererat tali silaturahmi antar guru. Kita juga perlu terus belajar nembang supaya kesenian Sunda tetap lahir dan berkembang,” ucapnya.
Peserta dari Ranting 2, Aditya Gantina Budi Kusuma, S.Pd., menilai kegiatan ini memperkuat rasa cinta budaya. Ia menegaskan pentingnya keberlanjutan agenda seni seperti ini.
“Terima kasih kepada panitia. Saya merasa kegiatan ini harus tetap berjalan untuk meningkatkan rasa cinta kita terhadap tanah air, khususnya budaya Sunda,” jelasnya.
Dari SMPN 3 Rancaekek, Dede Royani, S.Pd., memberikan refleksi bahwa pelestarian budaya membutuhkan kesungguhan. Ia menilai Pupuh sebagai seni yang menantang tetapi sangat penting untuk dijaga.
“Pupuh memang sulit, tetapi kita bisa melestarikannya dengan keinginan dan kerja keras. Semoga acara ini tetap hadir tahun depan agar Pupuh tidak tergerus zaman,” ungkapnya.
Pada bagian akhir kegiatan, Kepala SDN 1 Jelegong, Tuti Karyati, S.Pd., menyampaikan penghargaan kepada pengurus PGRI Rancaekek. Ia menyatakan bahwa kinerja panitia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
“Selamat kepada para pengurus dan jajarannya. Semoga ke depan PGRI Rancaekek lebih hebat lagi sesuai motonya,” tutupnya.
Melalui rangkaian penilaian yang berlangsung padat, Porseni PGRI Rancaekek 2025 kembali menegaskan perannya dalam menghidupkan seni tradisi dan membangun ruang ekspresi bagi para guru. Kegiatan ini tidak hanya menguatkan kompetensi seni, tetapi juga meneguhkan tekad bersama untuk menjaga identitas budaya Sunda di tengah perubahan zaman.
