Bandung, Info Burinyay – SMP Prima Cendekia Islami (SMP PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, kembali menjalankan agenda rihlah ilmiah internasional bagi siswa kelas 9. Program tahunan ini menjadi bagian dari kebijakan sekolah dalam membangun wawasan global sejak usia sekolah menengah pertama.
Sekolah merancang rihlah ilmiah secara terprogram dan berjenjang. SMP PCI mengarahkan siswa kelas 7 mengikuti rihlah ke Jakarta, kelas 8 ke Yogyakarta, dan kelas 9 ke luar negeri. Pola tersebut bertujuan menyesuaikan tingkat kedewasaan akademik dan kesiapan siswa.
Pada tahun ini, siswa kelas 9 SMP PCI memulai rihlah ilmiah dengan kunjungan edukatif ke Singapura. Salah satu agenda utama ialah kunjungan ke Sekolah Indonesia Singapura (SIS). Melalui kegiatan tersebut, siswa mengenal sistem pendidikan Indonesia yang berkembang di luar negeri.
Selain kegiatan akademik, siswa juga mengunjungi sejumlah destinasi edukatif di Singapura. Kegiatan ini membantu siswa memahami karakter kota global, tata kelola perkotaan, serta kehidupan masyarakat multikultural.
Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan ke Malaysia melalui Johor. Di negara tersebut, siswa mengikuti wisata sejarah ke Kota Melaka. Di lokasi ini, siswa menyaksikan langsung peninggalan kolonial Portugis dan Belanda.
Melalui kunjungan ke Melaka, siswa mempelajari peran strategis Selat Malaka sebagai jalur perdagangan internasional pada abad ke-15 dan ke-16. Guru pendamping menjelaskan konteks sejarah secara langsung di lapangan sehingga siswa memahami materi secara konkret.
Untuk memperkuat pengalaman akademik, SMP PCI secara khusus membawa siswa mengunjungi Universiti Malaya (UM) di Kuala Lumpur. Sekolah menilai kunjungan kampus internasional mampu memperluas perspektif pendidikan siswa.
“Kami sengaja membawa siswa SMP PCI ke kampus ternama di Malaysia agar mereka memahami sistem pendidikan di luar negeri,” ujar Siti Komariah, Ph.D., Ketua Yayasan Pendidikan Prima Cendekia Islami, yang mendampingi kegiatan di Kuala Lumpur.
Menurut Siti Komariah, sekolah perlu menanamkan wawasan akademik global sejak dini. Ia menilai langkah tersebut dapat membangun cita-cita besar dan motivasi belajar siswa.
“Universiti Malaya kami pilih karena reputasinya sangat kuat. Kampus ini menempati peringkat satu universitas di Malaysia dan masuk 100 besar universitas dunia,” jelasnya. Ia juga menyebut Universiti Malaya sebagai kampus paling prestisius di kawasan Asia Tenggara.
Universiti Malaya menampung ribuan mahasiswa internasional dari Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Banyak mahasiswa Indonesia memilih kampus ini karena kualitas akademik dan kedekatan budaya. Siti Komariah sendiri merupakan doktor sosiologi lulusan Fakulti Sastera dan Sains Sosial Universiti Malaya.
Selama kunjungan kampus, dua mahasiswa Indonesia penerima beasiswa LPDP yang sedang menempuh program doktor memandu siswa SMP PCI. Keduanya memberikan informasi seputar perkuliahan dan memotivasi siswa agar berani melanjutkan studi ke luar negeri.
Sementara itu, Wakil Kepala SMP Prima Cendekia Islami, Abhelia Permatasari, S.Pd., menjelaskan bahwa rihlah ilmiah juga mencakup kunjungan ke berbagai ikon nasional Malaysia. “Kami membawa siswa mengunjungi Menara Kembar Petronas, Genting Highland, Dataran Merdeka, hingga Putrajaya,” ujarnya.
Menurut Abhelia, sekolah merancang rihlah ilmiah sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual. Program ini memadukan unsur pendidikan, budaya, dan motivasi pengembangan diri secara seimbang.
“Melalui rihlah ilmiah ini, siswa SMP PCI dari Baleendah Kabupaten Bandung dapat tumbuh dengan wawasan internasional yang luas,” tutup Abhelia Permatasari.
