Bandung, Info Burinyay – Kegiatan Berbagi bersama 1.000 Anak Panti Asuhan dan Dhuafa serta penandatanganan Nota Kesepahaman antara Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia dan Yayasan Mimbar Hiburan Amal Bagi Dhuafa (MHABD) berlangsung khidmat di Pendopo Kota Bandung, Rabu, 11 Februari 2026. Acara ini sekaligus menandai konsistensi pengabdian sosial yang telah dijaga selama puluhan tahun di Kota Bandung.
Sejak pagi hari, ratusan anak yatim, kaum dhuafa, tokoh masyarakat, serta tamu undangan mulai memadati area Pendopo. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi penguatan kolaborasi lintas lembaga di bidang sosial, kemanusiaan, keagamaan, dan pendidikan. Oleh karena itu, Yayasan MHABD menggandeng Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia untuk memperluas dampak pengabdian kepada masyarakat.
Mengusung tema “Bungah Mapag Munggah 1447 H”, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian penyambutan bulan suci Ramadan. Tema tersebut mencerminkan semangat kegembiraan, kesiapan, dan kepedulian sosial menjelang datangnya bulan penuh keberkahan. Dengan demikian, seluruh rangkaian acara dikemas dalam suasana religius, hangat, dan inklusif.
Acara diawali dengan kegiatan berbagi santunan kepada 1.000 anak yatim dan dhuafa dari berbagai panti asuhan di Kota Bandung dan sekitarnya. Selanjutnya, panitia juga memfasilitasi pelaksanaan tujuh pernikahan pasangan disabilitas, yang menjadi salah satu agenda kemanusiaan paling menyentuh dalam kegiatan tahunan ini.
Selain kegiatan sosial, Yayasan MHABD dan Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman tentang penyelenggaraan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kerja sama ini mencakup bidang sosial, kemanusiaan, keagamaan, serta pendidikan. Melalui nota kesepahaman tersebut, kedua pihak berkomitmen menjalankan program berkelanjutan yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat luas.
Wali Kota Bandung, H. Muhammad Farhan, SE., hadir langsung dan memberikan apresiasi atas konsistensi Yayasan MHABD. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi tradisi penting bagi Kota Bandung dan tidak boleh terhenti.
“Pada hari ini kita melanjutkan tradisi yang luar biasa. Tentu saja kita berharap tradisi ini jangan sampai pernah berhenti,” ujar Muhammad Farhan dalam sambutannya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh jajaran yayasan dan panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara. Menurutnya, manfaat kegiatan ini sangat besar bagi masyarakat, khususnya anak yatim dan kaum dhuafa.
“Intinya manfaatnya sangat banyak. Insya Allah, konsistensi yang telah terjaga selama 37 tahun ini akan selalu kita jaga. Tradisi ini harus selalu ada di Pendopo Kota Bandung,” katanya.
Lebih lanjut, Wali Kota Bandung mengaku terharu dengan pelaksanaan pernikahan disabilitas yang difasilitasi dalam acara tersebut. Ia menyebut momen tersebut sebagai simbol kepedulian dan keberpihakan kepada kelompok rentan.
“Yang membuat saya terharu adalah dua saudara kita yang tuna netra, warga Kota Bandung, menikah dengan dibantu Kepala KUA Regol sebagai wali. Bagi saya, ini hal kecil yang bisa kami lakukan, tetapi insya Allah membawa berkah bagi semuanya,” ucapnya.
Muhammad Farhan juga menyampaikan kebahagiaannya karena akhirnya dapat hadir langsung setelah tahun sebelumnya berhalangan. Ia menilai MHABD sebagai komunitas yang istimewa karena mampu mengemas kegiatan sosial dalam suasana yang hangat dan menghibur, tanpa kehilangan nilai substansial.
“Acara ini akrab, hangat, jauh dari formalitas, tetapi tetap penghibur. Lebih dari itu, acara ini menunjukkan komitmen berkelanjutan, bukan sekadar seremonial,” tegasnya.
Ketua Yayasan MHABD, Hj. Selvi Lusiana, SE., MM., CRMO., GRCE., menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Ia menilai keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak.
“Alhamdulillah, semua acara berjalan lancar, tertib, dan aman sesuai harapan. Ini berkat dukungan para donatur, instansi pemerintah, dan masyarakat Kota Bandung,” ujar Selvi Lusiana.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, sekaligus mendoakan agar seluruh kebaikan yang diberikan menjadi amal bernilai pahala.
“Terima kasih atas support-nya. Semoga menjadi amal yang bernilai pahala bagi kita semua, khususnya para donatur,” katanya.
Menjelaskan lebih lanjut, Selvi Lusiana menyebutkan bahwa kegiatan ini melibatkan santunan untuk 1.000 dhuafa serta pelaksanaan tujuh pernikahan disabilitas. Ia menegaskan bahwa Yayasan MHABD berkomitmen melanjutkan program ini secara berkelanjutan.
“Kegiatan ini akan terus berlanjut dan akan terus berinovasi. Kami juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai instansi, organisasi, dan asosiasi lainnya,” ujarnya.
Menjelang Ramadan, ia turut mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik. Menurutnya, kesiapan tersebut menjadi kunci dalam menjalani ibadah dengan optimal.
“Tingkatkan ibadah dan persiapkan kondisi kesehatan, karena kita akan menghadapi bulan Ramadan,” tuturnya.
Ketua Panitia MHABD Tahun ke-37, Dr. Hj. Riva Rahayu, M.Ag., M.Ud., menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini berlangsung dengan lancar dan penuh khidmat. Ia menekankan bahwa pelaksanaan acara di Pendopo Kota Bandung memiliki makna historis dan simbolik.
“Alhamdulillah, hari ini kegiatan terlaksana di Pendopo Kota Bandung. Seribu anak yatim dan dhuafa serta pengantin disabilitas mengikuti kegiatan dengan lancar,” ujar Riva Rahayu.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh donatur, panitia, dan masyarakat yang telah mendukung kegiatan ini selama puluhan tahun. Selain itu, ia menyebutkan bahwa acara tahun ini turut menghadirkan hiburan dari artis legendaris, seperti Bimbo, yang menambah kehangatan suasana.
“Terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung. Harapan ke depan, kegiatan Mimbar Hiburan dan Amal Bagi Dhuafa terus berdampak dan jumlah penerima manfaat terus bertambah setiap tahunnya,” katanya.
Sementara itu, ceramah dan kajian agama disampaikan oleh dr. H. Dadang Rukanta dengan tema “Saum untuk Kesehatan Lahir dan Batin”. Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momentum perbaikan diri secara menyeluruh.
“Allah sudah menyediakan bulan yang harus dimanfaatkan agar jasmani dan rohani kembali bugar. Manfaatkan sebaik-baiknya, terutama bagi kaum dhuafa yang mendapat keutamaan,” ucapnya.
Ia juga memberikan pesan khusus kepada tujuh pasangan pengantin disabilitas yang menikah dalam acara tersebut. Menurutnya, pernikahan merupakan ibadah terpanjang dalam kehidupan manusia.
“Pernikahan adalah ibadah sepanjang hayat. Niatkan dengan ikhlas, maka Allah akan memberikan ketenteraman, mawadah, dan warahmah,” katanya.
Menjelang Ramadan, dr. Dadang turut mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri lahir dan batin. Ia mengaitkan ajakan tersebut dengan tradisi lokal Sunda yang sarat makna spiritual.
“Kita harus bersiap menyambut tamu agung, Ramadan. Ada tradisi beberesih lahir dan batin. Persiapan niat, hati, dan perilaku akan membawa kita pada fitrah manusia yang sehat,” ujarnya.
Tokoh Jawa Barat, H. Dada Rosada, juga memberikan pandangannya mengenai makna Ramadan. Ia menegaskan bahwa Ramadan merupakan bagian integral dari kehidupan umat Islam.
“Ramadan adalah bagian dari keimanan dan ketakwaan kita. Karena itu, kita harus menyambutnya dengan sebaik-baiknya dan mengisinya dengan upaya yang paling baik,” katanya.
Selain itu, para sesepuh dan anggota MHABD, termasuk Hj. Siti Ma’rifah Syambas dan Hj. Attie Ratman, turut menyampaikan harapan agar kegiatan ini terus dilanjutkan oleh generasi penerus. Mereka menilai keberlanjutan program ini sangat penting bagi pembentukan nilai kepedulian sosial.
Pembina MHABD, Adjie Esa Poetra, menutup rangkaian pernyataan dengan mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur dan tamu undangan. Ia berharap kegiatan ini menjadi amal kebaikan bagi semua pihak, khususnya dalam menyambut bulan Ramadan.
“Terima kasih kepada para donatur dan seluruh panti asuhan yang hadir. Semoga ini menjadi amal kebaikan bagi kita semua,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Yayasan MHABD kembali menegaskan perannya sebagai penggerak kepedulian sosial yang konsisten dan berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, serta berbagai lembaga mitra, kegiatan tahunan ini diharapkan terus menjadi mercusuar moral dan kemanusiaan bagi Kota Bandung.
