Jatinangor, Info Burinyay – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong transformasi pendidikan yang lebih dekat dengan alam. Pada Pelantikan Pengurus Majelis Pembimbing Daerah dan Andalan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Barat Masa Bakti 2025–2030, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan arah baru pembinaan generasi muda. Acara berlangsung di Gedung Balairung Rudini, Kampus IPDN Jatinangor, Sumedang, Selasa 9 Desember 2025.
Sejak awal sambutan, Gubernur menekankan bahwa sekolah harus memanfaatkan ruang luar sebagai pusat pembelajaran. Ia menilai alam mampu membentuk karakter yang lebih kuat dibanding ruang kelas. Karena itu, ia mengajak sekolah mengubah cara belajar.
“Sekolah tidak boleh terpaku pada ruang kelas. Anak-anak harus belajar langsung dari alam,” ujar Dedi Mulyadi.
Selanjutnya, ia mengusulkan hari khusus untuk seluruh pelajar berseragam Pramuka. Ia ingin para siswa menjalani kegiatan di luar kelas agar mereka memahami lingkungan.
“Saya ingin anak-anak SD, SMP, SMA, dan SMK memakai Pramuka lalu belajar di luar kelas. Mereka membersihkan sungai, menanam pohon, dan memasak di alam terbuka,” katanya.
Ia menilai banyak anak kehilangan kemampuan dasar seperti memasak sayur asam, membuat sambal, atau menanak nasi. Menurutnya, kebiasaan mengandalkan layanan pesan antar melemahkan kemandirian.
Setelah menyoroti pola pendidikan, Gubernur beralih pada penguatan kegiatan kepramukaan. Ia menilai perkemahan harus hidup kembali. Karena itu, ia mengajak TNI dan Polri mendampingi kegiatan tersebut.
“Perkemahan harus hidup lagi. Saya butuh TNI dan Polri untuk membina baris-berbaris, upacara, dan Paskibra,” ucapnya.
Ia lalu menegaskan rencana melibatkan barak Marinir, TNI AU, dan TNI AD sebagai tempat latihan. Dengan demikian, karakter disiplin dapat tumbuh lebih kuat pada diri siswa.
Ia juga menyinggung dampak positif kolaborasi Pemprov Jabar dan kepolisian terhadap keamanan publik.
“Hari ini angka geng motor turun signifikan. Kasus terakhir di Bandung pun tertangani,” tuturnya. Ia berharap pembinaan Pramuka mampu menjaga penurunan tersebut.
Setelah itu, Gubernur Dedi Mulyadi membahas kondisi lingkungan. Ia meminta seluruh pihak menghijaukan kembali kawasan gunung. Ia juga mendorong solusi permanen bagi ribuan warga bantaran sungai.
“Daripada tiap tahun menangani masalah yang sama, lebih baik kita pindahkan warga. Ada hampir 1.500 rumah yang harus kita selesaikan. Anggaran kita cukup,” tegasnya.
Ia menilai kepindahan tersebut dapat melindungi keselamatan warga sekaligus memulihkan daerah aliran sungai.
Selain itu, Gubernur menjelaskan program penanaman pohon teh pada lahan tidur milik masyarakat. Pemprov Jabar mulai menggerakkan program tersebut menggunakan anggaran provinsi.
“Hari ini kami menanam pohon-pohon teh. Kami menggaji para penanamnya,” jelasnya.
Mulai Januari, setiap pekerja mengelola dua hektare dan menerima gaji rutin. Ia menilai program ini membawa manfaat ekologis dan ekonomi sekaligus.
“Kami ingin menyelamatkan alam sekaligus menambah pendapatan rakyat,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, ia mengapresiasi hasil pertanian masyarakat. Namun ia memberi catatan soal ketergantungan pada tanaman dari budaya Eropa.
“Wortel dan buncis itu tanaman dari Belanda. Masyarakat harus memperkuat pangan lokal,” tuturnya.
Ia menegaskan pentingnya kemandirian agrikultur demi menjaga identitas pangan.
Pada akhir sambutan, Gubernur kembali menegaskan tekadnya. Ia ingin Gerakan Pramuka Jawa Barat menjadi motor pembinaan karakter, pelestarian lingkungan, dan penguatan kemandirian masyarakat. Ia menutup acara dengan ajakan untuk bergerak bersama demi masa depan generasi muda yang lebih kuat, terampil, dan berbudaya.
