Bandung, Info Burinyay – Keluarga Intelektual Muda Partai Golkar (KIM-PG) Jawa Barat menggelar talkshow bertajuk “Ekonomi Jawa Barat” di ruang rapat DPD Partai Golkar Jawa Barat, Kamis (30/10/2025). Acara ini tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga momentum untuk meneguhkan peran generasi muda dalam membangun perekonomian daerah secara nyata.
Talkshow tersebut menampilkan Humar Dhani, S.E., S.H., M.M., M.H., Ketua Ormas Gersuma Nusantara Jawa Barat, sebagai narasumber utama. Rizky P. Handani, S.E., M.M., yang juga inisiator KIM-PG Jawa Barat, memandu jalannya diskusi dengan gaya ringan namun tetap tajam.
Kegiatan ini berlangsung hangat dan terbuka. Rizky Prasetya Handani yang juga mewakili KIM-PG Jawa Barat mengucapkan terimakasih atas izin dan dukungannya terhadap kegiatan diskusi ini dari para pengurus DPD Partai Golkar Jawa Barat, Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Bapak TB Ace Hasan Syadzily, Ketua Harian DPD Partai Golkar Jawa Barat Bapak Daniel Mutaqien, Sekretaris DPD Partai Golkar Jawa Barat Bapak Ir. M.Q. Iswara, Bendahara Umum DPD Partai Golkar Jawa Barat Ibu Ir. Hj. Metty Triantika, serta Ketua KIM-PG Jabar Yosi Wihara.
Acara ini juga turut dihadiro bersama sejumlah tokoh muda serta pegiat sosial ekonomi. Selain itu, publik dapat menyimak jalannya diskusi secara langsung melalui siaran live Instagram di akun @rizkyphandani.
Dalam sambutannya, Rizky Prasetya Handani menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia mengajak pemuda Jawa Barat untuk menyalakan semangat kolaborasi. “Kami ingin forum ini menjadi ruang gagasan. Kita tidak hanya mengulas masalah, tetapi mencari jalan keluar yang konkret untuk ekonomi Jawa Barat,” ujarnya.
Menurut Rizky, peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum tepat untuk memperkuat peran anak muda. “Semangat kolaborasi harus kita hidupkan. Pemuda Jawa Barat mesti berani mengambil bagian dalam perubahan ekonomi, bukan sekadar jadi penonton,” katanya.
Sebagai pembuka diskusi, Humar Dhani langsung menyoroti ketimpangan ekonomi di Jawa Barat. Ia menilai, data pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,2 persen belum mencerminkan kesejahteraan masyarakat. “Kalau benar ekonomi tumbuh, kenapa warung rakyat banyak tutup? Kenapa daya beli menurun?” tanyanya tajam.
Menurutnya, data statistik memang menunjukkan angka positif, tetapi realitas sosial berkata lain. “Masyarakat bawah belum merasakan hasil pertumbuhan. Data boleh naik, tetapi dompet rakyat tetap menipis. Itu fakta,” ungkap mantan anggota DPRD Jawa Barat periode 2009–2014 tersebut.
Ia juga menyinggung peran BUMD yang dinilai belum efektif. “Ada 29 BUMD di Jawa Barat, namun banyak yang belum memberikan kontribusi nyata. BUMD seharusnya menggerakkan ekonomi lokal, bukan sekadar menyerap anggaran,” tegasnya.
Humar Dhani kemudian menyoroti tingginya pengangguran yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Ia menjelaskan bahwa persoalan ini muncul karena tidak adanya koordinasi efektif antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. “Setiap kabupaten berjalan sendiri. Padahal ekonomi daerah seharusnya saling menopang,” jelasnya.
Ia menilai kepemimpinan daerah berperan besar dalam pergerakan ekonomi. “Jika kepala daerah tidak disiplin, jangan harap kebijakan berjalan baik. Banyak kepala dinas yang jarang di kantor. Bagaimana bisa tahu kondisi masyarakat?” kritiknya.
Selain itu, ia menyoroti lemahnya sektor pertanian. “Petani semakin sulit bertahan. Hasil panen tak sebanding dengan ongkos kerja. Banyak petani yang tak sanggup bayar upah karena harga hasil bumi jatuh,” jelasnya.
Menurutnya, pemerintah perlu menata ulang sistem produksi dan distribusi pertanian. “Kita harus berhenti bergantung pada pasokan dari luar daerah. Jawa Barat punya potensi besar, tinggal kemauan politik untuk menggerakkannya,” tambahnya.
Dalam sesi selanjutnya, Humar Dhani menegaskan bahwa Bank Pembangunan Daerah (BPD) atau Bank Jawa Barat harus kembali ke fungsi utamanya. “Bank daerah didirikan untuk membantu rakyat kecil, bukan sekadar mencari laba,” katanya.
Ia menyarankan agar pemerintah provinsi membentuk lembaga pembiayaan baru yang fokus pada ekonomi kerakyatan. “Kita butuh bank daerah khusus untuk usaha mikro dan petani. Jangan biarkan mereka kalah dari pinjaman online,” ujarnya.
Humar Dhani mengingat kembali program kredit pertanian yang pernah berjalan sukses di masa lalu. “Dulu ada program pinjaman pascapanen. Petani bisa membayar setelah panen. Program itu berhasil, tapi berhenti di tengah jalan. Harusnya dilanjutkan,” paparnya.
Menurutnya, ekonomi daerah akan tumbuh bila modal mengalir ke bawah, bukan berhenti di meja birokrasi. “Bila permodalan lancar, rakyat bergerak. Bila rakyat bergerak, ekonomi hidup,” tuturnya.
Humar Dhani menilai, perubahan besar hanya bisa terjadi jika pemimpin daerah berani bertindak tegas dan terbuka terhadap kritik. “Pemimpin yang kuat mampu menggerakkan semua elemen. Tapi kalau hanya beretorika, ekonomi tak akan maju,” ucapnya.
Meski kritis, ia tetap menyampaikan optimisme terhadap pemerintahan Jawa Barat saat ini. “Kita harap kepemimpinan baru bisa menegakkan arah pembangunan yang nyata. Rakyat menunggu tindakan, bukan sekadar janji,” ujarnya.
Sebagai solusi konkret, ia menawarkan kerja sama lintas wilayah. “Jawa Barat harus menjalin kemitraan dengan provinsi lain seperti Jawa Tengah, Banten, hingga Sumatera. Kerja sama antarwilayah akan memperkuat rantai pasok dan menekan biaya logistik,” jelasnya.
Ia mencontohkan koordinasi yang ideal: “Kalau Jawa Tengah menanam bawang, Jawa Barat bisa fokus ke kentang. Kita saling melengkapi, bukan saling bersaing. Sayangnya koordinasi semacam itu belum berjalan,” katanya.
Menjawab pertanyaan moderator tentang peran pemuda, Humar Dhani menyerukan agar generasi muda tidak menunggu kesempatan datang. “Sekarang bukan zamannya menunggu. Anak muda harus menciptakan peluang,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan saat ini belum mampu menyiapkan tenaga siap kerja. “Kita masih mencetak lulusan yang bingung. Mereka punya ijazah, tapi tidak punya arah,” katanya.
Lebih jauh, ia menyoroti ketergantungan pemuda pada media sosial. “Banyak yang sibuk bermain HP karena tak punya kegiatan produktif. Kalau mereka punya kerjaan, pasti tidak sempat scroll TikTok berjam-jam,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk membuka lebih banyak program pelatihan berbasis industri. “Banyak provinsi kekurangan tenaga kerja. Anak-anak Jawa Barat bisa mengisi ruang itu. Tapi harus disiapkan sejak sekarang,” katanya.
Di akhir acara, moderator Rizky Prasetya Handani menyimpulkan bahwa kolaborasi adalah kunci kemajuan ekonomi daerah. “Pemerintah, masyarakat, dan pemuda harus bersatu. Tanpa sinergi, program ekonomi hanya akan jadi wacana,” ujarnya.
Rizky juga menegaskan bahwa KIM-PG Jawa Barat akan terus menjadi ruang diskusi publik yang produktif. “Kami tidak ingin berhenti di forum ini. Kami akan lanjutkan dengan riset dan rekomendasi nyata untuk pemerintah daerah,” tegasnya.
Menurutnya, talkshow seperti ini bisa menjadi jembatan antara akademisi, politisi muda, dan masyarakat. “Kita semua punya tanggung jawab. Karena ekonomi Jawa Barat hanya akan kuat kalau rakyatnya bergerak bersama,” ujarnya menutup acara dengan semangat.
Talkshow “Ekonomi Jawa Barat” mencerminkan semangat baru generasi muda Partai Golkar. Mereka tidak sekadar berbicara politik, tetapi mengusung gagasan ekonomi yang berpihak pada rakyat. Kritik, saran, dan solusi yang lahir dari forum ini menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki sumber daya pemuda yang siap bekerja untuk kemajuan daerahnya.
