24.8 C
Bandung
Rabu, Mar 4, 2026
Info Burinyay
Kegiatan Organisasi

Ibu Jangan Terlalu Keras pada Diri Sendiri! Psikolog Monica Tarigan Bongkar Kunci Keluarga Lebih Bahagia

Rizky Prasetya Handani bersama Psikolog Monica G Tarigan dan Ketua KIM-PG Jabar Yosi Wihara dalam webinar Self Compassion pada Ibu di DPD Partai Golkar Jawa Barat.
Moderator Rizky Prasetya Handani (kiri), Psikolog Monica G. Tarigan (tengah), dan Ketua KIM-PG Jawa Barat Yosi Wihara (kanan) berfoto bersama usai webinar Self Compassion pada Ibu bertema “Ibu Bahagia, Keluarga Lebih Bermakna” di Ruang Data Lantai 1 Gedung DPD Partai Golkar Jawa Barat, Rabu (4/3/2026). - Foto:infoburinyay/rph

Bandung, Info Burinyay — Keluarga Besar KIM-PG Jawa Barat menggelar webinar bertajuk Self Compassion pada Ibu dengan tema “Ibu Bahagia, Keluarga Lebih Bermakna” di Ruang Data Lantai 1 Gedung DPD Partai Golkar Jawa Barat, Rabu (4/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Psikolog Monica G. Tarigan, S.Psi., M.Psi., sebagai narasumber utama dan dipandu oleh Rizky Prasetya Handani, S.E., M.M.

Webinar ini mengangkat isu kesehatan mental ibu yang dinilai semakin relevan di tengah dinamika keluarga modern. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi para ibu agar memahami pentingnya welas asih terhadap diri sendiri atau self-compassion.

Sejak awal acara, moderator Rizky Prasetya Handani menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus DPD Partai Golkar Jawa Barat atas dukungan terhadap kegiatan edukatif tersebut. Ia menyebut dukungan itu menjadi bukti komitmen terhadap penguatan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., Ketua Harian H. Daniel Mutaqien Syafiuddin, S.T., Sekretaris Ir. M.Q. Iswara, Bendahara Umum Ir. Hj. Metty Triantika, M.T., serta Ketua KIM-PG Jawa Barat Yosi Wihara, S.E. atas waktu dan tempat yang telah diberikan,” ujar Rizky saat membuka diskusi.

Selain itu, Rizky menegaskan bahwa tema self-compassion dipilih karena banyak ibu menghadapi tekanan berlapis. Mereka tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga kerap bekerja di luar rumah. Oleh sebab itu, ruang diskusi seperti ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan psikologis.

Dalam pemaparannya, Monica G. Tarigan langsung menyoroti realitas keseharian ibu. Ia menjelaskan bahwa banyak ibu memikul tanggung jawab besar tanpa memberi ruang pada diri sendiri.

“Ibu sering menanggung banyak hal sekaligus. Ia mengurus anak, suami, rumah tangga, bahkan pekerjaan. Namun pertanyaannya, siapa yang mengurus ibu?” kata Monica.

Selanjutnya, ia mengibaratkan ibu seperti burung yang belajar terbang. Ketika badai datang dan ia terjatuh, ia kerap menyalahkan diri sendiri. Padahal, menurut Monica, yang seharusnya disadari adalah adanya faktor eksternal atau ‘badai’ yang memengaruhi.

“Ketika gagal, ibu sering berkata bahwa dirinya tidak cukup baik. Padahal yang terjadi bisa saja situasi yang sulit, bukan ketidakmampuan,” ujarnya.

Lebih jauh, Monica menguraikan tiga komponen utama self-compassion, yakni self-kindness atau kebaikan kepada diri sendiri, common humanity atau kesadaran bahwa seseorang tidak sendirian dalam kesulitan, serta mindfulness atau kesadaran penuh.

Pertama, ia menjelaskan konsep self-kindness sebagai kebalikan dari self-judgment. Banyak ibu, katanya, cenderung keras kepada diri sendiri. Mereka mudah menyalahkan diri ketika anak tidak berprestasi atau ketika terjadi kesalahan dalam rumah tangga.

“Ketika orang lain gagal, kita bisa bersikap lembut. Namun ketika diri sendiri gagal, kita sering memaki diri. Ini pola yang perlu diubah,” jelasnya.

Ia kemudian memberikan contoh sederhana. Saat masakan gosong, ibu bisa memilih untuk berkata, ‘Saya bodoh,’ atau sebaliknya berkata, ‘Hari ini saya kurang fokus, besok saya coba lagi.’ Pilihan respons tersebut, menurutnya, akan ditiru anak.

Dengan demikian, self-compassion tidak hanya berdampak pada ibu, tetapi juga membentuk cara anak memandang kegagalan. Anak akan belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya.

Selanjutnya, Monica membahas common humanity. Ia menekankan bahwa ibu tidak boleh merasa sendirian dalam menghadapi kesulitan. Justru, berbagi pengalaman dengan ibu lain dapat meringankan beban psikologis.

“Ketika ibu berkumpul dan berbagi cerita, mereka merasa lega. Mereka sadar bahwa bukan hanya dirinya yang menghadapi kesulitan,” ujarnya.

Ia mencontohkan pertemuan ibu dengan anak berkebutuhan khusus. Awalnya mereka saling tidak mengenal. Namun setelah berbagi pengalaman, mereka pulang dengan perasaan lebih ringan.

Menurut Monica, kesadaran bahwa banyak orang mengalami hal serupa dapat mencegah ibu terjebak dalam perasaan paling menderita atau paling gagal.

Kemudian, ia menjelaskan aspek mindfulness. Dalam konteks ini, mindfulness berarti hadir penuh dalam setiap aktivitas tanpa berjalan dalam mode autopilot.

Ia mengibaratkan perjalanan yang selalu melalui rute sama. Ketika seseorang mengganti rute, ia akan lebih sadar pada lingkungan sekitar. Prinsip ini, katanya, berlaku dalam kehidupan sehari-hari ibu.

“Ibu sering menjalani rutinitas tanpa sadar. Cuci, masak, antar anak, bekerja, semua berjalan otomatis. Akibatnya, ibu merasa lelah tanpa benar-benar menikmati prosesnya,” kata Monica.

Karena itu, ia mendorong ibu untuk melakukan aktivitas dengan kesadaran penuh. Bahkan mencuci pakaian bisa menjadi momen reflektif. Setelah selesai, ibu dapat mengapresiasi diri atas pencapaian sederhana tersebut.

Selain itu, Monica juga menyoroti fenomena ibu yang merasa bersalah ketika mengambil waktu untuk diri sendiri. Ia menegaskan bahwa menikmati waktu luang bukan bentuk egoisme.

“Ketika ibu mengasihi dirinya, ia justru memancarkan kasih kepada keluarga. Self-compassion bukan berarti abai terhadap tanggung jawab,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, moderator Rizky Prasetya Handani mengajukan pertanyaan tentang batas self-reward agar tidak disalahartikan. Ia menanyakan sejauh mana ibu boleh memberi ruang bagi diri tanpa mengabaikan keluarga.

Monica menjawab bahwa self-compassion tidak berarti meninggalkan kewajiban. Justru, pendekatan ini membantu ibu tetap produktif dan sehat secara mental.

“Self-compassion meningkatkan kapasitas untuk menjalankan peran. Ini bukan pembenaran untuk lalai,” tegasnya.

Lebih lanjut, diskusi berkembang pada situasi konkret, seperti ketika anak tantrum di ruang publik. Monica menjelaskan bahwa ibu perlu mengenali emosi diri sebelum merespons anak.

“Akui dulu perasaan malu atau marah yang muncul. Setelah itu, bantu anak mengenali emosinya. Anak kecil belum mampu meregulasi emosi,” katanya.

Menurutnya, ibu boleh merasa kesal, tetapi tetap perlu mengelola respons. Dengan begitu, anak belajar cara sehat menghadapi emosi.

Di sisi lain, Monica menekankan bahwa anak tidak membutuhkan ibu sempurna. Mereka membutuhkan ibu yang hadir dan mau belajar.

“Ibu yang mengakui kesalahan dan mencoba lagi justru memberi teladan kuat. Anak belajar bahwa kegagalan bagian dari proses,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya apresiasi terukur terhadap peran ibu rumah tangga. Tidak ada kenaikan gaji atau bonus. Karena itu, ibu perlu memberi penghargaan pada diri sendiri.

Tanpa apresiasi diri, ibu berisiko mengalami kelelahan emosional atau burnout. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi suasana rumah.

Monica kemudian mengaitkan tema besar webinar dengan kehidupan keluarga. Menurutnya, ibu menjadi pusat atmosfer rumah.

“Ketika ibu bahagia, rumah terasa hangat. Namun ketika ibu tertekan, suasana ikut berubah,” jelasnya.

Karena itu, konsep ‘Ibu Bahagia, Keluarga Lebih Bermakna’ lahir dari pemahaman bahwa kesejahteraan emosional ibu memengaruhi kualitas relasi dalam keluarga.

Menutup sesi diskusi, Rizky berharap materi ini dapat menjadi bekal bagi ibu, khususnya ibu muda. Ia juga mengajak para suami memahami tekanan yang dihadapi pasangan.

“Keluarga adalah lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Karena itu, orang tua perlu memberi contoh yang sehat,” katanya.

Acara kemudian ditutup dengan harapan agar diskusi serupa dapat terus berlanjut. Para peserta menyambut positif webinar ini karena dinilai relevan dengan tantangan keseharian.

Dengan demikian, webinar Self Compassion pada Ibu tidak hanya menjadi forum diskusi psikologi, tetapi juga menjadi ajakan reflektif bagi keluarga Indonesia. Pesan utama yang mengemuka ialah pentingnya ibu menghargai diri tanpa rasa bersalah.

Pada akhirnya, keseimbangan antara tanggung jawab dan welas asih pada diri menjadi kunci. Ketika ibu mampu menerima keterbatasan sekaligus terus belajar, keluarga pun tumbuh dalam suasana yang lebih hangat dan bermakna.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.