25.1 C
Bandung
Rabu, Feb 11, 2026
Info Burinyay
Kota BandungPemerintahan

Farhan Pastikan Tradisi 37 Tahun Tak Terhenti, Pendopo Bandung Jadi Simbol Kepedulian

Wali Kota Bandung H. Muhammad Farhan, SE., memberikan keterangan kepada awak media usai menghadiri kegiatan Berbagi bersama 1.000 Anak Panti Asuhan dan Dhuafa di Pendopo Kota Bandung.
Wali Kota Bandung H. Muhammad Farhan, SE., menyampaikan komitmennya menjaga tradisi berbagi 37 tahun bersama Yayasan MHABD saat menghadiri kegiatan Berbagi bersama 1.000 Anak Panti Asuhan dan Dhuafa di Pendopo Kota Bandung, Rabu (11/2/2026). - Foto:InfoBurinyay/Denjaya

Bandung, Info Burinyay — Wali Kota Bandung H. Muhammad Farhan, SE., menegaskan komitmennya untuk menjaga tradisi berbagi yang telah berlangsung selama 37 tahun di Pendopo Kota Bandung. Hal itu ia sampaikan usai menghadiri kegiatan “Berbagi bersama 1.000 Anak-Anak Panti Asuhan dan Dhuafa” yang digelar Yayasan MHABD (Mimbar Hiburan Amal Bagi Dhuafa), Rabu, 11 Februari 2026.

Farhan menyebut tradisi tersebut sebagai warisan moral yang tidak boleh terputus. Menurutnya, konsistensi selama hampir empat dekade menjadi bukti kuat bahwa solidaritas sosial di Kota Bandung terus hidup.

“Pada hari ini kita melanjutkan tradisi yang luar biasa. Kita tentu berharap tradisi ini jangan sampai pernah berhenti. Konsistensi yang telah terjaga selama 37 tahun ini akan selalu kita jaga,” ujar Farhan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yayasan dan panitia. Menurutnya, kerja keras panitia menjadi kunci keberlangsungan acara tahunan tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota yayasan dan Ketua Panitia yang sudah bekerja keras. Manfaatnya sangat banyak, insya Allah,” katanya.

Selain itu, Farhan menekankan bahwa tradisi berbagi ini harus tetap hadir setiap tahun di Pendopo Kota Bandung. Ia menilai lokasi tersebut memiliki makna simbolik sebagai ruang kebersamaan warga.

“Tradisinya harus selalu ada di Pendopo Kota Bandung. Setiap tahun harus ada program yang memberi manfaat bagi anak yatim dan kaum dhuafa,” tegasnya.

Lebih lanjut, Farhan mengaku terharu dengan momen pernikahan dua warga tuna netra dalam rangkaian kegiatan tersebut. Kedua mempelai merupakan warga Kota Bandung dan menikah dengan pendampingan Kepala KUA Regol yang sekaligus bertindak sebagai wali.

“Yang membuat saya terharu adalah dua saudara kita ini, tuna netra dua-duanya, warga Kota Bandung, yang menikah dengan dibantu Kepala KUA dari Regol yang juga menjadi wali. Buat saya ini hal terkecil yang bisa kami lakukan. Apalagi saya bersama-sama menjadi saksi. Insya Allah berkah buat semuanya,” ungkapnya.

Sementara itu, Farhan mengaku bahagia akhirnya dapat menghadiri langsung acara tersebut. Tahun sebelumnya, ia tidak dapat hadir karena sedang mengikuti kegiatan di luar kota.

“Saya merasa sangat bahagia karena acara ini sudah menjadi tradisi 37 kali berturut-turut sejak tahun 90. Tahun lalu saya tidak hadir karena sedang retret di Magelang. Namun sekarang saya bisa hadir langsung,” jelasnya.

Di sisi lain, ia menilai MHABD sebagai komunitas yang istimewa. Kegiatan dikemas dalam suasana akrab dan hangat, tanpa meninggalkan nilai hiburan serta kepedulian sosial.

“Acara ini jauh dari formalitas, tetapi tetap menghibur. Yang terpenting, komitmennya jelas dan berkelanjutan. Tidak boleh sekadar ramai sesaat,” katanya.

Sebagai penutup, Farhan menyebut anak yatim dan kaum dhuafa sebagai mercusuar moral bagi Kota Bandung. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga tradisi berbagi sebagai bagian dari identitas kota.

“Anak yatim dan kaum dhuafa bagi Kota Bandung adalah mercusuar moral kita semuanya,” pungkasnya.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.