Yogyakarta, Info Burinyay – Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2025 menghasilkan keputusan penting bagi organisasi. Melalui forum yang berlangsung di Aula PWI DIY pada Selasa, 18 November, Drs. H. Hudono, S.H., kembali meraih kepercayaan anggota untuk memimpin PWI DIY selama lima tahun mendatang. Suasana konferensi bergerak cepat. Selain itu, alur pemilihan berjalan tertib sejak proses awal.
Hudono tampil unggul setelah mengumpulkan 58 suara dari total 84 suara sah. Sementara itu, pesaingnya, Wisnu Wardhana, hanya mampu memperoleh 26 suara. Panitia mencatat ada 91 pemilik hak suara yang hadir sejak registrasi. Namun, tujuh anggota memilih meninggalkan lokasi sebelum proses pemungutan dimulai. Meskipun demikian, jumlah suara sah tetap memenuhi syarat forum.
Setelah penghitungan selesai, Hudono berdiri dan menyampaikan ucapan terima kasih. Ia menyampaikan rasa syukur atas amanah yang kembali diberikan oleh anggota. Ia menegaskan komitmen untuk merangkul seluruh pihak. Karena itu, ia ingin organisasi berjalan inklusif tanpa memandang pilihan politik internal. Menurutnya, PWI DIY harus menjadi ruang bertukar gagasan, bukan sekadar wadah formal.
Hudono juga menjelaskan langkah awal setelah terpilih. Selama sebulan ke depan, ia dan tim formatur akan menyusun struktur kepengurusan. Ia memimpin tim tersebut, sementara Anton Wahyu Prihartono, M.I.Kom., bertugas sebagai sekretaris merangkap Ketua Dewan Kehormatan Provinsi DIY periode 2025–2030. Tim formatur juga diperkuat oleh tiga anggota, yaitu Drs. Swasto Dayanto, Primaswolo Sudjono, S.Pt., dan Kusno Setiyo Utomo, S.H., M.H. Mereka akan merumuskan komposisi pengurus agar lebih responsif terhadap kebutuhan organisasi.
Dalam pidatonya, Hudono menekankan fokus utama pada peningkatan profesionalisme wartawan. Ia menyebut Uji Kompetensi Wartawan sebagai program prioritas. Ia mengungkapkan optimismenya karena PWI Pusat kini berada dalam posisi solid. Ia menilai konsolidasi pusat memberikan dampak langsung terhadap pelaksanaan UKW di daerah. Karena itu, ia ingin menggelar UKW lebih teratur dan lebih terukur.
Selanjutnya, ia menyoroti pentingnya pemahaman media sosial bagi wartawan. Ia menjelaskan bahwa jurnalis perlu menguasai etika digital. Ia mengingatkan bahwa batas antara konten jurnalistik dan konten pribadi di media sosial semakin tipis. Karena itu, ia menilai pentingnya edukasi agar wartawan dapat menempatkan diri dengan tepat. Selain itu, ia ingin pelatihan tersebut menghasilkan pemahaman yang lebih kuat tentang tanggung jawab profesi.
Sementara itu, perwakilan PWI Pusat memberi apresiasi terhadap jalannya konferensi. Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat, Zulkifli Gani Ottoh, hadir bersama Kabid Pembinaan Daerah, Mirza Zulhadi. Keduanya mengikuti rangkaian kegiatan sejak pembukaan. Setelah proses pemilihan selesai, Zulkifli berdiri dan menyampaikan pandangannya. Ia mengucapkan selamat kepada Hudono atas kemenangan tersebut. Selain itu, ia berterima kasih kepada Wisnu Wardhana yang berani maju dalam kontestasi.
Zulkifli menilai Konferprov PWI DIY berjalan sangat efektif. Ia mengaku belum pernah melihat proses pemilihan berlangsung secepat itu selama dua periode dirinya menjabat sebagai Kabid Organisasi PWI Pusat. Ia menyampaikan hal itu sambil menekankan bahwa panitia berhasil menyusun alur dengan efisien. Ia melihat peserta mengikuti jalannya forum dari awal hingga akhir dengan antusias.
Ia juga menyoroti kualitas demokrasi di dalam forum. Ia mengatakan bahwa seluruh peserta memperoleh kesempatan menyampaikan pandangan. Menurutnya, dinamika itu mencerminkan kedewasaan berorganisasi. Ia berharap kepengurusan baru mampu mempertahankan suasana konstruktif tersebut. Karena itu, ia menekankan pentingnya komunikasi internal yang terbuka.
Dalam kesempatan yang sama, Mirza Zulhadi menilai modal sosial PWI DIY cukup kuat. Ia melihat angka kehadiran yang tinggi menunjukkan komitmen anggota terhadap organisasi. Ia berharap kepengurusan baru dapat memanfaatkan momentum tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa industri media bergerak cepat. Karena itu, organisasi perlu menyiapkan strategi pembinaan yang adaptif.
Forum tersebut tidak hanya menghasilkan ketua baru. Forum itu juga memperlihatkan semangat kolektif dalam memperbaiki organisasi. Banyak anggota yang menyampaikan harapan agar PWI DIY lebih aktif menjawab tantangan digital. Mereka ingin organisasi membuka ruang belajar yang lebih luas. Misalnya, melalui kelas literasi, forum penulisan, serta pelatihan hukum pers. Karena itu, anggota berharap program pengurus baru lebih menyentuh kebutuhan teknis sehari-hari.
Hudono menanggapi aspirasi tersebut dengan positif. Ia menyatakan siap membuka ruang kolaborasi. Ia ingin setiap anggota terlibat dalam proses penyusunan program. Ia menilai pendekatan partisipatif lebih efektif karena melahirkan rasa memiliki. Ia juga berharap cara itu dapat menjaga suasana harmonis di internal organisasi.
Setelah konferensi selesai, panitia menutup kegiatan dengan evaluasi singkat. Mereka mencatat beberapa poin positif yang muncul selama proses berlangsung. Mereka juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta. Setelah itu, para anggota meninggalkan aula dengan suasana kondusif.
Dengan berakhirnya Konferprov 2025, PWI DIY memulai periode baru. Tantangan digital berada di depan mata. Karena itu, organisasi menempatkan penguatan kompetensi sebagai langkah awal. Selain itu, sinergi dengan PWI Pusat menjadi kunci agar arah kebijakan tetap sejalan. Melalui kepemimpinan Hudono, anggota berharap organisasi bergerak lebih progresif.
