26.6 C
Bandung
Kamis, Feb 26, 2026
Info Burinyay
Parlementer

Anggaran MBG Dipertanyakan! Dadang Naser Desak Audit Nasional SPPG Usai Makanan Dikeluhkan Warga

Dr. H. Dadang M. Naser memberikan keterangan pers saat reses di SMK Pasundan Rancaekek, Kabupaten Bandung, membahas evaluasi program MBG dan SPPG.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. H. Dadang M. Naser, S.H., S.I.P., M.I.Pol., menyampaikan pernyataan kepada awak media usai kegiatan reses bertema “Bela Warga Sabililungan Nngaheuyeuk Dayeuh Ngolah Nagara” di SMK Pasundan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Kamis (26/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti kualitas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), dugaan potongan anggaran, serta mendorong evaluasi nasional terhadap SPPG demi menjaga mutu gizi dan mencegah stunting. - Foto:infoburinyay/dj

Rancaekek, Info Burinyay – Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dr. H. Dadang M. Naser, S.H., S.I.P., M.I.Pol., menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belakangan menjadi perhatian publik. Ia menyampaikan pernyataan itu saat menggelar reses bertema “Bela Warga Sabililungan Nngaheuyeuk Dayeuh Ngolah Nagara” di SMK Pasundan Rancaekek, Jalan Babakan Radio No. 1, Desa Rancaekek Wetan, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Kamis, 26 Februari 2026.

Dalam forum tersebut, Dadang memaparkan dinamika yang berkembang di masyarakat terkait kualitas makanan MBG. Ia menilai pemerintah sudah menetapkan anggaran Rp15.000 per porsi, dengan rincian Rp10.000 untuk bahan makanan dan Rp5.000 untuk operasional. Namun, ia menegaskan bahwa pelaksana di lapangan harus menjaga kualitas sesuai alokasi tersebut.

“Yang menjadi pertanyaan, Rp10.000 itu ke mana larinya? Jangan sampai di hitungan masyarakat hanya terlihat Rp5.000 per porsi. Ini harus menjadi evaluasi nasional,” ujar Dadang di hadapan peserta reses.

Ia kemudian mencontohkan sejumlah laporan masyarakat tentang menu yang dianggap belum memenuhi ekspektasi. Beberapa warga menemukan sajian yang hanya berisi tiga butir kurma dan telur puyuh. Selain itu, warga juga mengeluhkan buah yang dipotong kecil serta pisang mentah yang tetap tersaji.

Karena itu, Dadang meminta pengelola SPPG memperbaiki pola pengadaan bahan, pengolahan, dan distribusi makanan. Ia menekankan bahwa MBG merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto yang bertujuan menekan angka stunting dan meningkatkan kecerdasan anak.

“Tujuan program ini jelas, mencegah stunting dan meningkatkan IQ. Maka pengelola harus memastikan unsur protein hewani, nabati, dan vitamin dari buah benar-benar terpenuhi dalam setiap porsi,” katanya.

Selain menyoroti kualitas gizi, Dadang juga menyinggung dugaan potongan anggaran di tingkat pelaksana. Ia mengaku menerima informasi tentang kemungkinan setoran atau pungutan tertentu yang memengaruhi komposisi makanan.

“Kalau ada potongan Rp1.000 atau Rp500 untuk setoran tertentu, praktik seperti itu harus dihentikan. Jangan sampai gagasan besar Presiden terganggu oleh masalah teknis di bawah,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pengelola agar menyesuaikan pola masak dan distribusi selama bulan Ramadhan. Menurutnya, fleksibilitas teknis perlu dilakukan tanpa mengurangi nilai gizi dan kualitas bahan.

Di sisi lain, Dadang juga merespons isu keracunan makanan yang sempat ramai. Ia meminta pengelola meningkatkan pengawasan mutu bahan baku dan kebersihan dapur. Ia menilai pengelola harus membangun sistem kontrol internal yang ketat agar kasus serupa tidak terulang.

Selain membahas MBG, Dadang menyerap aspirasi warga tentang dana desa. Ia memastikan kader Partai Golkar akan menampung seluruh masukan melalui rumah aspirasi, lalu membahasnya di tingkat fraksi DPR RI.

“Kami akan menggodok semua aspirasi di fraksi dan mencari solusi terbaik demi kemakmuran masyarakat, termasuk di Kabupaten Bandung,” ujarnya.

Kemudian, warga juga menyampaikan persoalan persampahan dan belum optimalnya pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA). Dadang mendorong pemerintah daerah mempercepat penyelesaian masalah tersebut melalui koordinasi lintas sektor dan penguatan manajemen pengelolaan sampah.

Sementara itu, terkait ketersediaan bahan pangan, ia menyebut pasokan relatif aman meski harga beberapa komoditas naik menjelang Ramadhan. Ia mencatat harga daging sapi telah menembus Rp140.000 per kilogram dari kisaran Rp120.000. Harga telur ayam naik dari Rp30.000 menjadi Rp36.000 per kilogram. Daging ayam bergerak dari Rp35.000 ke Rp40.000 per kilogram. Cabai rawit bahkan sempat mencapai Rp120.000 per kilogram.

“Oleh karena itu, pemerintah harus terus menggelar operasi pasar. Pasar murah bisa menekan harga agar tidak melonjak terlalu tinggi,” katanya.

Selanjutnya, ia mengajak masyarakat memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui program penanaman di pekarangan. Ia menilai warga dapat menanam cabai dan tomat di pot sebagai langkah konkret menghadapi fluktuasi harga.

“Kalau cabai mahal, tanam sendiri di pot. Gerakan ini bisa membantu keluarga mengendalikan pengeluaran sekaligus menekan inflasi dari sisi rumah tangga,” ujarnya.

Menutup kegiatan reses, Dadang mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk politisi dan pelaksana program, menjaga integritas dalam mengelola anggaran negara. Ia menekankan bahwa setiap kebijakan publik harus berpihak kepada rakyat dan berjalan secara transparan.

Dengan dorongan evaluasi menyeluruh serta pengawasan yang konsisten, ia berharap program MBG benar-benar meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia dan memperkuat kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.