25 C
Bandung
Jumat, Mar 6, 2026
Info Burinyay
Pemerintahan Desa

Desa Cikoneng Gaspol Peternakan Domba Pedaging Lewat Dana Desa 2025

Ketua BUMDes Cikoneng Bersatu Aripin Samsudin memantau pemberian pakan domba pedaging di kandang koloni RW 06 Kampung Kebon Koneng Desa Cikoneng Pasirjambu
Ketua BUMDes Cikoneng Bersatu, Aripin Samsudin, meninjau langsung aktivitas pemberian pakan domba pedaging di kandang sistem koloni RW 06 Kampung Kebon Koneng, Desa Cikoneng, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, sebagai bagian dari program ketahanan pangan desa yang didanai Dana Desa Tahun 2025. (Foto:InfoBurinyay/Lee)

Pasirjambu, Info Burinyay – Pemerintah Desa Cikoneng, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, memperkuat ketahanan pangan desa dengan mengembangkan sektor peternakan domba pedaging. Melalui Anggaran Dana Desa Tahun 2025, pemerintah desa mengalokasikan anggaran sebesar Rp200 juta untuk mendukung program tersebut. Pemerintah desa menugaskan Badan Usaha Milik Desa Cikoneng Bersatu sebagai pengelola utama program.

Langkah ini menandai komitmen desa dalam membangun kemandirian ekonomi warga. Selain itu, pemerintah desa menilai sektor peternakan memiliki potensi jangka panjang. Oleh karena itu, desa memilih peternakan domba pedaging sebagai program prioritas ketahanan pangan.

Saat ini, BUMDes Cikoneng Bersatu mengelola 30 ekor domba betina dan dua ekor domba pejantan. Seluruh ternak tersebut menempati kandang sistem koloni yang berada di RW 06 Kampung Kebon Koneng, Desa Cikoneng. Pemerintah desa menyiapkan lokasi tersebut sebagai pusat pengelolaan ternak desa.

Untuk memastikan kesiapan program, Kepala Desa Cikoneng, H. Isan Nurjaman Sulaeman, menggelar pertemuan bersama warga yang terlibat sebagai pengelola ternak. Setelah sesi diskusi, rombongan langsung meninjau lokasi kandang. Ketua BUMDes Cikoneng Bersatu, Aripin Samsudin, memimpin langsung peninjauan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Kepala Desa Cikoneng menjelaskan arah kebijakan penggunaan Dana Desa Tahun 2025. Ia menegaskan bahwa pemerintah desa memprioritaskan ketahanan pangan berbasis BUMDes.

“Dana Desa tahun 2025 kami arahkan untuk ketahanan pangan melalui BUMDes. Kami memilih peternakan domba sebagai fokus utama,” kata H. Isan Nurjaman Sulaeman.

Ia menambahkan bahwa pemerintah desa mengubah pola pengelolaan bantuan ternak. Jika sebelumnya desa menyerahkan ternak langsung kepada petani, kini desa menerapkan sistem koloni dengan kandang terpusat.

“Kami memfasilitasi kandang dan menerapkan sistem koloni. Cara ini lebih aman dan lebih terkontrol,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman program sebelumnya menunjukkan berbagai kendala. Ia menyebut adanya laporan kematian ternak dan kehilangan domba ketika warga mengelola ternak secara perorangan.

“Dengan sistem koloni, kami bisa menghindari risiko seperti itu,” jelasnya.

Kepala desa juga menegaskan bahwa lokasi kandang memang berada di RW 06 Kampung Kebon Koneng. Namun, pemerintah desa membuka kesempatan bagi seluruh warga Desa Cikoneng untuk ikut serta dalam program tersebut.

“Kami tidak membatasi peserta hanya dari RW 06. Semua warga desa boleh ikut selama berminat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa BUMDes menitipkan domba kepada warga yang bersedia merawat. Skema tersebut memungkinkan warga dari berbagai wilayah desa ikut berpartisipasi.

Untuk mendukung keberlanjutan, pemerintah desa membangun kandang dengan fasilitas lengkap dan sistem keamanan yang memadai. Pemerintah desa merancang kandang tersebut agar mampu menampung pengembangan populasi ternak di masa depan.

“Fasilitas ini kami siapkan agar program bisa berkelanjutan. Kami berharap jumlah domba terus bertambah setiap tahun,” ujarnya.

Terkait sistem kerja sama, H. Isan menjelaskan bahwa BUMDes menerapkan sistem bagi hasil atau ngagaduh. Skema tersebut sudah dikenal luas oleh masyarakat desa.

“Kami tidak merugikan peternak. Mereka tetap mendapat upah dan bagian keuntungan,” jelasnya.

Ia memberi contoh mekanisme bagi hasil. Jika harga beli domba Rp1,5 juta lalu dijual Rp2,5 juta, maka keuntungan dibagi sesuai kesepakatan.

Ketua BUMDes Cikoneng Bersatu, Aripin Samsudin, memastikan bahwa program berjalan sesuai rencana. Ia menyebut para peternak aktif merawat ternak setiap hari.

“Alhamdulillah, progresnya baik dan lancar. Sekarang ada sekitar tujuh orang yang memelihara domba,” ujar Aripin.

Ia menjelaskan bahwa BUMDes telah menyiapkan kandang dengan ukuran dan kapasitas yang cukup. Selain itu, BUMDes juga memperhatikan aspek keamanan.

“Kandangnya cukup memadai dan aman. Pintu gerbang juga sudah bagus,” katanya.

Terkait anggaran, Aripin menyebut bahwa program ini bersumber dari alokasi 20 persen Dana Desa untuk ketahanan pangan. Dari jumlah tersebut, BUMDes menggunakan sekitar 50 persen untuk pembangunan kandang.

“Dana Desa kami gunakan sesuai peruntukan. Sekitar separuhnya untuk kandang,” jelasnya.

Aripin menegaskan bahwa sistem bagi hasil tetap menjadi dasar kerja sama dengan peternak. Biasanya, peternak dan BUMDes membagi hasil anakan secara seimbang.

“Kalau domba beranak dua, satu untuk pengurus dan satu untuk BUMDes,” katanya.

Sementara itu, Bhabinkamtibmas Desa Cikoneng, Bripka Ridwan Hidayat, memastikan situasi keamanan desa tetap kondusif. Ia menyebut tidak ada gangguan keamanan yang menonjol di wilayah tersebut.

“Kondisi keamanan Desa Cikoneng aman dan terkendali,” ujarnya.

Ia juga menilai sistem keamanan kandang cukup kuat. Menurutnya, fasilitas tersebut mampu mencegah potensi gangguan.

“Keamanan kandang sangat aman. Risiko kejadian yang tidak diinginkan bisa ditekan,” katanya.

Bripka Ridwan menambahkan bahwa sinergi tiga pilar desa berjalan efektif. Pemerintah desa, kepolisian, dan unsur terkait terus berkoordinasi.

“Sinergi tiga pilar berjalan baik dan efektif,” ujarnya.

Dari sisi warga, program ini mendapat respons positif. Dedi dan Jajang, warga RW 06 Kampung Kebon Koneng, mengaku tertarik mengikuti program karena memiliki minat beternak.

“Saya hobi beternak, jadi saya tertarik ikut,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa sistem bagi hasil memberikan keuntungan yang jelas. Selain anakan, peternak juga memperoleh bagian dari kenaikan harga indukan.

“Kalau beranak dua, saya dapat satu. Sisanya untuk BUMDes,” ujarnya.

Ia berharap program ini terus berkembang dan jumlah ternak meningkat setiap tahun.

“Harapannya, dari dua ekor bisa jadi empat ekor atau lebih,” katanya.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.