Rancaekek, Info Burinyay – Kecamatan Rancaekek menyelenggarakan Sosialisasi Pencegahan dan Penurunan Tuberkulosis (TBC) Paru Tahun 2025 pada Rabu, 19 November 2025 di Aula Kantor Kecamatan Rancaekek. Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 itu menarik perhatian berbagai unsur sehingga suasana forum berjalan hidup dan interaktif.
Sekitar 50 peserta hadir, termasuk Camat Rancaekek Ir. H. Diar Hadi Gusdinar, M.Si, Kanit IK Polsek Rancaekek Iptu Dede Sopandi, serta Kasi Pemberdayaan Masyarakat Jajang Wahyudin. Selain itu, para Kepala Puskesmas Rancaekek, Linggar, dan Nanjungmekar ikut mendampingi jalannya kegiatan. Kepala desa, lurah, ketua PKK, dan kader Posyandu pun turut memperkuat proses diskusi sehingga alur penyampaian materi lebih komprehensif.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman masyarakat tentang TBC. Panitia menghadirkan narasumber Febriana A.Md.Kep yang menjelaskan penyebab, gejala, penularan, hingga alur pengobatan. Ia juga menegaskan pentingnya pemeriksaan dini ketika masyarakat mengalami batuk lebih dari dua minggu. Melalui edukasi langsung, peserta mulai memahami bahaya keterlambatan diagnosa yang sering muncul akibat rendahnya kesadaran masyarakat.
Untuk mempercepat pemutusan penularan, para peserta mendorong warga agar berani memeriksakan diri ke puskesmas. Selain itu, forum juga menekankan pentingnya kepatuhan pasien terhadap pengobatan TBC yang memerlukan waktu enam hingga dua belas bulan. Setiap pasien memerlukan pendampingan keluarga, sehingga edukasi lintas sektor menjadi penting untuk menjaga konsistensi pengobatan.
Camat Rancaekek Ir. H. Diar Hadi Gusdinar, M.Si memberikan arahan langsung. Ia membuka kegiatan dengan penekanan kuat mengenai tanggung jawab pemerintah kecamatan dalam program nasional.
“Hari ini kita berkolaborasi untuk menurunkan angka TBC melalui sosialisasi yang melibatkan banyak unsur, mulai dari kepolisian, TNI, puskesmas, PKK, hingga lembaga masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa program eliminasi TBC merupakan amanat nasional yang membutuhkan percepatan.
“Target nasional menurunkan angka TBC menjadi 65 per 100 ribu penduduk. Kecamatan harus bergerak bersama agar target ini tercapai,” jelasnya.
Melalui dorongan tersebut, para peserta semakin memahami urgensi kerja kolektif dalam penanganan TBC di Rancaekek.
Ia juga mengajak tenaga kesehatan dan aparat wilayah memperkuat deteksi dini.
“Kami berharap setiap tenaga kesehatan aktif mengedukasi masyarakat. Jika ada warga dengan gejala, segera arahkan untuk berobat dan menjalani pemeriksaan. Pendidikan kesehatan menjadi langkah penting untuk menjaga komitmen masyarakat,” tegasnya.
Ajakan tersebut memperkuat semangat peserta untuk membangun jejaring penanganan TBC yang lebih solid.
Kegiatan berlangsung kondusif. Seluruh peserta menyampaikan respons positif karena materi yang disampaikan sesuai kebutuhan lapangan. Melalui forum ini, pemerintah kecamatan ingin membangun gerakan bersama yang fokus pada percepatan eliminasi TBC. Dengan meningkatnya pemahaman dan partisipasi masyarakat, Kecamatan Rancaekek berharap angka TBC menurun signifikan pada tahun 2025.
