Bandung, Info Burinyay – Eet Latifah, S.Ap., M.Si., mewakili Kecamatan Paseh, mengikuti Diklat Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) di Pusdikmin Lemdiklat Polri. Kegiatan berlangsung pada Rabu, 29 Oktober 2025. Panitia mencatat 44 peserta hadir dari berbagai daerah. Selain itu, panitia melaporkan 40 peserta berasal dari Kabupaten Tasikmalaya dan empat peserta dari Kabupaten Bandung.
“Kami datang untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan dan memberikan pelayanan publik lebih baik,” kata Eet Latifah usai pembukaan. Ia menegaskan niatnya untuk menerapkan ilmu yang ia dapat pada tugas sehari-hari.
Pusdikmin Lemdiklat Polri merancang program ini sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas ASN. Program angkatan VII tahun 2025 menitikberatkan pada kepemimpinan praktis, manajemen organisasi, dan pengambilan keputusan strategis. Para fasilitator memandu peserta melalui sesi teori dan praktik. Mereka mengajak peserta diskusi kasus, melakukan simulasi, dan menyusun rencana aksi.
Panitia menyusun modul sehingga peserta langsung berlatih menerapkan konsep dalam situasi nyata. Selain itu, setiap sesi mengandung latihan komunikasi, pemecahan masalah, dan perumusan kebijakan. Fasilitator menilai pendekatan ini efektif untuk mempercepat penguasaan keterampilan.
Selama kegiatan, peserta saling bertukar pengalaman dari zona kerja masing-masing. Pertukaran ini membantu peserta menemukan solusi praktis untuk masalah birokrasi lokal. Eet Latifah menyebutkan ia mendapat gagasan inovasi pelayanan dari diskusi kelompok.
“Kegiatan ini membuka jaringan yang luas dan memberi banyak inspirasi,” ujar Eet Latifah. Ia menambahkan bahwa ia akan mereplikasi beberapa praktik baik ketika kembali ke Kecamatan Paseh.
Penyelenggara berharap pelatihan ini melahirkan pemimpin yang adaptif dan berintegritas. Mereka menargetkan peserta mampu memimpin perubahan dan meningkatkan efisiensi layanan publik. Untuk itu, program memasukkan latihan pengelolaan perubahan dan strategi komunikasi publik.
Para instruktur memantau progres peserta melalui tugas kelompok dan presentasi. Mereka memberi umpan balik langsung untuk memperbaiki pendekatan peserta. Dengan demikian, peserta memperoleh koreksi praktis yang mendukung perbaikan kinerja.
Pelatihan ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antardaerah. Panitia mendorong peserta membangun jejaring yang berkelanjutan. Jejaring ini diharapkan mendukung pertukaran data, metode, dan sumber daya antar instansi.
Setelah menyelesaikan diklat, peserta menerima sertifikat sebagai bukti kelulusan. Sertifikat ini menjadi modal untuk pengembangan karier dan penguatan kredibilitas profesional. Eet Latifah menyatakan, “Saya akan menggunakan sertifikat ini untuk mendukung inisiatif reformasi birokrasi di daerah saya.”
Instruktur yang berpengalaman memandu seluruh materi. Mereka mengombinasikan teori kepemimpinan modern dengan praktik pelayanan publik. Selain itu, mereka menekankan etika, integritas, dan keteladanan dalam kepemimpinan.
Panitia meminta peserta menerapkan minimal satu inisiatif per peserta dalam enam bulan setelah pulang. Mereka juga menyediakan kanal komunikasi untuk follow-up dan mentoring. Dengan dukungan ini, panitia berharap perubahan nyata muncul di tingkat layanan publik.
Diklat ini memperkuat tujuan jangka panjang: mencetak pemimpin yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan era modern. Dalam jangka pendek, peserta memperoleh keterampilan yang langsung relevan dengan tugas administratif. Dalam jangka panjang, pelatihan ini berpotensi meningkatkan kualitas tata kelola publik.
Eet Latifah menutup pernyataannya dengan komitmen kuat. “Saya bertekad mengimplementasikan pembelajaran ini dan menjadi agen perubahan di lingkungan kerja saya,” ujarnya.
