Kamis, Feb 12, 2026
Info Burinyay
PeristiwaSeni Budaya

Tafsir Berani Kapai-Kapai di ISBI Bandung: Dekonstruksi Minimalis Bongkar Makna Arifin C. Noer

Adegan pertunjukan “Dekonstruksi Minimalis KAPAI-KAPAI” karya Arifin C. Noer di Gedung Sunan Ambu ISBI Bandung, menampilkan aktor dengan unsur teater tradisi dan properti simbolik di atas panggung.
Salah satu adegan dalam pementasan “Dekonstruksi Minimalis KAPAI-KAPAI” di ISBI Bandung, Rabu (11/02/2026). Pertunjukan garapan Fathul A. Husein ini memadukan tafsir dekonstruksi dengan unsur seni tradisi seperti sintren dan simbol “Cermin Tipu Daya” sebagai representasi harapan dalam refleksi sosial kontemporer. - Foto:InfoBurinyay/yk

Bandung, Info Burinyay – Lakon legendaris Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer kembali menyapa publik melalui tafsir kontemporer di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung, Rabu (11/02/2026). Kali ini, sutradara Fathul A. Husein mengemas pertunjukan tersebut dalam konsep “Dekonstruksi Minimalis KAPAI-KAPAI”. Dengan demikian, pementasan ini tidak sekadar menghidupkan teks lama, tetapi juga menghadirkan pembacaan baru yang kontekstual.

Sejak awal proses kreatif, Fathul memimpin pembacaan ulang naskah secara kritis. Ia lalu mengembangkan transformasi dari teks dramatik menuju teks pertunjukan. Selanjutnya, ia menyusun strategi pemanggungan yang menyesuaikan tafsir tersebut. Karena itu, pertunjukan tampil sebagai hasil dialog antara teks asli dan realitas sosial kekinian.

“Dalam tafsiran ini, bisa saja terjadi perlawanan terhadap teks. Ada tumpang tindih peristiwa dari teks asli dengan sistem budaya yang berkembang,” ujar Fathul.

Selain itu, Fathul memadukan pemikiran filsafat Timur dan Barat dalam konstruksi artistiknya. Namun demikian, ia menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam bahasa seni yang lebih membumi. Oleh sebab itu, pertunjukan tetap terasa dekat dengan pengalaman masyarakat. “Benturan filsafat timur dan barat diterjemahkan ke dalam bahasa seni yang membumi di masyarakat. Kapai-kapai menampilkan refleksi kehidupan masyarakat Pantura,” katanya.

Dari sisi tata artistik, tim produksi mengubah pola panggung konvensional. Para aktor tampil sejajar dengan bangku penonton. Dengan cara ini, mereka membangun kedekatan emosional tanpa jarak formal. Sementara itu, Fathul memasukkan unsur tarling, wayang kulit, dan sintren untuk memperkuat identitas lokal. Bahkan, ia menyusun komposisi musikal dan gerak tradisi secara terintegrasi dalam struktur adegan.

Secara tematik, lakon Kapai-Kapai menyoroti perjuangan hidup Abu. Tokoh tersebut menghadapi kemiskinan material sekaligus krisis moral. Di tengah tekanan itu, Abu terus mencari Cermin Tipu Daya yang selalu Emak kisahkan dalam dongeng. Dalam cerita tersebut, cermin ajaib melindungi pangeran dan putri dari bahaya.

Menurut Fathul, simbol Cermin Tipu Daya merepresentasikan harapan yang terus dipelihara. Oleh karena itu, ia mengaitkan simbol tersebut dengan kondisi sosial saat ini. Ia melihat masyarakat modern terus berjuang di tengah tekanan ekonomi dan pergeseran nilai. “Cermin Tipu Daya ini adalah harapan yang dipelihara. Dalam konteks kenyataan yang kita alami saat ini, betapa masyarakat berjuang untuk hidup itu sudah kapai-kapai. Sehingga harus mencari Cermin Tipu Daya untuk tetap menjaga harapan,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor ISBI Bandung Dr. Retno Dwimarwati, S.Sen., M.Hum., memberikan pandangan akademik terhadap pertunjukan ini. Ia menilai Fathul berhasil menggabungkan musikalitas dan tari tradisional dalam satu tafsir utuh. Selain itu, ia melihat pertunjukan ini sebagai etalase kebudayaan wilayah timur Jawa Barat. Bahkan, ia membaca adanya refleksi atas tekanan kapitalisme dan pergeseran nilai tradisi.

“Esensi-esensi itu kemudian digabungkan dengan pengetahuan Fatul tentang Laotze, tentang Nietzsche. Fatul membaca teks karya Arifin C. Noer dengan cara dekonstruksi,” ujarnya.

Menariknya, Retno tidak hanya menyampaikan pandangan sebagai rektor. Ia juga memerankan tokoh Emak dalam pertunjukan tersebut. Dengan demikian, ia terlibat langsung dalam praktik artistik sekaligus refleksi akademik. Ia menegaskan bahwa pertunjukan ini membawa pesan spiritual yang relevan dengan kondisi masyarakat.

“Pertunjukan ini relevan dengan keadaan sekarang. Menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang pentingnya nilai spiritual. Harapan harus selalu ada, melalui penggambaran pencarian Cermin Tipu Daya,” katanya.

Setelah pertunjukan berakhir, panitia langsung menggelar diskusi terbuka. Dr. Ipit Saefidier Dimyati, S.Sn., M.Si., Irwan Jamaludin, S.Sn., M.Sn., dan Fathul A. Husein hadir sebagai pembicara. Mereka membahas pendekatan dekonstruksi, strategi aktor, serta konteks sosial pertunjukan. Dengan begitu, forum tersebut memperluas ruang apresiasi sekaligus kritik.

UPA Ajang Gelar ISBI Bandung mendukung kegiatan ini dalam rangka Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana 2025. Melalui program ini, ISBI Bandung memperkuat ekosistem seni pertunjukan sekaligus mendorong inovasi berbasis tradisi.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.