26.1 C
Bandung
Jumat, Mar 13, 2026
Info Burinyay
Peristiwa

Motisantri Ungkap Kiprah Santri di Berbagai Bidang, dari Mahfud MD hingga Gus Dur

Ilustrasi buku Motisantri karya Saiful Falah menampilkan tokoh nasional berlatar pesantren seperti Mahfud MD, KH Ahmad Mustofa Bisri, Hidayat Nur Wahid, dan KH Abdurrahman Wahid.
Ilustrasi buku Motisantri: Inspirasi dari Negeri Santri karya Saiful Falah yang menggambarkan kiprah tokoh-tokoh berlatar pesantren seperti Mahfud MD, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Hidayat Nur Wahid, dan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di berbagai bidang kehidupan. -Foto:infoburinyay/red

Masyarakat selama ini sering memandang pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang hanya melahirkan kiai atau ustadz. Namun pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Pesantren sebenarnya menyimpan potensi besar untuk melahirkan tokoh di berbagai bidang kehidupan.

Gagasan tersebut menjadi fokus utama dalam buku Motisantri: Inspirasi dari Negeri Santri karya ustadz Saiful Falah. Melalui buku ini, penulis berusaha memperluas cara pandang publik terhadap dunia pesantren.

Penulis menjelaskan bahwa lulusan pesantren tidak hanya bergerak dalam dakwah. Sebaliknya, banyak santri berhasil meniti karier sebagai pengusaha, akademisi, ekonom, diplomat, ilmuwan, bahkan pemimpin negara.

Selain itu, pesantren juga menanamkan nilai karakter yang kuat kepada para santri. Pendidikan di lingkungan pesantren membentuk sikap disiplin, kemandirian, kepemimpinan, serta akhlak yang baik. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bekal penting bagi santri ketika terjun ke masyarakat.

Karena itu, lulusan pesantren memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Mereka tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki karakter tangguh yang dibutuhkan dalam berbagai sektor kehidupan.

Dalam buku tersebut, Saiful Falah menampilkan sejumlah tokoh nasional yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Kisah mereka menjadi bukti bahwa santri mampu meraih keberhasilan di berbagai bidang.

Salah satu tokoh yang diangkat adalah Mahfud MD. Ia menunjukkan bahwa santri dapat berkiprah di bidang hukum dan pemerintahan.

Penulis menuliskan bahwa Mahfud MD melanjutkan pendidikan ke Pendidikan Guru Agama (PGA) setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren. Selanjutnya, ia melanjutkan studi di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Perjalanan akademik itu kemudian membawanya menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi.

“Prestasi di PGA membawanya ke Pendidikan Hakim Islam Negeri hingga akhirnya menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi,” tulis Saiful Falah pada halaman 33.

Selain itu, buku ini juga menghadirkan sosok KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. Tokoh ini dikenal sebagai ulama sekaligus budayawan yang memiliki bakat seni luar biasa.

Gus Mus aktif menulis puisi dan sering membacakan karya sastra di berbagai forum. Ia juga menunjukkan kemampuan melukis yang kuat. Karena itu, banyak orang mengenalnya sebagai kiai multitalenta.

“Label kiai dengan peci dan sarung tidak menghalangi Gus Mus untuk berkarya dalam dunia seni,” tulis penulis pada halaman 45.

Selanjutnya, buku ini juga mengangkat kiprah Dr Hidayat Nur Wahid di panggung politik nasional. Ia merupakan alumnus Pesantren Gontor yang pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 2004.

Penulis menggambarkan bagaimana nilai kesederhanaan pesantren tetap melekat pada dirinya. Meskipun pernah menduduki jabatan tinggi negara, Hidayat Nur Wahid tetap menjalani kehidupan sederhana.

Setiap kali menjenguk ibunya di Jawa Tengah, ia memilih tidur di atas tikar. Padahal, sebagai ketua MPR ia memiliki akses terhadap berbagai fasilitas negara.

“Didikan pesantren yang menanamkan kesederhanaan tetap ia jalankan dalam kehidupan sehari-hari,” tulis penulis pada halaman 107.

Tokoh lain yang dibahas dalam buku ini adalah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia merupakan tokoh pesantren yang berhasil menembus puncak kepemimpinan nasional.

Melalui Sidang Umum MPR tahun 1999, Gus Dur terpilih sebagai Presiden keempat Republik Indonesia. Kepemimpinannya kemudian membawa sejumlah perubahan penting dalam kehidupan demokrasi di Indonesia.

Selama masa pemerintahannya, Gus Dur membuka ruang kebebasan pers. Selain itu, ia juga memulai dialog dengan Gerakan Aceh Merdeka. Ia bahkan memberikan pengakuan terhadap perayaan Imlek sebagai hari libur nasional.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan komitmen Gus Dur terhadap demokrasi dan pluralisme di Indonesia.

Secara keseluruhan, Saiful Falah menyusun buku Motisantri dengan menghadirkan kisah nyata para santri yang sukses di berbagai bidang. Cerita-cerita tersebut memberikan gambaran bahwa pesantren mampu melahirkan tokoh yang berpengaruh di masyarakat.

Selain memberikan inspirasi, buku ini juga menegaskan pentingnya semangat belajar dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, buku Motisantri layak menjadi bacaan bagi generasi muda, khususnya para santri yang ingin memperluas peran mereka di tengah masyarakat.

Peresensi Wardatul Hasanah, lulusan Pesantren Darul Ulum, menilai buku ini menghadirkan perspektif baru tentang dunia pesantren. Menurutnya, buku ini mampu memotivasi santri agar berani bermimpi dan berkarya di berbagai bidang kehidupan.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.