Bandung, Info Burinyay — Persoalan sampah di kota besar kini tidak lagi sebatas urusan teknis pengangkutan. Masalah ini berkembang menjadi tantangan komunikasi publik yang kompleks. Akademisi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan, Vera Hermawan, M.Ikom., menegaskan bahwa strategi komunikasi lingkungan memegang peran kunci dalam mengatasi krisis dari hulu.
Data nasional menunjukkan sektor rumah tangga menghasilkan 60,44 persen sampah. Sementara itu, aktivitas pasar menyumbang 11,63 persen. Tingginya aktivitas warga perkotaan mendorong peningkatan volume sampah secara signifikan. Akibatnya, kapasitas TPA Sarimukti terus tertekan dan menghadapi risiko kelebihan beban.
Karena itu, Vera menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas. Ia mencontohkan Kampung Cibunut di Bandung sebagai model yang berhasil. Pengurus RW dan RT bersama warga menjalankan sistem pengelolaan sampah secara disiplin dan konsisten.
“Keterlibatan komunitas di tingkat RW menjadi kunci. Mereka langsung memberi contoh, termasuk melakukan pemilahan sampah dari rumah,” ujar Vera dalam wawancara di kanal YouTube RHD Creative Network, Selasa (21/04/2026).
Di sisi lain, warga Cibunut rutin memisahkan sampah organik dan anorganik. Mereka mengolah sampah organik menggunakan metode maggot. Hasil olahan tersebut kemudian mereka manfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung ketahanan pangan lokal. Dengan langkah ini, warga mengubah sampah menjadi sumber daya yang bernilai.
Selanjutnya, pengurus lingkungan menerapkan sanksi sosial untuk menjaga kedisiplinan. Mereka menegur warga yang tidak melakukan pemilahan sampah. Pendekatan ini berhasil membentuk perilaku kolektif yang lebih bertanggung jawab.
Vera juga menyoroti tantangan pembangunan infrastruktur pengolahan sampah. Proyek TPPAS Legoknangka menghadapi penolakan warga. Masyarakat khawatir terhadap potensi bau dan pencemaran lingkungan.
Vera menegaskan bahwa pemerintah harus mengedepankan komunikasi yang terbuka. Pemerintah perlu membangun dialog langsung dengan masyarakat. Meskipun UU Nomor 18 Tahun 2008 telah mengatur pengelolaan sampah, implementasi di lapangan tetap membutuhkan edukasi yang berkelanjutan.
Selain itu, berbagai pihak terus mendorong peningkatan kesadaran publik. Mereka mengoptimalkan peran Karang Taruna di Subang dan menjalankan kampanye literasi sampah di komunitas Bandung. Program ini menargetkan ibu rumah tangga sebagai pengelola utama aktivitas domestik.
Masyarakat harus memulai pemilahan sampah dari sumbernya. Tanpa langkah ini, risiko bencana lingkungan akan terus meningkat. Tumpukan sampah dapat menghasilkan gas metana yang berpotensi memicu ledakan dan longsor. Karena itu, perubahan perilaku menjadi kunci utama. Melalui strategi komunikasi yang konsisten, masyarakat dapat mengubah sampah menjadi energi dan sumber daya yang bermanfaat.
