28.4 C
Bandung
Selasa, Apr 21, 2026
Info Burinyay
Kota BandungPendidikan

Darurat! 71 Ribu Pelajar Bandung Alami Gangguan Mental, Gadget dan Keluarga Jadi Pemicu

Pakar psikologi Muhammad Ilmi Hatta saat wawancara membahas krisis kesehatan mental pelajar Bandung dan dampak gadget serta pola asuh
Pakar psikologi sekaligus akademisi Universitas Islam Bandung, Muhammad Ilmi Hatta, Drs., M.Psi (kiri), saat wawancara di kanal YouTube RHD Creative Network, Selasa (21/04/2026). Ia mengulas lonjakan gangguan mental pelajar di Bandung, termasuk pengaruh gadget, tekanan sosial, dan peran pola asuh keluarga. [ Foto:infoburinyay/yk

Bandung, Info Burinyay – Kota Bandung menghadapi tekanan serius pada kesehatan mental pelajar. Data terbaru menunjukkan lebih dari 71.000 siswa dari jenjang SD hingga SMA mengalami indikasi gangguan psikologis. Temuan ini menegaskan kebutuhan intervensi cepat di lingkungan pendidikan.

Survei terhadap 148.239 pelajar menunjukkan 48,19% siswa membutuhkan perhatian khusus. Dari jumlah tersebut, 76,46% mengalami kecemasan ringan. Sementara itu, 7,89% siswa menghadapi ansietas berat. Angka ini memperlihatkan tren peningkatan gangguan mental yang signifikan.

Selain itu, tekanan akademik dan dinamika sosial memicu beban psikologis siswa. Lingkungan belajar yang kompetitif turut memperbesar tekanan tersebut. Karena itu, pemerintah mulai mendorong kehadiran psikolog di sekolah sebagai langkah konkret.

Di sisi lain, praktisi psikologi Muhammad Ilmi Hatta, Drs., M.Psi menilai tren gangguan mental remaja di Jawa Barat terus meningkat. Ia mencatat lonjakan kunjungan ke layanan kesehatan jiwa.

“Di Poliklinik Psikiatri Cisarua, kunjungan bisa mencapai 30 pasien per hari,” ujarnya dalam wawancara di kanal YouTube RHD Creative Network, Selasa (21/04/2026).

Lebih lanjut, Ilmi menyoroti penggunaan gadget sebagai faktor dominan. Anak-anak kini lebih sering berinteraksi dengan layar dibandingkan lingkungan sosial langsung. Bahkan, sebagian siswa mulai mencurahkan emosi kepada kecerdasan buatan.

“Anak-anak kini lebih banyak berinteraksi dengan layar hingga curhat ke Artificial Intelligence (AI), yang mengakibatkan hilangnya ruang interaksi sosial nyata di rumah maupun sekolah,” jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, siswa kehilangan kesempatan melatih empati. Situasi ini mendorong munculnya perilaku bullying dan kecenderungan narsistik.

“Karena tidak terbiasa menghargai orang lain secara fisik, mereka jadi mudah merundung atau merasa harus selalu menjadi pusat perhatian,” tambah Ilmi.

Namun demikian, keluarga memegang peran krusial dalam membentuk kesehatan mental anak. Pola asuh yang tidak adaptif meningkatkan risiko kecemasan. Kurangnya komunikasi serta minimnya edukasi pubertas memperparah kondisi psikologis siswa. Selain itu, konflik keluarga turut memicu depresi dan gangguan perilaku.

Ilmi juga menyoroti fenomena pencarian identitas yang berlebihan pada remaja. Keinginan mendapat pengakuan sering mendorong tindakan ekstrem. Dalam beberapa kasus, remaja melakukan aksi berisiko demi diterima kelompoknya.

Karena itu, guru harus memperkuat deteksi dini di sekolah. Guru kelas dan guru Bimbingan Konseling perlu aktif mengamati perubahan perilaku siswa. Selain itu, sekolah perlu membangun komunikasi terbuka agar siswa merasa aman untuk bercerita.

“Ayah dan ibu harus sering berdialog dengan anak. Di sisi lain, guru BK harus memiliki pengetahuan psikologi yang mumpuni agar gangguan mental murid tidak terlambat ditangani,” pungkasnya.

Ke depan, sekolah, keluarga, dan pemerintah harus memperkuat kolaborasi. Sinergi ini menjadi kunci untuk menekan laju peningkatan gangguan mental pelajar di Bandung.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.