Bandung, Info Burinyay — Antusiasme pengunjung tetap terlihat pada hari kedua Brecaf Expo 2026 yang berlangsung di Bandung Convention Centre, Jalan Soekarno-Hatta No. 354, Kota Bandung, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Brecaf Expo 2026 menghadirkan pameran supplier makanan dan minuman, inovasi, serta solusi bisnis bagi pelaku industri bakery, restaurant, dan café. Selain pameran produk, agenda ini juga menghadirkan demo chef, kompetisi, serta ruang kolaborasi bagi pelaku usaha.
Direktur Utama Trikarya Dinamika Expo, Riyanto Martin, menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat dan pelaku usaha yang telah hadir selama pelaksanaan Brecaf Expo 2026.
“Saya mengucapkan terima kasih untuk para pengunjung yang sudah datang. Semoga dari event Brecaf Expo ini kita bisa menyatukan ide, inovasi, dan juga kolaborasi untuk kemajuan ekonomi lokal di Bandung,” ujar Riyanto Martin.
Ia menambahkan, Brecaf Expo 2026 masih berlangsung hingga Minggu, 16 Agustus 2026. Karena itu, masyarakat yang belum sempat datang masih memiliki kesempatan untuk mengunjungi pameran tersebut.
“Kita masih ada sampai besok. Saya tunggu kedatangan kalian sampai hari Minggu jam 6 sore,” katanya.
Sementara itu, Direktur Operasional Trikarya Dinamika Expo, Hizkia Wiranata Sembiring, mengatakan agenda hari kedua juga menghadirkan sejumlah chef untuk memberikan demonstrasi kepada pengunjung.
Salah satunya, Chef Yongki, dijadwalkan melakukan demo memasak pada pukul 13.30 WIB. Menurut Hizkia, kehadiran chef menjadi salah satu daya tarik bagi pelaku usaha kuliner karena mereka dapat memperoleh inspirasi menu dan teknik pengolahan baru.
“Ada beberapa chef yang akan hadir. Salah satunya Chef Yongki yang akan demo nanti jam 13.30. Buat para pelaku usaha, khususnya di bidang pastry, yang mau melihat menu hari ini, Chef Yongki akan membagikannya,” ujar Hizkia.
Ia menjelaskan, Chef Yongki akan mengolah labu menjadi menu bolu labu. Inovasi tersebut memanfaatkan komoditas lokal yang selama ini lebih sering masyarakat olah menjadi makanan tradisional seperti kolak.
“Labu sendiri adalah salah satu komoditas lokal yang cukup banyak. Pengolahannya masih banyak orang cuma manfaatkan jadi kolak. Padahal masih bisa dimanfaatkan untuk banyak hal,” katanya.
Selain demo chef, Brecaf Expo 2026 juga menghadirkan berbagai kompetisi yang berkaitan dengan industri kopi dan kuliner.
Ketua Umum Perkumpulan Profesional dan Inovator Kopi Indonesia (PaPIKI), Steve Hidayat, menilai pelaksanaan Brecaf Expo 2026 selama dua hari memberikan hasil yang positif.
“Kita sudah berjalan dua hari di Brecaf Expo Bandung dan hasilnya sangat memuaskan. Sangat banyak peserta dan pengunjung,” ujar Steve.
Menurutnya, sejumlah kompetisi turut memeriahkan pameran, mulai dari mixology, roasting, hingga Food Parade. Para peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti setiap kompetisi.
“Kompetisi diikuti banyak peserta. Ada dua kompetisi, mixology dan roasting. Di dalam juga ada kompetisi Food Parade. Semua sangat antusias, jadi saya sangat puas,” katanya.
Steve pun mengajak masyarakat yang belum datang untuk memanfaatkan hari terakhir Brecaf Expo 2026 pada Minggu.
“Yang belum datang harus datang. Hari ini hari kedua dan besok hari terakhir. Jadi masih ada satu hari lagi. Datang besok ke Brecaf Bandung,” ujarnya.
Di sisi lain, Brecaf Expo 2026 juga menjadi ruang promosi bagi pelaku UMKM yang menawarkan produk berbasis potensi lokal.
Salah satunya hadir melalui Dawa Minuman Rempah. Pelaku usaha tersebut menawarkan minuman berbasis rempah dengan beragam varian.
Andri Juwandi dari Dawa Minuman Rempah menjelaskan, nama Dawa memiliki makna obat atau minuman rempah. Produk tersebut mengembangkan minuman sehat dengan mengangkat kekayaan rempah Indonesia.
“Ini adalah minuman rempah. Dawa artinya obat atau minuman rempah yang kita kemas dengan kelas yang naik. Kita UMKM yang menyajikan minuman sehat,” ujar Andri.
Ia menyebut Dawa memiliki sekitar 13 menu dengan berbagai pilihan berbasis rempah. Produk tersebut antara lain mengangkat jahe dan sejumlah bahan rempah lainnya.
Andri mengatakan usaha tersebut mulai berkembang sejak sekitar lima tahun lalu. Pada masa pandemi COVID-19, pihaknya melakukan riset dan pengembangan produk. Kemudian, dalam satu tahun terakhir, usaha tersebut mulai memperluas kemitraan dan distribusi.
“Kita sudah ada dari lima tahun yang lalu. Pas COVID-19, kita mulai R&D untuk membuat produk. Namun, mulai satu tahun belakangan ini kita mulai dimitrakan dan diperluas,” katanya.
Menurut Andri, produk Dawa kini telah masuk ke sekitar 350 hotel di berbagai wilayah Indonesia. Jaringannya mencakup sejumlah daerah di Sumatera, Jabodetabek, Jawa, Bali, hingga wilayah Indonesia timur.
Ia berharap pengembangan produk tersebut dapat ikut memperkenalkan minuman rempah sebagai bagian dari kekayaan pangan Indonesia. Selain itu, ia melihat produk berbasis rempah juga dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
“Kita kaya akan rempah, kaya akan hasil alam yang sangat luar biasa. Mudah-mudahan dengan Dawa ini banyak yang sehat, banyak yang terbantu, dan juga banyak yang membuka peluang usaha dari Dawa minuman rempah,” tuturnya.
Selanjutnya, Chef Mamat menghadirkan inovasi kuliner melalui menu kolak labu goreng. Ia mengolah labu kuning dengan pendekatan berbeda dari penyajian kolak pada umumnya.
“Saya hari ini mencoba bikin kolak labu goreng dengan granola. Nanti dibuat dari labu kuning. Labu kuningnya kita rebus dulu, setelah itu dicincang dan dicampur menjadi adonan seperti bola-bola ubi,” kata Chef Mamat.
Setelah membentuk adonan, Chef Mamat melapisinya dengan panir sebelum menggorengnya. Dengan teknik tersebut, ia menghadirkan kolak dalam bentuk makanan ringan tanpa kuah.
“Biasanya kalau kolak itu banyak airnya, ada kuahnya. Nah, ini kita bikin yang beda,” ujarnya.
Chef Mamat berharap inovasi tersebut dapat memberikan inspirasi kepada pengunjung, terutama pelaku kuliner dan UMKM yang ingin mengembangkan produk berbasis bahan lokal.
“Semoga ini bisa menjadi inspirasi buat para pengunjung, terutama mereka yang membuat produk kuliner dan UMKM. Kolak bukan hanya ada kuahnya saja, tetapi kolak goreng juga bisa dijadikan produk,” katanya.
Sementara itu, Yunifar Fadly dari Bursa Kopi menilai Brecaf Expo 2026 memberikan ruang yang baik bagi pelaku usaha kopi untuk bertemu, berkompetisi, serta membangun peluang kolaborasi.
“Event ini sangat bagus untuk menggalakkan peserta-peserta yang mau ikut perlombaan roasting. Kepada pengunjung, supaya kerja sama dengan Bursa Kopi, mungkin banyak hal yang bisa kita kolaborasikan,” ujar Yunifar.
Dengan rangkaian pameran, demo chef, kompetisi, serta kehadiran pelaku UMKM dan industri kopi, Brecaf Expo 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi produk. Pameran ini juga mempertemukan pelaku usaha dengan pengunjung, calon mitra, komunitas, serta berbagai pihak dalam industri makanan dan minuman.
Karena itu, antusiasme pengunjung pada hari kedua menjadi salah satu indikator tingginya minat terhadap inovasi dan peluang bisnis di sektor bakery, restaurant, café, serta industri pendukungnya.
Brecaf Expo 2026 masih berlangsung hingga Minggu, 16 Agustus 2026, pukul 18.00 WIB di Bandung Convention Centre, Kota Bandung.
