Sabtu, Sep 5, 2026
Info Burinyay
Pemerintahan DesaPeristiwa

HUT ke-81 RI di Sukamanah, 17 RW Tampilkan Rampak Sekar Kebaya dalam Hajat Lembur

Tarian Budaya Sunda Jadi Sorotan Hajat Lembur Desa Sukamanah Rancaekek
Pagelaran tarian budaya Sunda memeriahkan Hajat Lembur Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek, dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Sabtu malam, 5 September 2026. (Foto:Info Burinyay/red)

Rancaekek, Info Burinyay — Pemerintah Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, kembali menggelar resepsi peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia melalui agenda budaya bertajuk Hajat Lembur. Kegiatan berlangsung di Desa Sukamanah pada Sabtu malam, 5 September 2026.

Tahun ini, masyarakat menghadirkan pertunjukan Rampak Sekar Kebaya dari 17 RW. Selain itu, anak-anak Desa Sukamanah turut menampilkan sejumlah kreasi seni. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk merayakan kemerdekaan sekaligus menjaga tradisi dan budaya Sunda.

Kepala Desa Sukamanah, H. Dede Rahim, mengatakan pemerintah desa konsisten menggelar agenda peringatan kemerdekaan selama masa kepemimpinannya. Ia menyebut kegiatan tersebut berlangsung setiap tahun tanpa jeda.

“Di tiga periode, terhitung sembilan belas tahun. Nanti setahun lagi saya akan habis jabatan. Alhamdulillah, selama itu di Desa Sukamanah diadakan mieling atau milangkala ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sembilan belas tahun berturut-turut tidak ada satu tahun pun yang absen,” kata Dede Rahim.

Menurutnya, pemerintah desa memberi ruang khusus bagi perempuan untuk menampilkan Rampak Sekar dengan busana tradisional Sunda. Karena itu, setiap RW mendapat kesempatan mengirimkan perwakilan.

“Tujuh belas RW, tujuh belas RW-nya mengirimkan Rampak Sekar ibu-ibu,” ujarnya.

Dede menjelaskan, pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali adat dan budaya Sunda kepada masyarakat.

“Kenapa ada Rampak Sekar ibu-ibu? Itu supaya mengenang adat dan budaya. Ada berkebaya, bersamping. Itulah adat Sunda,” katanya.

Selain pelestarian budaya, Dede juga menyoroti semangat kebersamaan warga dalam menjalankan berbagai program desa. Ia mengaitkannya dengan nilai yang tercermin dalam logo Desa Sukamanah, seperti saregep, saigel, sabobot, sapihanean, rempug jukung, sauyunan, dan rampak gawe babarengan.

Di sisi lain, Pemerintah Desa Sukamanah terus mendorong ketahanan pangan masyarakat. Dede mengatakan pihaknya tengah menjaga produktivitas pertanian agar tanaman pangan tidak mengalami kegagalan panen.

“Pada saat ini saya berjuang tentang pangan. Bagaimana supaya pangan di Sukamanah tidak tutup, tidak gagal atau puso,” ucapnya.

Saat ini, kondisi pertanian mulai memasuki masa persiapan panen. Dede memperkirakan panen raya akan berlangsung dalam waktu sekitar dua minggu hingga satu bulan mendatang.

Karena itu, pemerintah desa berencana menggelar panen raya sebagai bentuk apresiasi terhadap petani sekaligus contoh bagi desa lain.

“Sekitar dua minggu atau satu bulan lagi akan panen raya. Insyaallah saya akan selenggarakan panen raya. Hitung-hitung contoh untuk desa-desa yang lain,” katanya.

Sementara itu, Ketua PHBN Desa Sukamanah, Koesnadi, S.Sos., menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Sukamanah, Karang Taruna, dan seluruh masyarakat yang mendukung pelaksanaan kegiatan.

Ia menjelaskan, resepsi desa pada 5 September menjadi salah satu rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 RI. Tahun ini, panitia menghadirkan 17 Rampak Sekar dari setiap RW serta sejumlah pertunjukan tari anak-anak.

“Pada hari ini, 5 September 2026, kita mengadakan acara resepsi yang dimeriahkan oleh 17 Rampak Sekar tiap-tiap RW dan juga beberapa tarian dari anak-anak,” kata Koesnadi.

Selain itu, panitia menyiapkan acara puncak pada Minggu, 6 September 2026. Menurut Koesnadi, masyarakat masih akan menemukan sejumlah kegiatan menarik dalam rangkaian tersebut.

Untuk pelaksanaan tahun berikutnya, Koesnadi berharap partisipasi masyarakat semakin besar. Ia juga mendorong setiap RW terus mengembangkan kreasi seni.

“Harapan ke depan tentunya peningkatan yang lebih ramai. Kreasi seni dari tiap RW juga dimunculkan kembali untuk meningkatkan budaya-budaya yang ada di wilayah Sukamanah,” ujarnya.

Ketua TP PKK Desa Sukamanah, Hj. Dian Pèrtiwi, S.Pd., menilai antusiasme masyarakat menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menurutnya, Rampak Sekar Kebaya secara khusus menjadi bagian dari pertunjukan seni dalam peringatan HUT ke-81 RI di Desa Sukamanah.

“Alhamdulillah pada hari ini kita telah menyelenggarakan pentas seni Rampak Sekar Kebaya untuk memperingati ke-81 Hari Kemerdekaan Republik Indonesia,” kata Dian.

Ia berharap kegiatan budaya tersebut terus berkembang dan membawa kemajuan bagi Desa Sukamanah.

“Semoga ke depannya Desa Sukamanah lebih maju lagi. Sukamanah sarerea, sarerea hade,” ucapnya.

Ketua BPD Desa Sukamanah, Abdul Gani, juga memberikan apresiasi kepada seluruh elemen masyarakat yang terlibat. Ia menyebut Karang Taruna, PHBN, pemerintah desa, serta masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan kegiatan tersebut.

“Terima kasih untuk seluruh elemen masyarakat, terutama kepanitiaan, Karang Taruna, PHBN, terus Bapak Kepala Desa yang memberi motivasi supaya resepsi ini terlaksana,” kata Abdul Gani.

Ia menilai agenda tersebut telah menjadi tradisi tahunan Desa Sukamanah. Karena itu, masyarakat mengenalnya sebagai Hajat Lembur.

“Ini adalah Hajat Lembur, hajat tahunan yang dilaksanakan oleh Desa Sukamanah,” ujarnya.

Abdul Gani berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai perayaan seremonial. Sebaliknya, ia ingin semangat kemerdekaan mendorong masyarakat untuk memperkuat kebersamaan serta menjalankan berbagai program pembangunan.

Menurutnya, ketahanan pangan menjadi salah satu contoh nyata kolaborasi masyarakat dengan pemerintah desa. Ia mengatakan warga dan para petani bersama-sama menghadapi persoalan kekeringan pada lahan pertanian.

“Warga masyarakat Desa Sukamanah sudah berbuat. Yang tadinya para petani bisa mengalami kekeringan, melalui perjuangan pemerintahan desa, masyarakat, dan tokoh masyarakat, akhirnya bisa teratasi,” katanya.

Perwakilan Karang Taruna Desa Sukamanah, Luki Nurhakim, menilai keterlibatan 17 RW menjadi salah satu kekuatan utama kegiatan tahun ini. Setiap RW mendapat ruang untuk memperlihatkan potensi seni dan budaya warganya.

Ia juga mengapresiasi konsistensi Karang Taruna dan PHBN dalam menjaga tradisi Hajat Lembur.

“Di tahun 2026 kita kembali melaksanakan event malam puncak HUT ke-81 RI. Kita mengapresiasi seluruh RW, khususnya 17 RW yang sudah mengirimkan bakat-bakatnya di tingkat desa,” ujar Luki.

Ke depan, Luki menilai Desa Sukamanah membutuhkan regenerasi agar pelestarian budaya berjalan secara berkelanjutan. Generasi muda perlu mendapat ruang untuk mengenal sekaligus mengembangkan budaya Sunda.

“Harapan ke depan mungkin kita nanti harus sudah ada regenerasi. Tentunya regenerasi ke depan bisa tetap melestarikan budaya Sunda,” katanya.

Dengan demikian, Hajat Lembur Desa Sukamanah tidak hanya menjadi agenda peringatan kemerdekaan. Kegiatan tersebut juga mempertemukan unsur pemerintah desa, lembaga kemasyarakatan, Karang Taruna, PKK, para pelaku seni, dan warga dari 17 RW dalam satu ruang kebersamaan.

Melalui Rampak Sekar Kebaya, pertunjukan anak-anak, serta penguatan program ketahanan pangan, masyarakat Sukamanah menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan pembangunan desa.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.