Rancaekek, Info Burinyay — Festival Hadroh dan Qasidah Sebandung Raya berlangsung di Lembur Ambu Apon, Kampung Sapan, Jalan Yasaadi No. 8, Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Minggu (6/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan seni Islam berupa hadroh dan qasidah sekaligus menjadi ruang silaturahmi masyarakat. Selain itu, festival ini mendorong regenerasi pelaku seni Islami di Kabupaten Bandung dan sekitarnya.
Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung, Dr. H. Cecep Suhendar, S.Pd., M.Si., selaku penyelenggara kegiatan, memberikan apresiasi terhadap panitia dan seluruh peserta. Menurutnya, festival tersebut memiliki nilai penting dalam menjaga keberlanjutan seni budaya Islam.
“Saya sangat mengapresiasi terhadap panitia penyelenggara Festival Hadroh dan Qosidah. Ini merupakan pelestarian budaya Islam yang selama ini kalau menurut saya masih kurang diminati oleh anak muda,” ujar Cecep.
Karena itu, Cecep menilai kegiatan seperti Festival Hadroh dan Qasidah Sebandung Raya perlu terus berkembang. Menurutnya, festival tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga memperkuat hubungan sosial masyarakat.
“Diselenggarakan ini diharapkan satu adalah meningkatkan silaturahmi,” katanya.
Selain memperkuat silaturahmi, Cecep melihat hadroh dan qasidah sebagai media dakwah. Pasalnya, seni tersebut menyampaikan pesan melalui lantunan syair dan ungkapan yang mengandung nilai-nilai keislaman.
“Yang kedua, ini merupakan kegiatan yang bersifat dakwah melalui kalimat-kalimat dalam ungkapan dalam qosidah,” ucapnya.
Kegiatan tersebut juga membangun semangat kebersamaan. Cecep menjelaskan bahwa hadroh dan qasidah membutuhkan kerja kelompok. Para pemain harus berkolaborasi agar pertunjukan dapat berjalan secara harmonis.
“Yang ketiga, ini memupuk kebersamaan karena qosidah dan hadroh ini tidak bisa dilakukan oleh sendirian tapi oleh bersama-sama,” tutur Cecep.
Dengan demikian, Cecep menilai festival tersebut memiliki tiga fungsi utama. Pertama, melestarikan seni tradisi Islam. Kedua, menjadi sarana dakwah. Ketiga, memperkuat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat.
Ia juga mendorong penyelenggara agar kegiatan tersebut berlangsung secara rutin. Bahkan, Cecep membuka peluang pengembangan segmentasi peserta pada penyelenggaraan berikutnya.
“Kegiatan ini diharapkan rutin, bahkan mungkin segmentasinya nanti ditingkatkan,” katanya.
Namun, Cecep mencermati komposisi peserta dalam festival tahun ini. Ia melihat mayoritas peserta masih berasal dari kelompok usia yang relatif senior. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian untuk mendorong keterlibatan generasi muda.
“Kalau sekarang saya lihat pesertanya itu lebih dari usianya itu hampir rata-rata di atas 50 tahun. Ke depan saya ingin melihat generasi muda, usianya dibatasi saja maksimal 30 tahun,” ujar Cecep.
Menurutnya, pembatasan usia pada kategori tertentu dapat menjadi salah satu cara untuk mengukur minat generasi muda terhadap seni budaya Islam.
“Ini artinya kita melihat seberapa besar animo generasi muda dalam menekuni seni budaya Islam ini, qasidah ataupun hadroh,” katanya.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara Festival Hadroh dan Qasidah Sebandung Raya, Hendri Supriat alias Ajay, menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme peserta. Ia menilai masih banyak generasi muda di Kabupaten Bandung dan daerah sekitarnya yang memiliki perhatian terhadap pengembangan seni Islam.
“Alhamdulillah, saya merasa bangga ternyata di Kabupaten Bandung dan sekitarnya generasi muda masih banyak ada yang masih mau untuk mengembangkan seni Islam,” kata Hendri.
Karena itu, Hendri berharap festival serupa dapat menjadi pemantik bagi generasi muda untuk kembali aktif mengembangkan seni Islam di lingkungan masing-masing.
“Harapan saya ke depan mudah-mudahan dengan event seperti ini atau festival-festival seperti ini, generasi muda di Kabupaten Bandung dan sekitarnya betul-betul kembali antusias untuk mengembangkan seni Islamnya di tiap-tiap daerahnya masing-masing,” ujarnya.
Pada pelaksanaan tahun ini, panitia mencatat sebanyak 18 peserta mengikuti kompetisi. Jumlah tersebut mengalami penyesuaian dari rencana awal yang mencapai sekitar 30 peserta.
Menurut Hendri, sejumlah calon peserta menghadapi agenda lain di wilayah masing-masing. Selain rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sejumlah daerah juga tengah menjalankan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Awal-awal sampai dengan 30 karena ini sekarang berbenturan dengan kegiatan Agustusan masih di tiap-tiap daerah termasuk kegiatan Maulid. Jadi memang antusiasnya banyak sebetulnya, respons baik, tapi karena sudah ada program di wilayahnya masing-masing sehingga hanya segitu yang 18 peserta yang bisa berkompetisi di kegiatan hari ini,” jelas Hendri.
Meski jumlah peserta menyesuaikan kondisi agenda masyarakat, penyelenggara tetap melihat respons positif terhadap festival tersebut. Bahkan, panitia menargetkan penyelenggaraan berikutnya dapat berlangsung lebih semarak.
Hendri berharap kegiatan tahun depan di Ash-Shofwan, di bawah binaan Dr. H. Cecep Suhendar, dapat memperoleh dukungan lebih luas. Ia juga berharap instansi pemerintahan memberikan perhatian terhadap keberlanjutan kegiatan seni Islam tersebut.
“Mudah-mudahan antusiasme kegiatan tahun depan di sini di Ash-Shofwan di bawah binaan Kang Dewan Bapak Dr. H. Cecep Suhendar, S.Pd., M.Si. mudah-mudahan lebih semarak dan mudah-mudahan dukungan juga dari pihak-pihak instansi pemerintahan betul-betul lebih memperhatikan kesuksesan ini,” pungkasnya.
Festival Hadroh dan Qasidah Sebandung Raya pada akhirnya tidak hanya menghadirkan kompetisi seni. Kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memperkuat silaturahmi, menyampaikan pesan dakwah, serta menjaga keberlanjutan seni budaya Islam.
Ke depan, dorongan regenerasi menjadi perhatian penting. Gagasan pembentukan kategori khusus generasi muda maksimal usia 30 tahun dapat menjadi langkah untuk mengukur sekaligus meningkatkan keterlibatan anak muda dalam seni hadroh dan qasidah di Kabupaten Bandung.