27.5 C
Bandung
Selasa, Sep 8, 2026
Info Burinyay
Kegiatan OrganisasiPeristiwa

PAGER SAGULING Perkuat Gerakan Lingkungan, Siapkan 10 Program Prioritas DAS Citarum

Konsolidasi PAGER SAGULING bahas gerakan lingkungan Kabupaten Bandung dan Bandung Barat
Kegiatan konsolidasi PAGER SAGULING membahas penguatan gerakan lingkungan di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, termasuk rencana aksi penyelamatan DAS Citarum dan Waduk Saguling. Foto:Info Burinyay/Lee

Ciwidey, Info Burinyay — Pangauban Santri Gugus Lingkungan (PAGER SAGULING) memperkuat konsolidasi gerakan lingkungan di kawasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Konsolidasi tersebut berlangsung di Vila Kayu Cikembang, Desa Panundaan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Selasa (8/9/2026).

Pertemuan itu membahas rencana kerja jangka pendek program budidaya dan alih teknologi untuk periode September 2026 hingga Agustus 2027. Selain itu, forum tersebut menyatukan berbagai komunitas, lembaga, dan pegiat lingkungan untuk merancang aksi bersama dalam menangani persoalan ekologi di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dan Waduk Saguling.

Kegiatan mengusung tema “Dari Tobat Ekologi Menuju Aksi Nyata”. Karena itu, PAGER SAGULING mendorong gerakan lingkungan yang tidak berhenti pada diskusi. Mereka menargetkan kolaborasi nyata melalui pendekatan pentahelix dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, komunitas, dunia usaha, akademisi, hingga kelompok pesantren.

Inisiator PAGER SAGULING, Haris Bunyamin, mengatakan konsolidasi tersebut menjadi momentum untuk memperluas gerakan lingkungan agar mampu menggerakkan masyarakat secara lebih luas.

“Alhamdulillah, dalam kegiatan ini kami mengadakan rapat konsolidasi terkait bagaimana gerakan lingkungan di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat bisa menjadi sebuah trigger gerakan seluruh masyarakat,” ujar Haris.

Menurutnya, PAGER SAGULING akan terus mengelaborasi gerakan tersebut melalui pendekatan pentahelix. Selanjutnya, organisasi itu juga menyiapkan musyawarah PAGER SAGULING pada Oktober 2026.

Haris menyebut kegiatan tersebut rencananya berlangsung di Pesantren Darussa’adah Gunungmanik, Kecamatan Pacet. Ia juga mengapresiasi dukungan Dr. H. Cucun Ahmad Syamsurijal terhadap pengembangan gerakan lingkungan berbasis santri.

“Kami ingin mengkapitalisasi gerakan lingkungan ini sebagai gerakan santri. Insyaallah, beliau nanti kami nobatkan menjadi Panglima Santri Gugus Lingkungan dan gerakan ini kami dorong menjadi gerakan nasional,” katanya.

Selain itu, Haris menjelaskan bahwa gerakan tersebut melibatkan sejumlah lembaga dan komunitas. Di antaranya Yayasan Wenarekasa Jawa Barat, Gerakan Konsorsium Kakao Jawa Barat, serta PAGER SAGULING.

Forum konsolidasi juga menghadirkan Direktur Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air (PPMA), Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Tulus Laksono.

Tulus mengatakan pertemuan tersebut membahas langkah konkret untuk mendukung penyelamatan Sungai DAS Citarum dan Waduk Saguling.

“Intinya mendiskusikan kegiatan-kegiatan dari PAGER SAGULING untuk penyelamatan Sungai DAS Citarum dan Waduk Saguling,” kata Tulus.

Menurutnya, pemerintah juga membuka peluang dukungan terhadap sejumlah program lingkungan yang telah PAGER SAGULING susun. Salah satunya menyangkut penanganan eceng gondok di Waduk Saguling.

Kemudian, kelompok tersebut juga membahas pengelolaan limbah cair dari dapur-dapur SPBG. Tulus menilai pengelolaan limbah perlu mendapat perhatian agar tidak menambah beban pencemaran Sungai Citarum maupun Waduk Saguling.

Karena itu, Tulus menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Ia menilai pemerintah tidak dapat bekerja sendiri untuk menyelesaikan persoalan lingkungan dalam skala DAS.

“Baik dari pemerintah maupun masyarakat, kita mulai menyusun rencana bersama, kemudian kita laksanakan juga secara bersama,” ujarnya.

Tulus juga menjelaskan bahwa pelaksanaan program tidak hanya mengandalkan APBN. Sebaliknya, pemerintah dan komunitas perlu mencari sumber pembiayaan alternatif.

Sumber tersebut dapat berasal dari CSR perusahaan maupun jejaring pentahelix. Dengan begitu, berbagai program lingkungan dapat berjalan lebih luas dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Yayasan Panata Giri Raharja sekaligus pegiat lingkungan hidup Kabupaten Bandung, Eyang Memet, menilai konsolidasi tersebut membuka ruang kolaborasi yang lebih kuat antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Menurutnya, kawasan hulu memiliki peran penting terhadap kondisi wilayah hilir. Karena itu, penanganan lingkungan harus melihat hubungan kawasan secara menyeluruh.

“Apa yang selama ini kita cita-citakan menjadi pemikiran bersama tentang membangun kolaborasi antara Bandung Barat dengan Kabupaten Bandung. Bagaimanapun juga, kita yang bergerak di wilayah hulu akan memberikan kontribusi terhadap wilayah hilir,” ujar Eyang Memet.

Ia menambahkan, PAGER SAGULING bersama para pihak akan melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin setiap bulan. Kegiatan tersebut melibatkan kementerian serta berbagai pihak yang berkaitan dengan program lingkungan.

Selain itu, forum tersebut membahas optimalisasi potensi daerah. Pembahasan mencakup persoalan sampah, pupuk, konservasi kawasan hulu, mata air, hingga pengelolaan mikrodas.

Eyang Memet berharap setiap pertemuan menghasilkan perkembangan yang terukur. Dengan demikian, ketika kementerian meminta laporan perkembangan, komunitas dapat menunjukkan rencana dan capaian program secara jelas.

“Kami sudah bisa memberikan rencana apa yang akan kami kerjakan pada musim tanam ke depan. Mulai dari perbaikan wilayah hulu, tengah, dan hilir,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi tersebut harus menghasilkan aksi nyata. Sebab, persoalan lingkungan membutuhkan kesinambungan program dan keterlibatan banyak pihak.

“Kami berharap ini tidak hanya sekadar diskusi, tetapi ada pelaksanaan selanjutnya,” ujarnya.

Di sisi lain, Wakil Ketua II PAGER SAGULING, Nicholas Siburian, S.Hut., menjelaskan bahwa organisasi tersebut telah menyiapkan 10 program prioritas untuk periode 2026–2027.

Salah satu programnya ialah Rantek yang berkaitan dengan Integrated Landscape Management (ILM). Program tersebut melihat pengelolaan DAS Citarum sebagai satu kesatuan bentang alam.

“Pemberdayaan DAS Citarum secara menyeluruh dengan melihat bentang alam secara utuh, bukan secara parsial, mulai dari hulu, tengah, sampai ke hilir,” kata Nicholas.

Menurut Nicholas, persoalan konservasi selama ini menghadapi tantangan karena setiap pihak terkadang bergerak dengan kepentingan masing-masing. Karena itu, PAGER SAGULING mendorong pendekatan kolaboratif melalui pentahelix.

Selain itu, PAGER SAGULING menempatkan kelompok gus-santri sebagai bagian penting dalam gerakan berbasis masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat keterlibatan pesantren dan santri dalam menjaga lingkungan.

“Selama ini memang terdapat kendala dalam penyelesaian masalah konservasi karena adanya egosentris di berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam ILM kami menyatukan atau berkolaborasi dengan pentahelix dan gus-santri sebagai grassroot,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nicholas mengatakan gerakan tersebut menargetkan peningkatan kesadaran masyarakat di kawasan penyangga Sungai Citarum.

PAGER SAGULING ingin masyarakat memahami persoalan air sekaligus ikut menjaga kawasan yang memiliki fungsi ekologis penting. Terlebih, menurut Nicholas, kondisi volume air Sungai Citarum mulai mengalami penyusutan.

Dengan demikian, konsolidasi PAGER SAGULING tidak hanya menjadi forum koordinasi. Pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk menggerakkan 10 program prioritas melalui kolaborasi lintas wilayah dan lintas sektor.

Melalui agenda September 2026 hingga Agustus 2027, PAGER SAGULING menargetkan gerakan lingkungan berbasis santri dapat berkembang dari Kabupaten Bandung dan Bandung Barat menuju gerakan yang lebih luas. Fokus utamanya tetap pada pemulihan DAS Citarum, Waduk Saguling, konservasi kawasan hulu, pengelolaan limbah, serta penguatan peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.