30.9 C
Bandung
Rabu, Sep 9, 2026
Info Burinyay
NasionalParlementer

Panen Demplot Ciparay Tembus 9 Ton, Dadang Naser Dorong Pertanian Organik Jawa Barat

Dadang Naser panen padi demplot Ciparay tembus 9 ton dan dorong pertanian organik Jawa Barat
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Barat 2, Dr. H. Dadang M. Naser, saat memanen padi demplot di Kampung Babakan Oceng, Desa Ciparay, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Rabu, 9 September 2026. Panen demplot tersebut diperkirakan menghasilkan lebih dari 9 ton padi dari lahan sekitar 1,2 hektare. Foto:Info Burinyay/Red

Ciparay, Info Burinyay — Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Barat 2, Dr. H. Dadang M. Naser, menghadiri panen raya padi demplot di Kampung Babakan Oceng, Desa Ciparay, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Rabu, 9 September 2026. Kegiatan tersebut mengangkat penerapan pupuk hayati cair dan sistem pemupukan berimbang untuk mendorong peningkatan produktivitas sekaligus mendukung swasembada pangan nasional.

Panen demplot itu memperlihatkan potensi peningkatan hasil produksi padi. Petani memperkirakan hasil panen dari lahan sekitar 1,2 hektare dapat melewati 9 ton. Sebelumnya, lahan tersebut rata-rata menghasilkan sekitar 8,8 ton dalam satu kali panen.

Dadang M. Naser menjelaskan, jadwal panen di lokasi tersebut maju karena tanaman padi memasuki masa panen lebih cepat. Kondisi itu membuat petani memilih memanen lebih awal agar gabah tidak mengalami kerontokan.

“Ini kita sedang panen demplot Pureplant yang tempo hari kita beraudiensi dengan Pak Sekda. Rencana mengajak panen Pak Sekda dan Pak KDM, tetapi laporan dari petani ini genjah, panennya lebih cepat,” ujar Dadang.

Menurut dia, petani tidak dapat menunggu agenda panen bersama karena kondisi tanaman sudah memasuki waktu yang tepat untuk dipanen. Sebelumnya, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan unsur pemerintahan dan aparat kewilayahan terkait waktu panen.

“Kalau ditunggu dengan jadwalnya Pak Gubernur, ini padi keburu rontok sehingga padi dipanen duluan,” katanya.

Dadang juga menyoroti hasil panen di wilayah lain yang menggunakan pendekatan serupa. Ia menyebut produksi yang biasanya berada pada kisaran 6 sampai 7 ton dapat meningkat hingga 9,4 ton dalam laporan panen sebelumnya. Bahkan, menurut laporan petani, terdapat hasil yang melampaui angka tersebut.

“Ini betul bukan sulap, bukan sihir. Ini nyata,” tegasnya.

Potensi peningkatan produktivitas tersebut, lanjut Dadang, sejalan dengan gagasan penguatan pertanian organik di Jawa Barat. Ia menilai penggunaan pupuk hayati dapat menjadi salah satu bagian dari strategi meningkatkan produktivitas lahan tanpa mengabaikan keberlanjutan tanah.

Dadang juga menyampaikan dukungannya terhadap upaya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam mendorong pengembangan pertanian organik. Menurutnya, Jawa Barat membutuhkan strategi intensifikasi karena tekanan alih fungsi lahan terus memengaruhi ketersediaan lahan pertanian.

“Jawa Barat kembali harus jadi juara, juara nasional. Sekarang kita ketinggalan karena lahan banyak alih fungsi. Karena itu, titik tekan Jawa Barat dalam pola pertanian adalah intensifikasi, di samping kita mencari ekstensifikasi,” ujarnya.

Ia menilai sejumlah wilayah di Jawa Barat bagian selatan masih memiliki peluang untuk pengembangan kawasan pertanian berskala lebih luas. Namun, peningkatan produktivitas lahan yang sudah tersedia tetap menjadi langkah penting.

“Di beberapa kabupaten kota yang ada di Jabar Selatan ini masih memungkinkan untuk food estate, jadi perluasan. Namun, kuncinya sudah ketemu. Mudah-mudahan konsisten, nanti jadi sebelas ton terus,” kata Dadang.

Sementara itu, Founder Intani Tani Lestari, Guntur S. Mahardika, mengatakan demplot tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pemupukan hayati dan sistem pemupukan berimbang kepada petani.

Menurut Guntur, pihaknya melalui unit usaha PT Intani Bumi Lestari bekerja sama dengan PT IEP 168 mengembangkan produk Vio-Friend, pupuk hayati cair yang menggunakan hasil riset dan bahan baku dari Indonesia.

“Ini adalah satu langkah bagaimana kita bisa turut mendukung Jawa Barat menuju ke organik dan juga mendukung program nasional swasembada pangan,” ujar Guntur.

Ia menjelaskan, sistem pemupukan berimbang memadukan sekitar 50 persen NPK dan urea dengan pupuk hayati cair. Sementara itu, sejumlah lokasi lain juga menerapkan pola pemupukan yang lebih dominan organik.

Selain meningkatkan produktivitas, Guntur menyebut penggunaan pupuk hayati juga bertujuan membantu menjaga kesehatan tanah serta meningkatkan efisiensi biaya produksi. Dalam penerapannya, kebutuhan Vio-Friend untuk satu hektare lahan mencapai sekitar enam liter.

Demplot di Ciparay juga menjadi bagian dari pengembangan yang dilakukan di sejumlah daerah. Guntur menyebut pihaknya telah menyiapkan demplot di Bantul, Yogyakarta, Temanggung, Jawa Tengah, serta beberapa wilayah lain seperti Lampung dan Papua.

“Total untuk musim tanam ini ada sekitar 20,2 hektare yang kita siapkan demplot,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki 4, H. Anang Paturohman, menyambut positif pendampingan dan dukungan terhadap petani melalui kegiatan tersebut. Ia menilai komitmen Dadang M. Naser terhadap sektor pertanian tetap berjalan meskipun terjadi perubahan penugasan komisi di DPR RI.

“Yang terpenting adalah komitmen beliau terhadap sektor pertanian yang terus berjalan. Terima kasih sudah terus mendorong kemajuan kami,” ujar Anang.

Anang juga mengapresiasi dukungan PT Intani melalui penyediaan pupuk Pureplant dan Humiqueen untuk lahan demplot. Menurutnya, Humiqueen membantu memperbaiki struktur tanah sehingga kondisi kesuburan lahan tetap terjaga.

Ia menyebut kelompok tani juga memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi lahan.

“Biasanya di lahan seluas kurang lebih 1,2 hektare ini, hasil panen kami sekitar 8,8 ton. Namun, sekarang perkiraan kami dari pihak petani, hasilnya bisa melewati 9 ton,” katanya.

Dengan hasil tersebut, panen demplot Ciparay menunjukkan peluang peningkatan produktivitas melalui kombinasi teknologi, pemupukan berimbang, dan pengelolaan tanah yang lebih terukur. Karena itu, pengembangan demplot dapat menjadi bahan evaluasi bagi petani sebelum menerapkan pola serupa pada lahan yang lebih luas.

Dadang berharap hasil tersebut tidak berhenti sebagai capaian satu musim tanam. Ia mendorong konsistensi produktivitas dan peningkatan kualitas beras agar petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik.

“Ini petani unggul dan harganya harus beda. Ini organik. Padi ini sangat berkualitas dibanding padi yang murni menggunakan NPK dan urea. Kalau ini ada gabungannya, dasarnya tetap organik,” ujar Dadang.

Melalui penguatan produktivitas, pengembangan pupuk hayati, serta perluasan demplot di berbagai daerah, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mendorong sektor pertanian Jawa Barat agar semakin produktif. Pada saat yang sama, langkah itu diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah dan mendukung target swasembada pangan nasional.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.