26.7 C
Bandung
Kamis, Okt 22, 2026
Info Burinyay
Kab. BandungPemerintahan

Dadang Supriatna Dorong 160 Ribu Santri Kabupaten Bandung Siap Jadi Pemimpin Masa Depan

Bupati Bandung Dadang Supriatna menyampaikan pesan kepada 160 ribu santri saat Hari Santri Nasional 2026
Bupati Bandung Dr. H. M. Dadang Supriatna, S.Ip., M.Si., saat memberikan keterangan kepada awak media dalam momentum Peringatan Hari Santri Nasional ke-11 tingkat Kabupaten Bandung di Soreang, Kamis (22/10/2026). Foto:Info Burinyay/Lee

Soreang, Info Burinyay – Bupati Bandung Dadang Supriatna mendorong para santri untuk terus meningkatkan kapasitas diri, memperkuat karakter, dan berani mengambil peran strategis dalam pembangunan bangsa. Ia menilai santri memiliki potensi besar untuk mengisi berbagai posisi penting, mulai dari aparat negara, pengusaha, politisi, hingga pemimpin masa depan.

Dadang menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 tingkat Kabupaten Bandung yang dirangkaikan dengan Pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-48. Kegiatan itu berlangsung di Lapangan Upakarti, Soreang, Kamis (22/10/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Dadang menyoroti besarnya potensi sumber daya manusia dari lingkungan pesantren. Menurutnya, Kabupaten Bandung memiliki sekitar 160.000 santri yang dapat mengambil peran penting dalam menyiapkan estafet kepemimpinan nasional.

“Kita mempunyai aset yang sangat luar biasa, yaitu sekitar 160.000 santri di Kabupaten Bandung. Ini menjadi potensi untuk mengawal persiapan estafet kepemimpinan pada masa yang akan datang,” ujar Dadang.

Ia optimistis lingkungan pesantren mampu melahirkan generasi unggul di berbagai bidang. Selain itu, ia menegaskan bahwa karakter dan akhlak menjadi modal penting bagi santri untuk meraih keberhasilan sekaligus menjalankan tanggung jawab kepada masyarakat.

“Dari santri akan lahir para polisi yang hebat dan sukses, para TNI yang sukses, para pengusaha yang sukses, politisi yang sukses, dan para pemimpin yang sukses. Kenapa? Karena modal karakter dan akhlak itu penting,” katanya.

Dadang juga mengingatkan para santri agar memahami nilai sejarah perjuangan ulama dan pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia mengaitkan semangat Hari Santri dengan Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945.

Menurutnya, nilai perjuangan tersebut harus terus menginspirasi generasi muda untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, ia mengajak para santri berkontribusi dalam menjaga stabilitas, keamanan, dan persatuan bangsa.

“Maka wajib artinya santri untuk mengamankan stabilitas dan keamanan serta menyatukan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini,” tegasnya.

Selain menyoroti peran santri dalam kepemimpinan, Dadang menekankan pentingnya dukungan pemerintah terhadap perkembangan pesantren. Ia menilai perhatian terhadap sarana dan prasarana, kegiatan dakwah, serta pendidikan karakter perlu berjalan beriringan.

Menurutnya, arah perhatian tersebut selaras dengan kebijakan pemerintah pusat, termasuk keberadaan Undang-Undang Pesantren. Karena itu, pemerintah daerah perlu mengambil peran dalam mendukung kebutuhan pendidikan dan pengembangan karakter para santri.

“Pemerintah daerah harus hadir untuk memperhatikan. Adanya Undang-Undang Pesantren merupakan suatu perhatian dari pemerintah. Maka, sarana prasarana, termasuk dakwah dan pendidikan karakter, juga sangat penting,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Bandung sekaligus Sekretaris PCNU Kabupaten Bandung, H. Imron Rosadi, menjelaskan bahwa peringatan Hari Santri menjadi bentuk apresiasi terhadap sejarah perjuangan santri, kiai, dan ulama.

Ia menyebutkan, kekuatan pergerakan dari lingkungan pondok pesantren turut mewarnai perjalanan sejarah bangsa. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Bandung memadukan peringatan Hari Santri dengan penyelenggaraan MTQ ke-48 tingkat kabupaten.

“Pemda Kabupaten Bandung menyelenggarakan Hari Santri Nasional secara rutin sebagai bentuk apresiasi terhadap kesejarahan dan kebangkitan kekuatan pergerakan para santri, kiai, serta ulama dari basis-basis pondok pesantren,” kata Imron.

Ia menambahkan, penyelenggaraan MTQ juga membuka kesempatan bagi para santri untuk menunjukkan kemampuan, mengembangkan potensi, dan mengukir prestasi melalui kegiatan keagamaan.

Dukungan terhadap peringatan Hari Santri juga terlihat dari keterlibatan organisasi perempuan Nahdlatul Ulama. Ketua Fatayat NU Kabupaten Bandung, Susanti, S.Pd.I., menyampaikan bahwa pihaknya mendapat amanah untuk mengirimkan perwakilan sebagai petugas upacara.

Dalam kegiatan tersebut, Susanti membawa 30 anggota paduan suara serta 150 peserta upacara yang berasal dari 31 kecamatan di Kabupaten Bandung.

Ia berharap peringatan Hari Santri tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Sebaliknya, momentum ini harus memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat untuk menjaga nilai perjuangan santri dan meneguhkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.

“Semoga Hari Santri Nasional ini bukan hanya momentum, tetapi juga membuktikan bahwa perjuangan santri tidak akan lenyap dan tetap kokoh. Ahlussunnah wal Jama’ah akan selalu ditegakkan di Kabupaten Bandung,” ujar Susanti.

Susanti juga menyampaikan apresiasi kepada Bupati Bandung atas penghargaan yang diberikan kepada Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Bandung. Ia berkomitmen menjaga amanah tersebut serta mengembangkan organisasi agar semakin maju dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, H. Asep Kusumah, S.Sos., M.Si., turut menyampaikan pesan bagi para santri. Ia mengajak mereka menjadikan peringatan Hari Santri sebagai kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan dan memperkuat pengabdian kepada bangsa.

“Selamat memperingati Hari Santri. Jadikan ini momentum untuk terus meningkatkan pengetahuan, ilmu, dan tentu komitmen pengabdian untuk cinta tanah air,” kata Asep.

Pesan serupa datang dari Neni Rupaida, Guru Ngaji asal Margahayu. Ia hadir bersama 33 perwakilan Guru Ngaji dari wilayah Margahayu Dapil 2 untuk mengikuti peringatan Hari Santri di Soreang.

Menurut Neni, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat sinergi antara guru ngaji dan program Pemerintah Kabupaten Bandung, khususnya dalam upaya memberantas buta aksara Al-Qur’an.

“Kami hadir dalam rangka memperingati Hari Santri. Peringatan ini bersinergi dengan para guru ngaji untuk mengikutsertakan apa yang telah dicanangkan oleh Bapak Bupati, khususnya dalam program pengentasan buta aksara Al-Qur’an,” tuturnya.

Neni juga mengingatkan para santri dan guru ngaji agar menjaga adab, memelihara silaturahmi, serta mengedepankan tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, ia mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Ia turut menekankan pentingnya penerapan tiga kata ajaib dalam interaksi sosial sebagai bagian dari pembentukan karakter. Neni pun menyampaikan terima kasih atas dukungan Bupati Bandung terhadap para guru ngaji.

Rangkaian peringatan Hari Santri Nasional ke-11 dan pembukaan MTQ ke-48 tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pesantren, organisasi keagamaan, dan masyarakat. Melalui kolaborasi itu, Kabupaten Bandung diharapkan mampu memperkuat pendidikan keagamaan sekaligus menyiapkan generasi santri yang berkarakter, berprestasi, dan siap berkontribusi bagi masa depan bangsa.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.