Sabtu, Agu 15, 2026
Info Burinyay
Kota BandungSeni Budaya

Bale Rumawat ke-110 Unpad: Tembang Cianjuran Bangkit, Generasi Muda Turut Tampil

Bale Rumawat ke-110 Unpad tampilkan Tembang Cianjuran dan regenerasi seni Sunda
Pergelaran Bale Rumawat ke-110 Universitas Padjadjaran (Unpad) mengusung tema “Ngaderes Cianjuran” di Aula Graha Sanusi, Bandung, Jumat (14/8/2026). Pementasan menghadirkan seni Tembang Cianjuran sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk ikut melestarikan budaya Sunda. (Foto: Info Burinyay/yk)

Bandung, Info Burinyay — Pusat Budaya Sunda Universitas Padjadjaran (Unpad) kembali membuka ruang bagi kesenian tradisional melalui Bale Rumawat ka-110. Kali ini, kegiatan tersebut mengangkat tema “Ngaderes Cianjuran”.

Pergelaran berlangsung di Aula Graha Sanusi, Kampus Unpad, Jalan Dipatiukur Nomor 35, Kota Bandung, Jumat (14/8/2026). Selain menghadirkan seniman senior, acara ini juga memberi panggung kepada sejumlah seniman muda.

Langkah tersebut sekaligus menjawab tantangan regenerasi seni tradisional Sunda. Sebab, keberlanjutan kesenian membutuhkan generasi baru yang mau belajar, tampil, dan mengenalkan kembali seni tradisi kepada masyarakat.

Kepala Pusat Budaya Sunda Unpad sekaligus mantan Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, menilai pelestarian budaya membutuhkan tindakan nyata. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya membahas kondisi budaya melalui seminar atau diskusi.

“Sulit untuk mengatakan perkembangan budaya Sunda dalam kondisi memprihatinkan. Yang saya lihat, kita justru lebih banyak melakukan seminar dan diskusi yang isinya mengeluhkan kondisi pelestarian budaya,” ujar Prof. Ganjar.

Menurut Ganjar, masyarakat perlu mengubah kebiasaan mengeluh menjadi gerakan konkret. Karena itu, ia mendorong berbagai pihak untuk menyediakan ruang bagi seniman agar terus berkarya.

“Mengeluh tanpa tindakan itu penyakit. Yang paling penting adalah melangkah dan melakukan upaya konkret agar kesenian Sunda tidak ditinggalkan,” katanya.

Selanjutnya, Pusat Budaya Sunda Unpad menjalankan pendekatan tersebut melalui Bale Rumawat. Program ini secara konsisten menghadirkan pertunjukan seni sekaligus mempertemukan seniman dari berbagai generasi.

Ganjar juga mengajak seniman muda untuk memanfaatkan panggung apresiasi tanpa selalu menjadikan persoalan materi sebagai pertimbangan utama. Menurutnya, panggung publik dapat menjadi bagian dari proses latihan sekaligus sarana memperkenalkan karya.

“Anggap saja seperti memindahkan tempat latihan dari rumah atau sanggar ke panggung umum agar dapat diapresiasi oleh masyarakat luas,” ucap Ganjar.

Sementara itu, pelaku seni muda melihat persoalan regenerasi dari sisi yang berbeda. Rizal Tri Lazuar, siswa SMKN 10 Bandung sekaligus seniman tembang Sunda, mengakui bahwa kalangan senior masih mendominasi komunitas pelaku dan penikmat seni tradisi Sunda.

Menurut Rizal, tingkat kesulitan seni tradisional menjadi salah satu tantangan bagi generasi muda. Anak muda membutuhkan waktu dan ketekunan untuk menguasai teknik vokal serta memahami karakter tembang.

“Tingkat kesulitan yang tinggi membuat sebagian besar anak muda enggan menggelutinya. Regenerasi memang ada, tetapi jumlahnya relatif kecil. Kebanyakan peminatnya masih dari kalangan orang tua,” kata Rizal.

Namun, Rizal tetap melihat peluang bagi generasi muda untuk masuk ke dunia seni tradisi. Ia sendiri mendapat dukungan dari lingkungan sekitar untuk terus mempelajari tembang Sunda.

Karena itu, Rizal berharap para tokoh Sunda dan instansi terkait meningkatkan perhatian terhadap kesenian tradisional. Ia secara khusus menyoroti Tembang Cianjuran yang memiliki karakter khas dan nilai budaya yang kuat.

Menurutnya, perhatian tersebut dapat membantu seniman muda memperoleh ruang belajar dan tampil. Pada saat yang sama, masyarakat juga dapat mengenal seni tradisi melalui pertunjukan yang lebih terbuka.

Pada Bale Rumawat ka-110, Pusat Budaya Sunda Unpad mengajak penonton melihat perjalanan panjang Tembang Cianjuran.

Pergelaran “Ngaderes Cianjuran” menelusuri perkembangan seni tersebut sejak abad ke-19. Pertunjukan mengawali perjalanan dengan Kawih Papantunan dan Jejemplangan pada paruh kedua abad ke-19.

Kemudian, perkembangan Tembang Cianjuran memasuki fase Tembang Rarancagan dan Dedegungan pada awal abad ke-20. Setelah itu, Kawih Kakawen dan Panambih turut berkembang pada era 1920–1930-an.

Selanjutnya, tradisi tersebut terus mengalami perkembangan hingga memasuki abad ke-21. Perjalanan itu menunjukkan bahwa Tembang Cianjuran tidak berhenti pada satu bentuk, tetapi terus beradaptasi dalam perjalanan sejarahnya.

Selain menampilkan perjalanan sejarah, Bale Rumawat ka-110 juga memperlihatkan wajah regenerasi. Panitia menghadirkan sejumlah pangawih muda dari kalangan pelajar.

Mereka antara lain Fika Zaskia dari SMAN 1 Bandung, Haidar Rasyiddanallah dari SMAN 11 Bandung, serta Rizal Tri Lazuar dari SMKN 10 Bandung.

Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam pementasan. Pasalnya, panggung tersebut memperlihatkan bahwa pelajar masih memiliki ruang untuk mempelajari dan menampilkan Tembang Cianjuran.

Selain pangawih muda, Bale Rumawat ka-110 juga menghadirkan sejumlah jawara Pasanggiri Cianjuran Damas. Mereka terdiri atas Taufik Mukariman, Sony Riza Windyagiri, Sri Ningsih, GJ Setra, Arif Budiman, Arif Rachman Hakim, Puji Puspita, dan Inten Kumala.

Kemudian, sejumlah maestro dan pangawih senior ikut memperkuat pertunjukan. Mereka antara lain Hery Siheryanto, Elis Rosliani, Mae Nurhayati, Ani Sukmawati, Rosyanti, Mustika Iman, serta Dedah Tajudin.

Pertemuan lintas generasi tersebut memiliki arti penting bagi proses regenerasi. Seniman muda dapat melihat langsung pengalaman para senior. Sebaliknya, generasi senior memperoleh ruang untuk memperkenalkan tradisi kepada calon penerus.

Dengan pola seperti itu, Bale Rumawat tidak hanya berfungsi sebagai panggung pertunjukan. Kegiatan ini juga membuka ruang interaksi antara pelajar, seniman muda, maestro, dan masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Pusat Budaya Sunda Unpad memberikan penghargaan kepada HD Bastaman. Pusat Budaya Sunda menilai tokoh tersebut konsisten merawat dan mengembangkan seni Cianjuran.

HD Bastaman juga memperkuat pelestarian melalui karya literasi. Salah satunya melalui buku berjudul “Katumbiri Tembang Sunda”.

Penghargaan tersebut melengkapi pesan utama Bale Rumawat ka-110. Pelestarian seni membutuhkan ruang pertunjukan, proses regenerasi, dokumentasi, dan dukungan masyarakat.

Dengan demikian, pelestarian Tembang Cianjuran dapat berjalan melalui berbagai jalur. Panggung seni menjadi tempat generasi muda berlatih dan tampil. Sementara itu, karya literasi membantu masyarakat memahami perjalanan serta kekayaan tradisi tersebut.

Pada akhirnya, Bale Rumawat ka-110 menunjukkan bahwa pelestarian budaya Sunda membutuhkan tindakan yang berkelanjutan. Pergelaran seni dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan antara tradisi dan generasi baru.

Karena itu, regenerasi tidak cukup hanya dengan mengenalkan nama atau sejarah kesenian. Generasi muda perlu mendapat kesempatan untuk belajar, berlatih, tampil, dan memperoleh apresiasi.

Bale Rumawat ka-110 melalui “Ngaderes Cianjuran” memperlihatkan langkah tersebut secara langsung. Panggung mempertemukan seniman muda dan senior. Masyarakat pun mendapat kesempatan menikmati sekaligus mengenal kembali perjalanan Tembang Cianjuran.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.