28.7 C
Bandung
Senin, Agu 31, 2026
Info Burinyay
Jawa BaratPeristiwa

ITB Peduli Bangun 150 Shelter Bambu dan Fasilitas Air Bersih bagi Penyintas Gempa Flores

Menteri Dikti Saintek Brian Yuliarto mengunjungi shelter bambu penyintas gempa NTT
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., mengunjungi shelter bambu bagi penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur. (Foto:Info Burinyay/yk)

Bandung, Info Burinyay — Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui ITB Peduli bersama Rumah Amal Salman memperkuat respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut menimbulkan kerusakan pada sejumlah bangunan warga dan fasilitas umum. Rumah sakit serta masjid juga ikut terdampak. Selain kerusakan fisik, gempa susulan turut meningkatkan kekhawatiran masyarakat.

Karena itu, sebagian warga memilih tetap tinggal di lokasi pengungsian. Mereka belum berani kembali ke rumah yang mengalami kerusakan. Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap tempat berlindung sementara dan akses air bersih.

Menjawab kebutuhan itu, ITB Peduli menghadirkan bantuan yang memadukan dukungan kemanusiaan dengan pendekatan berbasis keilmuan. Tim tidak hanya menyalurkan logistik. Mereka juga melakukan asesmen dan merancang fasilitas sesuai kondisi masyarakat di lapangan.

Tim ITB Peduli berangkat menuju Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, pada pertengahan Agustus 2026. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah tersebut termasuk kawasan yang mengalami dampak cukup berat akibat gempa.

Setelah tiba, tim langsung melakukan observasi. Mereka memetakan kondisi rumah warga, lokasi pengungsian, hingga fasilitas kesehatan. Selanjutnya, hasil asesmen menjadi dasar untuk menentukan bentuk bantuan yang paling mendesak.

Salah satu kebutuhan utama muncul dari warga yang kehilangan rasa aman setelah rumah mereka mengalami kerusakan. Karena itu, tim memprioritaskan pembangunan shelter atau tempat berlindung sementara.

ITB Peduli kemudian membangun dua model shelter, yakni tenda keluarga dan tenda komunal tipe A. Hingga tahap pelaksanaan saat ini, sebanyak 15 unit tenda telah berdiri di sejumlah wilayah. Lokasinya tersebar di Reok, Ronting, dan Pota.

Selain membangun fasilitas, tim juga melibatkan masyarakat dalam proses pengerjaan. Warga tidak hanya menerima bantuan. Mereka juga memperoleh pelatihan untuk membuat shelter secara mandiri.

Pendekatan tersebut memungkinkan masyarakat memiliki keterampilan yang dapat mereka gunakan kembali sesuai kebutuhan. Dengan demikian, proses pemulihan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.

Dosen Program Studi Arsitektur ITB, Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T., merancang shelter tipe A dengan struktur utama berbahan bambu.

Andry mempertimbangkan sejumlah faktor dalam rancangan tersebut. Ketersediaan material lokal menjadi salah satu pertimbangan utama. Selain itu, tim juga memperhitungkan kemudahan konstruksi, kecepatan pembangunan, efisiensi biaya, serta kenyamanan penghuni.

“Konsep dasarnya dapat dirumuskan sebagai shelter yang mudah, cepat, murah, tetapi tetap memberikan volume ruang yang maksimal. Struktur A-frame dipilih karena secara struktural efisien dan sederhana untuk dibangun,” ujar Andry kepada RRI, Minggu (30/8/2026).

Menurut Andry, rancangan tersebut sesuai dengan karakter penanganan bencana. Situasi pascabencana sering menghadirkan keterbatasan material, tenaga kerja, dan peralatan.

Karena itu, tim memilih sistem konstruksi yang dapat dikerjakan masyarakat dengan teknologi sederhana. Struktur dasar shelter dapat menggunakan sedikitnya 12 batang bambu.

Tim menempatkan material pada atau mendekati batas selubung bangunan. Dengan cara tersebut, struktur tidak banyak mengurangi area di dalam shelter.

Hasilnya, keluarga tetap memperoleh ruang yang cukup untuk beristirahat. Pada saat yang sama, penghuni juga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari di dalam shelter.

Selain itu, masyarakat dapat mengolah bambu menggunakan peralatan sederhana. Golok dan gergaji, misalnya, sudah cukup untuk mengerjakan material tersebut. Untuk sambungan, warga dapat menggunakan mur dan baut atau tali.

“Bambu bukan hanya dipilih karena murah atau tersedia secara lokal, tetapi karena karakter material dan sistem A-frame memungkinkan tercapainya tiga tujuan utama shelter pascabencana, yaitu mudah dibangun, cepat dibangun, dan murah,” jelas Andry.

Rancangan tersebut juga memperhatikan kondisi iklim setempat. Bentuk atap yang tinggi membantu mengarahkan udara panas ke bagian atas shelter. Sementara itu, bukaan pada sisi bangunan membantu memperlancar sirkulasi udara.

Khusus tenda keluarga, tim menambahkan jendela dengan kasa nyamuk. Fasilitas tersebut meningkatkan kenyamanan penghuni. Selain itu, kasa membantu mengurangi gangguan serangga selama warga menempati shelter.

Selain tempat tinggal sementara, ITB Peduli menemukan kebutuhan mendesak terhadap air bersih. Karena itu, tim membangun sistem penyediaan air secara bertahap di kawasan pengungsian.

Proses tersebut mencakup pengadaan tandon dan pembangunan jaringan perpipaan. Tim kemudian menghubungkan jaringan tersebut dengan titik distribusi yang dapat digunakan masyarakat.

Di kawasan pengungsian Ronting, sekitar 500 warga membutuhkan akses air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tim memasang dua tandon dengan kapasitas masing-masing 2.200 liter.

Selanjutnya, tim memasang jaringan pipa berbahan high-density polyethylene (HDPE). Jaringan itu terhubung dengan enam hidran umum.

Fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh air secara komunal. Karena itu, warga dapat memenuhi kebutuhan dasar dengan akses yang lebih teratur. Pada saat yang sama, keberadaan air bersih turut mendukung kebersihan dan kesehatan selama masa pengungsian.

Respons ITB Peduli juga melibatkan berbagai pihak. Pada 25 Agustus 2026, tim menyalurkan tenda melalui kerja sama dengan Universitas Katolik Indonesia.

Pada tanggal yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto meninjau langsung shelter tipe A yang telah berdiri di NTT.

Brian mengapresiasi langkah ITB Peduli dalam menghadirkan solusi yang menyesuaikan kondisi lokal. Menurutnya, pemanfaatan potensi setempat dapat memperkuat efektivitas bantuan bagi masyarakat terdampak bencana.

“Program ITB Peduli ini adalah program yang sangat baik. Salah satunya adalah menyiapkan pembangunan tempat tinggal sementara dengan mengandalkan infrastruktur yang berasal dari kondisi lokal,” ujar Brian.

Selanjutnya, Brian berharap gerakan kampus berdampak tersebut terus berkembang. Menurut dia, perguruan tinggi dapat memperluas kontribusinya melalui berbagai bentuk bantuan yang benar-benar masyarakat butuhkan.

Di sisi lain, ITB Peduli juga menyiapkan dukungan bagi sektor kesehatan. Tim bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dan Paragon Corp merencanakan pembangunan shelter untuk mendukung kebutuhan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak.

Program ITB Peduli bersama Rumah Amal Salman masih berlangsung. Karena itu, tim terus mengembangkan sejumlah target bantuan untuk masyarakat terdampak.

Program tersebut menargetkan pembangunan hingga 150 shelter. Selain itu, tim menyiapkan lima Instalasi Pengolahan Air (IPA).

Tim juga menargetkan penyaluran 300 paket sembako dan hygiene kit. Selanjutnya, mereka akan memperluas jaringan pipanisasi untuk memperkuat akses air bersih masyarakat.

Di samping itu, program mencakup pembangunan dua community shelter. Tim ITB juga akan memberikan pendampingan teknis selama proses pemulihan berlangsung.

Gerakan tersebut melibatkan sejumlah unsur. Di antaranya DPMK ITB, IA-ITB, IOM ITB, KM ITB, YPM Salman, Rumah Amal Salman, serta para donatur.

Kolaborasi itu memperlihatkan bahwa penanganan bencana membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, perguruan tinggi, organisasi kemanusiaan, masyarakat, dan sektor swasta dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Kehadiran ITB Peduli di NTT menunjukkan peran perguruan tinggi dalam penanganan bencana. Kampus tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian. Dalam situasi darurat, keahlian akademik juga dapat menghasilkan solusi yang langsung digunakan masyarakat.

Proses tersebut dimulai melalui asesmen lapangan. Setelah itu, tim memetakan kebutuhan dan menyusun rancangan. Selanjutnya, masyarakat ikut mengerjakan pembangunan.

Pendekatan tersebut membuat bantuan tidak berhenti pada penyerahan fasilitas. Tim juga mentransfer pengetahuan kepada warga. Dengan bekal tersebut, masyarakat dapat melanjutkan pembangunan shelter secara lebih mandiri.

Di tengah ancaman gempa susulan, keberadaan shelter memberikan pilihan tempat berlindung bagi keluarga yang belum berani kembali ke rumah. Sementara itu, jaringan air bersih membantu memenuhi kebutuhan dasar warga di pengungsian.

Lebih jauh, pemanfaatan bambu lokal memperlihatkan bagaimana teknologi sederhana dapat menjawab kebutuhan darurat. Material yang tersedia di sekitar masyarakat dapat menjadi bagian dari solusi ketika tim merancang sistem yang tepat.

Karena itu, program ITB Peduli tidak hanya berbicara tentang pembangunan tenda. Program tersebut juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan, kolaborasi, dan potensi lokal dapat berjalan bersama dalam proses pemulihan pascabencana.

Melalui pembangunan shelter, penyediaan air bersih, pelatihan warga, serta pendampingan teknis, ITB Peduli berupaya membantu masyarakat Flores melewati masa tanggap darurat sekaligus menyiapkan fondasi pemulihan yang lebih mandiri.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.