Tasikmalaya, Info Burinyay – Desainer kebaya asal Kabupaten Tasikmalaya, Dea Mardiyanti, mewakili PDI Perjuangan (PDIP) Kabupaten Tasikmalaya pada ajang Fatmawati Trophy Jawa Barat. Kegiatan berlangsung di Bandung pada 7–8 Juli 2026. Dea membawa rancangan kebaya bertema “Maeroh” sebagai identitas karya yang mengangkat kekayaan budaya Nusantara.
Fatmawati Trophy menjadi salah satu agenda budaya yang digelar DPD PDI Perjuangan Jawa Barat. Kegiatan ini bertujuan menghormati perjuangan Fatmawati Soekarno. Selain itu, panitia ingin mendorong lahirnya desainer muda yang mampu melestarikan kebaya sebagai warisan budaya Indonesia.
Selama dua hari, panitia menghadirkan sejumlah kegiatan. Peserta mengikuti lomba desain kebaya dan kerudung. Panitia juga menggelar bedah buku karya Fatmawati Soekarno. Selanjutnya, para desainer menampilkan hasil rancangan mereka dalam peragaan busana. Tidak hanya itu, panitia meluncurkan komunitas olahraga dan otomotif. Kemudian, DPD PDIP Jawa Barat mengukuhkan Wanoja Perjuangan Jawa Barat sebagai organisasi yang mengusung kepemimpinan perempuan.
Acara tersebut mendapat perhatian berbagai tokoh nasional. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, hadir bersama jajaran pengurus DPD PDI Perjuangan Jawa Barat. Kehadiran mereka memperkuat pesan tentang pentingnya pemberdayaan perempuan melalui budaya, pendidikan, dan industri kreatif.
Sementara itu, Dea Mardiyanti menjelaskan bahwa tema “Maeroh” lahir dari kecintaannya terhadap budaya Sunda. Ia ingin menghadirkan kebaya yang tetap menjaga nilai tradisi. Namun, ia juga ingin menghadirkan sentuhan modern agar kebaya semakin dekat dengan generasi muda.
“Kebaya bukan hanya pakaian. Kebaya mencerminkan identitas, karakter, dan semangat perempuan Indonesia. Karena itu, saya memilih tema Maeroh sebagai simbol kekuatan budaya lokal,” ujar Dea.
Selain mengedepankan filosofi budaya, Dea juga memperhatikan setiap unsur desain. Ia memilih warna, motif, dan detail ornamen secara cermat. Dengan demikian, seluruh elemen mampu membentuk karakter kebaya yang anggun sekaligus berkelas.
Di sisi lain, panitia berharap Fatmawati Trophy mampu melahirkan karya-karya terbaik dari berbagai daerah di Jawa Barat. Melalui kompetisi ini, setiap peserta memperoleh ruang untuk menampilkan kreativitas. Mereka juga dapat memperkenalkan kekayaan budaya daerah melalui desain kebaya dan kerudung.
Lebih lanjut, ajang tersebut menjadi sarana memperkuat semangat nasionalisme. Para peserta menunjukkan bahwa busana tradisional tetap memiliki daya tarik tinggi. Bahkan, kebaya mampu berkembang mengikuti tren tanpa kehilangan nilai budaya.
Keikutsertaan Dea Mardiyanti menjadi bukti bahwa desainer daerah mampu bersaing di tingkat provinsi. Melalui tema “Maeroh”, ia tidak hanya menampilkan karya fesyen. Ia juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga budaya, menghargai warisan bangsa, dan memperkuat peran perempuan Indonesia melalui kreativitas.
Dengan semangat tersebut, Fatmawati Trophy diharapkan terus menjadi ruang kolaborasi bagi para desainer muda. Ajang ini sekaligus memperkuat posisi kebaya sebagai identitas budaya Indonesia yang tetap relevan di tengah perkembangan dunia mode modern.
