Minggu, Mei 17, 2026
Info Burinyay
Opini

Banjir Informasi Digital Ancam Budaya Membaca, Indonesia Darurat Literasi

Hermansyah Kahir penulis buku Santri 4.0 dalam ilustrasi Hari Buku Nasional bertema tantangan budaya membaca di era banjir informasi digital.
Hermansyah Kahir, penulis buku Santri 4.0, mengajak generasi muda membangun kembali budaya membaca di tengah derasnya arus informasi instan dan media sosial pada momentum Hari Buku Nasional. - Foto:infoburinyay/red

Di tengah derasnya arus informasi digital, manusia modern menghadapi paradoks besar. Informasi hadir di mana-mana, tetapi pemahaman justru semakin dangkal. Setiap hari masyarakat menerima video singkat, potongan berita, hingga opini yang terus berseliweran di media sosial. Ironisnya, ketika akses informasi semakin mudah, budaya membaca buku justru terus menurun.

Sejak dahulu, buku selalu menjadi fondasi utama kemajuan peradaban. Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa besar lahir dari masyarakat yang memiliki tradisi literasi kuat. Karena itu, novelis asal Prancis, Milan Kundera, pernah mengatakan bahwa untuk menghancurkan sebuah bangsa, cukup hancurkan buku-bukunya. Ketika masyarakat meninggalkan buku, arah pemikiran bangsa perlahan ikut menghilang.

Buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi tulisan. Buku menyimpan gagasan, pengalaman, sejarah, ilmu pengetahuan, hingga nilai moral yang diwariskan lintas generasi. Melalui buku, manusia belajar memahami dunia, membaca perubahan zaman, sekaligus membangun cara berpikir kritis.

Indonesia memiliki sejarah panjang tentang tokoh besar yang tumbuh bersama buku. Soekarno dan Mohammad Hatta dikenal sebagai pecinta buku sejati. Mereka membangun bangsa ini melalui perjuangan fisik sekaligus kekuatan literasi. Buku membentuk cara pandang mereka tentang kemerdekaan dan masa depan Indonesia.

Karena itu, peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini harus menjadi pengingat bahwa budaya membaca di Indonesia sedang menghadapi tantangan serius. Saat ini masyarakat lebih akrab dengan aktivitas scrolling dibandingkan membaca mendalam. Mereka mengonsumsi informasi secara cepat, singkat, dan instan. Akibatnya, banyak orang menerima informasi tanpa proses verifikasi atau tabayyun.

Fenomena tersebut semakin mengkhawatirkan ketika hoaks dan fitnah menyebar hanya dalam hitungan detik. Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan kemampuan membaca kritis sebagai benteng utama. Namun kemampuan itu sulit tumbuh tanpa kebiasaan membaca buku secara konsisten.

Realitas literasi Indonesia memang belum menggembirakan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat Indonesia pada 2025 masih berada di kategori rendah. Banyak faktor memengaruhi kondisi tersebut. Salah satunya ialah keterbatasan akses terhadap buku dan fasilitas literasi, terutama di daerah pedesaan serta kelompok masyarakat kurang mampu.

Selain itu, penggunaan teknologi digital yang berlebihan ikut menurunkan minat baca masyarakat. Media sosial menghadirkan hiburan cepat yang sering terasa lebih menarik dibandingkan buku. Akibatnya, banyak generasi muda kehilangan kesabaran untuk membaca teks panjang dan mendalam. Mereka lebih nyaman menikmati potongan informasi singkat daripada memahami persoalan secara utuh.

Padahal membaca memberi manfaat jauh lebih besar dibanding sekadar memperoleh informasi. Membaca melatih konsentrasi, memperluas wawasan, memperkuat daya analisis, serta membentuk kedewasaan berpikir. Orang yang gemar membaca biasanya lebih siap menghadapi perubahan karena terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

Karena itu, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap aktivitas membaca. Selama ini banyak pelajar menganggap membaca hanya berkaitan dengan tugas sekolah atau kewajiban akademik. Akibatnya, membaca terasa membosankan dan penuh tekanan. Padahal membaca merupakan kebutuhan hidup yang sangat penting.

Dalam perspektif keagamaan, membaca menjadi pintu utama memperoleh ilmu pengetahuan. Banyak ulama besar tumbuh melalui tradisi membaca yang kuat. Tokoh seperti Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, hingga Abdurrahman Wahid menunjukkan kecintaan luar biasa terhadap buku. Mereka memahami bahwa membaca menjadi jalan tercepat untuk belajar dari pengalaman dan sejarah manusia.

Namun membangun budaya membaca tidak bisa hanya mengandalkan individu. Keluarga memegang peran penting dalam menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Orang tua perlu memberi teladan melalui kebiasaan membaca di rumah. Selain itu, keluarga perlu menghidupkan budaya diskusi agar anak terbiasa berpikir kritis dan menyampaikan pendapat.

Langkah sederhana seperti menyediakan perpustakaan mini, mengajak anak ke toko buku, atau membatasi penggunaan gawai saat berkumpul bersama keluarga dapat memberi dampak besar. Anak-anak biasanya meniru kebiasaan orang-orang di sekitarnya. Karena itu, keluarga harus menjadi ruang pertama yang menumbuhkan kecintaan terhadap buku.

Di sisi lain, sekolah dan perguruan tinggi juga perlu mengubah pendekatan pembelajaran. Guru dan dosen jangan hanya menjadikan membaca sebagai kewajiban administratif. Mereka harus mampu menghubungkan bacaan dengan realitas kehidupan generasi muda agar aktivitas membaca terasa relevan dan menyenangkan.

Selain keluarga dan lembaga pendidikan, pemerintah juga memegang tanggung jawab besar dalam membangun ekosistem literasi nasional. Pemerintah perlu memperluas akses buku murah, memperkuat perpustakaan modern, meningkatkan pemerataan infrastruktur digital, serta mendukung industri penerbitan nasional. Dukungan itu dapat hadir melalui subsidi buku pendidikan, pengurangan pajak buku, hingga distribusi buku murah ke berbagai daerah.

Masyarakat harus menjalankan gerakan literasi secara berkelanjutan. Budaya membaca tidak akan tumbuh hanya melalui slogan atau kampanye sesaat. Budaya tersebut lahir dari lingkungan yang mendukung dan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Di tengah dunia yang dipenuhi informasi cepat dan dangkal, kemampuan membaca mendalam justru menjadi kekuatan paling berharga. Generasi muda yang gemar membaca akan memiliki wawasan luas, pola pikir kritis, serta kesiapan lebih baik menghadapi masa depan.

Membangun budaya membaca bukan hanya soal meningkatkan jumlah buku yang dibaca masyarakat. Upaya tersebut merupakan investasi besar untuk membangun kualitas manusia dan masa depan bangsa. Bangsa yang kuat selalu lahir dari masyarakat yang gemar berpikir, sementara kemampuan berpikir tumbuh dari tradisi membaca yang hidup dan terjaga.

Oleh: Hermansyah Kahir
Penulis buku Santri 4.0

Editor : AR Suteja

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.