Sumedang, Info Burinyay – – Rizky Prasetya Handani, S.E., M.M., mengajak generasi muda Jawa Barat untuk mengambil peran aktif dalam melestarikan budaya Sunda melalui berbagai ruang kolaborasi, termasuk olahraga. Ajakan tersebut ia sampaikan saat menghadiri Podcast eRKS FM Sumedang bertema “Melestarikan Budaya Lewat Olahraga” yang berlangsung di kediaman Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat sekaligus Manajer Persib Bandung, H. Umuh Muchtar, di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Selasa (21/7/2026).
Dalam kegiatan itu, Rizky hadir sebagai tamu undangan yang mewakili generasi muda Jawa Barat. Podcast juga menghadirkan Ketua Majelis Adat Sunda Jawa Barat, Irjen Pol. (Purn.) Dr. H. Anton Charliyan, M.P.K.N., serta dipandu oleh host eRKS FM, Dewi Ara dan Kang Dido.
Momentum tersebut menjadi ruang dialog antara tokoh masyarakat, insan olahraga, dan generasi muda untuk membahas pentingnya menjaga identitas budaya Sunda di tengah perkembangan zaman. Selain itu, diskusi juga menyoroti peran olahraga sebagai media pemersatu sekaligus sarana memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Rizky menegaskan bahwa budaya Sunda merupakan warisan yang harus terus dihidupkan melalui tindakan nyata. Menurutnya, generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga sekaligus mengembangkan nilai-nilai budaya agar tetap relevan bagi kehidupan masyarakat modern.
“Saya meyakini bahwa kebudayaan Sunda adalah rumah yang inklusif untuk siapa saja. Budaya tidak mengotakkan kita, justru memberi kita jiwa untuk saling merangkul. Nilai-nilai itu harus terus kita rawat bersama,” ujar Rizky.
Ia menjelaskan bahwa budaya tidak cukup hanya dikenang sebagai peninggalan sejarah. Sebaliknya, budaya harus hadir dalam kepemimpinan, kehidupan sosial, pendidikan, hingga aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara langsung.
Lebih lanjut, Rizky menilai olahraga memiliki karakter yang sama dengan budaya. Keduanya mampu membangun kebersamaan, memperkuat solidaritas, dan menghapus berbagai sekat di tengah masyarakat.
“Sepak bola menyatukan jutaan hati tanpa memandang latar belakang. Budaya Sunda juga memiliki kekuatan yang sama. Karena itu, kita tidak hanya ingin melestarikan warisan leluhur di museum, tetapi juga menghidupkannya dalam tindakan nyata melalui karya, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Rizky, kolaborasi antara budaya dan olahraga dapat menjadi strategi efektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Oleh sebab itu, ia mendorong seluruh elemen masyarakat agar membuka lebih banyak ruang partisipasi bagi anak muda.
Ia juga menekankan bahwa pemuda tidak hanya menjadi penerus, melainkan harus tampil sebagai pelaku perubahan yang tetap berakar pada identitas budaya daerah.
“Pemuda Jawa Barat harus berani tampil, berkarya, dan memimpin. Namun, semua itu harus tetap berpijak pada nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh. Nilai tersebut menjadi fondasi untuk membangun kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat,” ungkapnya.
Rizky menambahkan bahwa kemajuan daerah tidak dapat dipisahkan dari kekuatan budaya lokal. Oleh karena itu, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan di berbagai sektor, termasuk pendidikan, ekonomi kreatif, olahraga, dan teknologi.
Sementara itu, H. Umuh Muchtar menyampaikan bahwa olahraga memiliki kekuatan luar biasa dalam membangun persatuan masyarakat. Menurutnya, sepak bola telah menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai kalangan.
“Olahraga mengajarkan kekompakan, kerja keras, dan kebersamaan. Nilai-nilai itu juga sejalan dengan budaya Sunda yang menjunjung tinggi persaudaraan,” kata H. Umuh Muchtar.
Senada dengan itu, Ketua Majelis Adat Sunda Jawa Barat, Anton Charliyan, mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kelestarian budaya melalui implementasi nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
“Budaya akan tetap hidup apabila masyarakat menjalankan nilai-nilainya. Karena itu, semua generasi memiliki tanggung jawab yang sama untuk merawat dan mengembangkannya,” ujar Anton Charliyan.
Podcast eRKS FM tersebut menjadi wadah pertukaran gagasan antara tokoh senior dan generasi muda. Melalui diskusi tersebut, para peserta sepakat bahwa budaya Sunda harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Bagi Rizky Prasetya Handani, pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab para sesepuh adat atau tokoh masyarakat. Sebaliknya, seluruh generasi muda harus ikut mengambil bagian melalui karya, kepemimpinan, dan aksi nyata di tengah masyarakat. Dengan semangat silih asah, silih asih, dan silih asuh, ia optimistis budaya Sunda akan tetap menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat Jawa Barat sekaligus menjadi fondasi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
