Saatnya Memerah-Putihkan Kembali Energi Ekonomi yang Bergerak di Bawah Permukaan
Oleh: Raditya Indrajaya
Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR pada 20 Mei lalu menghadirkan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar pembahasan APBN, defisit fiskal, atau target pertumbuhan ekonomi. Di balik deretan angka yang terdengar teknokratis, Presiden mencoba mengarahkan cara pandang baru terhadap ekonomi nasional.
Ia tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan. Presiden juga menekankan arah perjalanan bangsa.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027. Target tersebut menjadi pijakan menuju pertumbuhan 8 persen pada 2029. Pada saat yang sama, pemerintah ingin menekan kemiskinan, membuka lapangan kerja, menjaga stabilitas fiskal, serta mempertahankan daya tahan ekonomi nasional di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Seluruh target itu tentu penting. Namun, di tengah optimisme tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar. Apakah ekonomi Indonesia yang terlihat dalam laporan resmi benar-benar mencerminkan kekuatan ekonomi Indonesia yang sesungguhnya?
Selama bertahun-tahun masyarakat hidup bersama angka. Setiap hari publik mendengar pertumbuhan ekonomi sekian persen, investasi mencapai sekian triliun, inflasi terkendali, nilai tukar stabil, serta cadangan devisa tetap aman. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.
Namun, realitas ekonomi sering menghadirkan cerita yang berbeda.
Ekonomi nasional ibarat foto keluarga saat Lebaran. Semua orang berdiri rapi sambil tersenyum di depan kamera. Anak-anak duduk di depan. Orang dewasa berdiri di belakang. Seluruh keluarga tampak harmonis dalam satu bingkai.
Padahal beberapa menit sebelumnya mungkin terjadi rebutan kursi. Ada yang terlambat datang. Ada yang masih mencari sandal. Bahkan ada yang diam-diam memilih posisi paling depan agar masuk kamera.
Gambaran itulah yang sering muncul dalam ekonomi nasional. Permukaan terlihat rapi, tetapi dinamika di dalamnya jauh lebih rumit.
Karena itu, pidato Presiden kemarin memunculkan satu kegelisahan baru. Bisa jadi persoalan utama Indonesia bukan kekurangan aktivitas ekonomi. Justru sebaliknya, negeri ini mungkin memiliki terlalu banyak aktivitas ekonomi, tetapi sebagian energinya belum masuk sepenuhnya ke sistem nasional.
Fakta di lapangan menunjukkan aktivitas ekonomi Indonesia bergerak sangat besar. Pasar tradisional hidup setiap hari. Perdagangan desa terus berjalan. Warung-warung kecil tetap berputar meski tekanan ekonomi semakin berat. Di sektor digital, transaksi berlangsung tanpa henti setiap detik.
Selain itu, sektor strategis seperti sawit, nikel, batubara, manufaktur, perikanan, hingga jasa terus menghasilkan nilai ekonomi dalam jumlah besar. Presiden sendiri menegaskan bahwa Indonesia memiliki pasar domestik kuat dan sumber daya alam melimpah yang mampu menjadi kekuatan ekonomi dunia.
Meski begitu, pertanyaan penting tetap muncul. Jika aktivitas ekonomi sebesar itu berlangsung setiap hari, mengapa likuiditas nasional sering terasa sempit? Mengapa daya dorong ekonomi belum sepenuhnya terasa kuat di tengah masyarakat? Mengapa sebagian rakyat belum merasakan tenaga ekonomi nasional secara nyata?
Dalam konteks itulah muncul gagasan tentang “Velocity Economic Suspend”.
Istilah tersebut memang terdengar rumit. Akan tetapi, maknanya sebenarnya sederhana. Dalam teori ekonomi, uang berperan seperti darah dalam tubuh manusia. Ketika darah mengalir lancar, tubuh menjadi sehat. Sebaliknya, jika alirannya tersendat, seluruh sistem tubuh ikut terganggu.
Hal serupa terjadi dalam ekonomi. Saat uang berputar cepat, investasi tumbuh. Investasi kemudian mendorong produksi. Produksi menciptakan pekerjaan. Pekerjaan menghasilkan pendapatan. Pendapatan memicu konsumsi. Konsumsi melahirkan usaha baru. Setelah itu, roda ekonomi kembali berputar.
Masalah muncul ketika sebagian aliran tersebut tidak mengalir optimal. Uangnya ada. Transaksi terus berlangsung. Barang bergerak ke mana-mana. Namun sebagian energinya seperti menggantung di udara. Energi itu tidak hilang, tetapi juga belum masuk sepenuhnya ke mesin ekonomi nasional.
Kondisi tersebut menyerupai bendungan besar yang penuh air, tetapi saluran irigasinya belum tersambung sempurna. Air tersedia melimpah, sementara sawah di bawah masih menunggu pasokan.
Kemungkinan besar, di situlah salah satu akar persoalan ekonomi Indonesia hari ini. Sebagian energi ekonomi nasional bergerak di ruang yang tidak terlihat sepenuhnya. Sebagiannya berada di luar statistik resmi. Sebagian lagi bergerak di luar sistem formal. Bahkan tidak sedikit yang memakai jalur ekonomi yang sulit masuk radar negara.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Publik mengenal istilah under invoice, transfer pricing, trade misinvoicing, hingga dana parkir luar negeri. Selain itu, ekonomi informal juga terus tumbuh dalam skala besar.
Di area yang lebih gelap, muncul praktik illegal logging, illegal fishing, illegal mining, perjudian daring, perdagangan manusia, hingga aktivitas ekonomi berbasis aset digital yang bergerak di wilayah abu-abu regulasi.
Publik kemudian mengenal seluruh aktivitas itu melalui istilah underground economy.
Sayangnya, istilah tersebut sering memunculkan kesan yang terlalu sempit. Banyak orang langsung membayangkan dunia kriminal, koper hitam, ruang gelap, atau transaksi rahasia ala film mafia. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.
Tidak semua ekonomi bawah permukaan identik dengan kejahatan. Sebagian hanya menunjukkan energi ekonomi yang belum menemukan jalan masuk ke sistem formal nasional. Ada modal yang bergerak keluar demi mencari efisiensi. Ada pula pelaku ekonomi yang memilih berada di luar sistem karena mengejar kepastian dan rasa aman.
Pada akhirnya, uang memiliki sifat yang unik. Uang tidak memiliki agama, suku, maupun afiliasi politik. Rasa percaya menjadi satu-satunya faktor yang membuat uang bertahan di suatu tempat.
Karena itu, uang selalu bergerak menuju tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman.
Pertanyaan strategis bangsa ini akhirnya bukan lagi mengapa uang pergi. Pertanyaan yang jauh lebih penting justru apakah Indonesia sudah mampu membuat uang ingin pulang.
Jika memakai asumsi konservatif bahwa underground economy Indonesia berada di kisaran 35 persen dari Produk Domestik Bruto, maka angka yang muncul sebenarnya sangat besar. Dengan estimasi PDB Indonesia tahun 2026 sekitar Rp24.700 triliun, aktivitas ekonomi di bawah radar negara bisa mencapai Rp8.600 triliun.
Artinya, kekuatan ekonomi riil Indonesia kemungkinan mendekati Rp33.400 triliun atau sekitar US$2 triliun.
Angka tersebut tentu masih bisa memunculkan perdebatan. Namun pesan besarnya sangat jelas. Indonesia kemungkinan tidak kekurangan uang. Negeri ini juga tidak kekurangan energi ekonomi. Persoalan utamanya mungkin hanya satu, yakni sebagian energinya belum masuk ke orbit Merah Putih.
Karena itu, pendekatan lama yang hanya berfokus pada penindakan sering kali tidak cukup efektif. Selama ini negara cenderung memakai pola sederhana: cari, periksa, kejar, lalu hukum.
Padahal pengalaman banyak negara menunjukkan kenyataan berbeda. Ketika negara hadir sambil membawa senter dan borgol, uang biasanya tidak pulang. Sebaliknya, uang justru mencari tempat persembunyian baru yang lebih jauh.
Dari titik itulah gagasan “REN — Rekonsiliasi Ekonomi Nasional” menjadi menarik untuk dibahas.
REN bukan operasi ketakutan yang membuat pelaku ekonomi merasa diburu. Gagasan tersebut juga bukan pengampunan massal yang menghapus seluruh persoalan masa lalu. REN hadir sebagai jembatan nasional untuk mempertemukan kembali energi ekonomi Indonesia yang selama ini bergerak di luar orbit pembangunan.
Inti persoalannya bukan terletak pada ketiadaan uang. Persoalan terbesar justru muncul karena negara belum membangun rasa percaya yang cukup kuat.
Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum. Negara juga perlu membangun rekonsiliasi ekonomi yang menghadirkan rasa aman, rasa memiliki, dan rasa percaya terhadap masa depan bangsa.
Dalam konteks itulah istilah “memerah-putihkan kembali uang Indonesia” terasa relevan.
Maknanya bukan sekadar memindahkan rekening dari luar negeri ke dalam negeri. Lebih dari itu, gagasan tersebut ingin mengembalikan energi ekonomi Indonesia agar kembali bekerja untuk pembangunan nasional.
Arah pemikiran seperti ini sebenarnya mulai terlihat melalui sejumlah inisiatif baru. Salah satunya muncul lewat wacana Patriot Bond melalui Danantara Indonesia yang menargetkan penghimpunan dana dalam jumlah besar dengan pendekatan berbeda.
Nilai penghimpunannya memang menarik perhatian. Namun, hal yang jauh lebih penting justru terletak pada filosofi di balik gagasan tersebut. Negara tidak hanya mengajak modal mencari keuntungan. Pemerintah juga ingin mengajak modal ikut membangun negeri.
Ada pesan kebangsaan yang ingin hadir dalam gagasan itu. Negara ingin memberi identitas nasional kepada modal yang selama ini bergerak tanpa keterikatan emosional dengan tanah airnya sendiri.
Pada kenyataannya, modal tidak selalu bergerak karena bunga tinggi atau insentif besar. Dalam banyak kasus, investasi hadir karena rasa memiliki, kebanggaan, dan keinginan untuk menjadi bagian dari pembangunan bangsa.
Bayangkan apabila Indonesia melahirkan Patriot Food Bond, Patriot Water Bond, Patriot Cooperative Bond, Patriot Regional Bond, hingga Patriot Infrastructure Bond.
Melalui pendekatan tersebut, negara tidak memanggil dana Indonesia di luar negeri dengan ancaman maupun rasa takut. Sebaliknya, pemerintah mengajak modal pulang melalui rasa memiliki terhadap masa depan Indonesia.
Negeri ini sesungguhnya tidak kekurangan sumber daya. Talenta, ide besar, dan potensi ekonomi tersedia dalam jumlah melimpah. Persoalan yang sering muncul justru terletak pada minimnya jembatan penghubung antarenergi ekonomi nasional.
Indonesia membutuhkan jembatan antara ekonomi formal dan informal. Negara juga memerlukan penghubung antara modal dan pembangunan nasional. Selain itu, Indonesia harus mampu mempertemukan kembali uang Indonesia dengan rumahnya sendiri.
Jika jembatan tersebut berhasil hadir, pertanyaan bangsa ini ke depan bukan lagi bagaimana mencari uang. Tantangan berikutnya justru berubah menjadi bagaimana mengelola ledakan energi ekonomi nasional yang begitu besar.
Dalam konteks itu, pidato Presiden kemarin sebenarnya dapat dibaca lebih luas. Ketika Presiden berbicara tentang menyatukan kekuatan bangsa, makna persatuan tersebut tidak cukup hanya berada di level politik maupun elite kekuasaan.
Indonesia membutuhkan persatuan energi ekonomi nasional.
Sebab selama ini mungkin ada bagian besar Indonesia yang berjalan sendiri di luar orbit Merah Putih. Mereka bukan tidak mencintai Indonesia. Mereka hanya belum menemukan cara pulang yang tepat.
Bangsa besar tidak hanya pandai menghitung apa yang terlihat di permukaan. Bangsa besar juga mampu membaca potensi yang belum terlihat sepenuhnya.
Karena itu, tantangan terbesar Indonesia hari ini bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Tugas yang jauh lebih penting ialah menemukan kembali energi nasional yang selama ini bergerak di bawah permukaan.
Ketika energi ekonomi yang tercerai-berai mulai bertemu kembali, ketika modal kembali percaya pada rumahnya sendiri, dan ketika uang Indonesia mulai merasa memiliki tempat pulang, Indonesia tidak sedang menyambut pertumbuhan biasa.
Bangsa ini sedang menyambut ledakan energi ekonomi sebuah negara besar.
Masa depan ekonomi Indonesia mungkin sebenarnya tidak berada jauh di luar sana. Bisa jadi masa depan itu selama ini sudah berada di depan mata, hanya belum terlihat sepenuhnya.
Dan mungkin, sudah waktunya energi ekonomi Indonesia benar-benar pulang ke rumahnya sendiri: Merah Putih.
