Ciwidey, Info Burinyay – Sebanyak 1.200 guru Taman Kanak-Kanak (TK) dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bandung memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 IGTKI-PGRI Kabupaten Bandung. Kegiatan bertajuk Milangkala ka-76 “Ulin Bareng Bungah Bareng” tersebut berlangsung di Saung Komando, Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Rabu (10/6/2026).
Panitia mengusung tema “Ngembangkeun Kaulinan Barudak, Ngariksa Budaya, Ngawangun Guru TK anu Sejahtera Pikeun Pendidikan anu Mibanda Kualitas dina Ngawujudkeun Wajib Ajar 13 Tahun”. Melalui tema tersebut, IGTKI-PGRI Kabupaten Bandung mendorong pelestarian kaulinan barudak atau permainan tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter anak usia dini.
Sebelum memasuki acara inti, panitia mengajak seluruh peserta mengikuti senam sehat bersama Bunda PAUD Kabupaten Bandung. Suasana kebersamaan pun terlihat sejak pagi. Selain itu, peserta mengenakan nuansa budaya Sunda yang semakin menguatkan identitas lokal dalam kegiatan tersebut.
Bunda PAUD Kabupaten Bandung, Hj. Emma Dety Permanawati, S.Pd.I., M.M., menekankan pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi utama pembentukan generasi masa depan.
“Saya titipkan kepada seluruh guru agar terus membangun karakter anak-anak. Selain itu, adab, akhlak, dan akidah harus menjadi fondasi utama. Karena seperti apa anak-anak kita nanti, salah satunya ditentukan oleh peran guru di sekolah,” ujar Emma.
Lebih lanjut, Emma mengucapkan selamat atas usia ke-76 IGTKI-PGRI. Menurutnya, usia tersebut menunjukkan kematangan organisasi dalam mendukung pendidikan anak usia dini di Kabupaten Bandung.
“Usia 76 tahun menunjukkan organisasi yang matang. Mudah-mudahan IGTKI terus berkembang dan mampu memberikan kontribusi terbaik bagi dunia pendidikan,” katanya.
Sementara itu, Ketua IGTKI-PGRI Kabupaten Bandung, Hj. Ela Nurlaila, S.Sos., menjelaskan bahwa peringatan HUT tahun ini berfokus pada penguatan permainan tradisional di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.
“Kami ingin menggalakkan kembali kaulinan barudak di tengah perkembangan teknologi saat ini. Melalui permainan tradisional, anak-anak dapat belajar karakter, kreativitas, serta nilai-nilai positif yang sangat penting untuk perkembangan mereka,” ujar Ela.
Menurut Ela, kegiatan tersebut tidak hanya bersifat seremonial. Sebaliknya, kegiatan itu menjadi sarana meningkatkan profesionalitas dan loyalitas anggota IGTKI-PGRI Kabupaten Bandung.
“Kami berharap kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi guru, masyarakat, dan terutama anak-anak. Dengan demikian, kualitas pendidikan usia dini di Kabupaten Bandung terus meningkat,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua PGRI Kabupaten Bandung, H. Yusup Salim, S.Pd.I., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas perjalanan panjang IGTKI-PGRI yang telah mencapai usia 76 tahun.
“Atas nama PGRI Kabupaten Bandung, saya mengucapkan selamat milangkala ke-76. Semoga IGTKI-PGRI Kabupaten Bandung semakin sukses dan terus memperjuangkan kesejahteraan guru sekaligus mengembangkan kreativitas pendidikan anak usia dini,” ungkapnya.
Ia juga menilai kaulinan barudak memiliki nilai pendidikan yang sangat kuat. Menurutnya, permainan tradisional tidak sekadar menjadi sarana hiburan, melainkan juga media pembelajaran yang mengandung unsur kolaborasi, kreativitas, dan kemandirian.
“Di tengah arus digitalisasi yang semakin kuat, banyak anak mulai meninggalkan permainan tradisional. Karena itu, program seperti ini sangat penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus membangun karakter anak,” jelas Yusup.
Apresiasi serupa datang dari Kepala Bidang PAUD dan Pengendalian Perizinan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Dr. Hj. Iis Suryatini, M.Ag. Ia menyebut IGTKI-PGRI sebagai mitra strategis pemerintah dalam pengembangan pendidikan anak usia dini.
“Hari ini sekitar 1.203 guru hadir. Jumlah tersebut mencapai hampir 50 persen dari total guru TK di Kabupaten Bandung yang berjumlah sekitar 2.400 orang. Ini menunjukkan semangat dan komitmen yang luar biasa,” ujarnya.
Selain itu, Iis berharap para guru terus meningkatkan kompetensi, mengikuti perkembangan kurikulum, serta aktif mengikuti berbagai pelatihan dan bimbingan teknis.
Menurutnya, tema kaulinan barudak sangat relevan dengan kondisi saat ini. Pasalnya, banyak anak lebih akrab dengan gawai dibandingkan aktivitas bermain di lingkungan sekitar.
“Kami ingin anak-anak kembali belajar di alam dan mengenal permainan tradisional. Melalui kaulinan barudak urang lembur, anak-anak dapat mengurangi ketergantungan terhadap gadget sekaligus mengembangkan kemampuan sosial dan motoriknya,” tuturnya.
Sementara itu, Bunda PAUD Kecamatan Ciwidey, Hj. Lala Jamilah, S.Sos., M.Si., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tingkat kabupaten tersebut di wilayahnya.
“Kami merasa bangga karena Kecamatan Ciwidey menjadi tuan rumah peringatan HUT IGTKI-PGRI ke-76. Mudah-mudahan kegiatan ini semakin memperkuat kekompakan guru TK se-Kabupaten Bandung,” katanya.
Lala menambahkan bahwa kaulinan barudak kini mulai jarang dimainkan oleh anak-anak. Oleh karena itu, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang mampu mengasah kemampuan motorik, kreativitas, dan interaksi sosial anak.
Melalui peringatan HUT ke-76 ini, IGTKI-PGRI Kabupaten Bandung tidak hanya mempererat solidaritas para guru TK. Lebih dari itu, organisasi tersebut juga memperkuat komitmen dalam melestarikan budaya lokal, meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini, serta membangun generasi yang berkarakter di tengah tantangan era digital.
