29.8 C
Bandung
Jumat, Agu 28, 2026
Info Burinyay
Kota BandungPendidikan

Wisuda Unla ke-49, 596 Lulusan Siap Hadapi Era AI dan Persaingan Dunia Kerja

596 lulusan Universitas Langlangbuana mengikuti Wisuda Unla ke-49 di Bandung dan ditantang menguasai kompetensi serta AI
Wisuda Unla ke-49 di Bandung menjadi momentum bagi 596 lulusan untuk menghadapi persaingan dunia kerja, perkembangan AI, dan tuntutan kompetensi. (Foto:Info Burinyay/yk)

Bandung, Info Burinyay — Universitas Langlangbuana (Unla) menyiapkan 596 lulusan untuk menghadapi perubahan dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis. Perguruan tinggi kini tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi juga perlu membekali mereka dengan kompetensi, kemampuan beradaptasi, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau AI.

Pesan tersebut mengemuka dalam Sidang Terbuka Senat dalam rangka Wisuda Unla ke-49 Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 di Bandung Convention Centre (BCC), Jalan Soekarno-Hatta No. 354, Kota Bandung, Rabu, 26 Agustus 2026.

Pada momentum tersebut, Unla mewisuda 596 lulusan. Rinciannya terdiri atas 502 lulusan program sarjana dan 94 lulusan program magister. Dari jenjang sarjana, Fakultas Hukum meluluskan 92 orang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis 152 orang, FISIP 119 orang, FKIP 66 orang, serta Fakultas Teknik 73 orang.

Rektor Universitas Langlangbuana, Irjen Pol. (P) Dr. Drs. A. Kamil Razak, S.H., M.H., mengatakan perubahan lingkungan pendidikan tinggi berlangsung semakin cepat. Karena itu, perguruan tinggi harus merespons perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, serta persaingan global.

“Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan karakter dunia kerja, serta semakin terbukanya kompetisi global menuntut lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki penguasaan ilmu pengetahuan,” kata Kamil.

Menurut Kamil, lulusan juga membutuhkan kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, berpikir kritis, menciptakan inovasi, dan memberikan solusi terhadap persoalan nyata di masyarakat.

Karena itu, Unla terus memperkuat transformasi kelembagaan. Sejumlah program studi telah meraih predikat Akreditasi Unggul, antara lain Program Studi Hukum, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Ilmu Pemerintahan, Akuntansi, dan Ilmu Komunikasi.

Namun demikian, Kamil menegaskan bahwa capaian tersebut bukan akhir dari proses peningkatan mutu.

“Akreditasi Unggul bukanlah tujuan akhir. Akreditasi harus menjadi bagian dari budaya mutu,” tegasnya.

Selanjutnya, budaya mutu tersebut diarahkan ke berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan. Mulai dari proses pembelajaran, penelitian, pelayanan mahasiswa, tata kelola, kompetensi dosen dan tenaga kependidikan, hingga kualitas lulusan.

Unla juga mendorong perguruan tinggi agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan. Sebaliknya, kampus perlu menghasilkan penelitian berkualitas, inovasi, gagasan, serta solusi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Universitas harus mampu menjadi ruang lahirnya ilmu pengetahuan baru, penelitian yang bermutu, inovasi, gagasan, dan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Sejalan dengan arah tersebut, Unla meningkatkan aktivitas penelitian, publikasi ilmiah, inovasi, dan karya akademik. Selain itu, pengabdian kepada masyarakat terus diperkuat agar pendidikan, penelitian, dan pengabdian berjalan saling mendukung dalam kerangka Tridharma Perguruan Tinggi.

Di sisi pengembangan fasilitas, Unla juga merencanakan pembangunan Kampus II di kawasan Cimekar. Kampus tersebut diproyeksikan mendukung pengembangan program studi, khususnya di lingkungan Fakultas Teknik serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

“Kami berharap kehadiran Kampus II nantinya tidak sekadar menambah bangunan fisik, tetapi benar-benar menciptakan ekosistem akademik baru yang nyaman bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran,” kata Kamil.

Selain fasilitas, Unla mengembangkan kurikulum berbasis Outcome-Based Education atau OBE. Kurikulum tersebut menitikberatkan capaian pembelajaran dan kompetensi lulusan.

Dalam proses penyusunannya, Unla melibatkan pengguna lulusan, alumni, dunia usaha, dunia industri, dunia kerja, asosiasi profesi, serta pemangku kepentingan lainnya. Dengan pendekatan tersebut, kompetensi akademik diharapkan semakin selaras dengan kebutuhan lapangan.

“Kami ingin lulusan Universitas Langlangbuana tidak hanya mengatakan, ‘Saya memiliki ijazah,’ tetapi juga mampu menunjukkan, ‘Saya memiliki kompetensi,’” ujar Kamil.

Untuk memperkuat pengakuan terhadap kompetensi tersebut, Unla mendorong lulusan mengikuti sertifikasi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1) Unla. Sertifikasi disesuaikan dengan bidang ilmu, keterampilan, dan kompetensi masing-masing lulusan.

Selain itu, Unla memperluas kemitraan strategis di tingkat nasional maupun internasional. Kemitraan tersebut mencakup kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan industri.

Melalui riset bersama, pertukaran akademis, serta kesempatan magang, kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat pengalaman profesional mahasiswa sekaligus meningkatkan kesiapan mereka memasuki dunia kerja.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Tribakti Langlangbuana (YPTBL), Komjen Pol (Purn) Drs. H. Nana S. Permana, menekankan pentingnya integritas bagi para lulusan.

Menurut Nana, kemampuan akademik perlu berjalan bersama karakter dan kejujuran. Sebab, dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat akan menguji kemampuan seseorang dalam menghadapi perubahan sekaligus mempertahankan integritas.

“Dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat akan menguji bukan hanya seberapa tinggi nilai akademik yang Saudara miliki, tetapi juga seberapa kuat karakter, integritas, dan kemampuan Saudara dalam menghadapi perubahan zaman,” tegas Nana.

Ia juga mengingatkan alumni agar tidak mengejar kesuksesan instan dengan menghalalkan berbagai cara. Sebaliknya, alumni diminta membangun karier melalui kerja keras, kesabaran, dan proses yang konsisten.

Pada wisuda tersebut, Unla turut memberikan penghargaan kepada lulusan dengan IPK tertinggi dari setiap fakultas. Sofia Nazmatul Alqibtiah dari Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP menjadi salah satu lulusan terbaik dengan IPK sempurna 4,00.

Kemudian, Rahmayanti dari Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP meraih IPK 3,99. Sementara itu, Basana Fanuel Simanjuntak dari Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum memperoleh IPK 3,97.

Prestasi lainnya diraih Yesa Selfia dari Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan IPK 3,92 serta Winda Nur Septya dari Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik dengan IPK 3,87. Pada jenjang magister, Boyke Darmajaya dari Program Studi S2 Ilmu Hukum meraih IPK 4,00 dengan predikat Dengan Pujian.

Di sisi lain, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., menyoroti perkembangan teknologi dan AI yang semakin memengaruhi dunia pendidikan serta pekerjaan.

Dalam sambutannya kepada para wisudawan, Lukman menggambarkan perkembangan teknologi sebagai pisau bermata dua. Karena itu, lulusan perguruan tinggi perlu membangun kesiapan mental sekaligus menguasai keterampilan yang relevan.

Menghadapi Society 5.0, Lukman mendorong lulusan agar tidak melihat AI sebagai ancaman semata. Menurut dia, manusia justru perlu membangun kemampuan untuk bekerja bersama teknologi.

“Bukan digantikan, tapi diberdayakan. Jadilah lulusan yang J.A.G.O: Jejaring, Adaptif, Gesit, serta Orisinal dan Otentik,” ujarnya.

Lukman juga mendorong lulusan membangun karakter Entrepreneur 5.0 dengan data-driven mindset, kemampuan complex problem solving, dan kecerdasan emosional.

Selanjutnya, ia memperkenalkan pentingnya agile mindset dalam menghadapi ketidakpastian. Lulusan perlu berani mengambil inisiatif, mengevaluasi kegagalan, dan terus mencari peluang.

Sebagai bekal moral, Lukman menitipkan prinsip Agile Integrity kepada para alumni.

“Majulah tanpa menyingkirkan, naiklah tanpa menjatuhkan, jadilah benar tanpa menyalahkan, dan jadilah baik tanpa menjelekkan,” katanya.

Wisuda Unla ke-49 tidak hanya menjadi seremoni kelulusan bagi 596 mahasiswa. Momentum tersebut sekaligus menegaskan arah pengembangan Unla dalam memperkuat budaya mutu, riset, kurikulum berbasis kompetensi, sertifikasi profesi, kemitraan, serta kesiapan lulusan menghadapi perubahan teknologi.

Bagi para alumni, gelar akademik menjadi awal untuk menerapkan ilmu dan kompetensi di tengah masyarakat. Karena itu, Unla mendorong lulusan membawa pengetahuan ke dalam karya, menjaga integritas, serta menjadikan kompetensi sebagai bagian dari pengabdian.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.