Bandung, Info Burinyay – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang SMP tingkat Kota Bandung 2026 kembali menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan berbahasa, bersastra, dan berbudaya Sunda. Tahun ini, sebanyak 618 peserta dari 110 sekolah negeri dan swasta mengikuti rangkaian festival tersebut.
Babak final FTBI 2026 berlangsung di SMPN 56 Bandung, Kamis (27/8/2026). Sebelumnya, panitia menggelar tahap penyisihan di SMPN 13 Bandung pada Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang digagas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Di tingkat SMP, Dinas Pendidikan kabupaten/kota menyelenggarakan FTBI bersama Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, menilai FTBI memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan bahasa dan budaya Sunda di tengah perubahan zaman.
Menurut Asep, pelestarian bahasa daerah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, ia memberikan apresiasi kepada peserta, sekolah, guru, panitia, serta berbagai pihak yang ikut menjalankan festival tersebut.
“Selamat kepada yang terpilih menjadi juara. Dan bagi peserta yang lainnya, kalian tetap hebat, menjadi agen pelestari bahasa, sastra, dan budaya Sunda,” ujar Asep.
Selain itu, Asep mengingatkan bahwa FTBI tidak hanya menjadi agenda tahunan. Setiap sekolah telah melakukan persiapan sebelum festival berlangsung. Proses tersebut, menurutnya, ikut membangun pembelajaran bahasa Sunda secara berkelanjutan.
Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan baru bagi penggunaan bahasa daerah. Pelajar kini berinteraksi melalui berbagai platform digital dengan paparan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang semakin luas.
“Ini yang kita khawatirkan, jangan sampai anak-anak tidak mengenal bahasa ibunya,” katanya.
Karena itu, Asep mengajak generasi muda memahami konsep Trigatra Bangun Bahasa. Konsep tersebut mencakup pelestarian bahasa daerah, penggunaan bahasa Indonesia, serta penguasaan bahasa asing.
Menurutnya, kemampuan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing tetap penting. Namun, penguasaan bahasa daerah juga menjadi bagian dari identitas generasi muda.
“Ketika dalam pergaulan baik di dunia nyata maupun media sosial anak-anak lebih mahir berbicara bahasa Indonesia atau bahasa asing, itu pun bagus. Dan alangkah lebih bagus bisa menggunakan bahasa daerah sebagai identitas dan jati diri,” jelasnya.
Asep juga menekankan bahwa bahasa Sunda memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar alat komunikasi. Bahasa tersebut memuat nilai moral, makna filosofis, serta unsur pendidikan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Karena itu, ia mendorong peserta FTBI terus mempelajari dan menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Kepala SMPN 56 Bandung, Ferry Timorochmadi, menilai kolaborasi menjadi faktor penting dalam penyelenggaraan FTBI 2026. Menurutnya, berbagai kendala yang muncul tidak mengurangi semangat para pelestari bahasa daerah.
“FTBI itu ruang ekspresi berbahasa, bersastra, dan berbudaya Sunda. Juga sarana apresiasi bagi pihak-pihak yang mencintai bahasa ibu. Jadi bagaimanapun keadaannya, mari kita bersama-sama menyukseskan FTBI serta memaknai nilai dari upaya melestarikan bahasa daerah,” ujar Ferry.
Selanjutnya, Ketua MGMP Basa Sunda Kota Bandung, Nurani Septiani, menyebut FTBI sebagai ruang bagi siswa untuk berekspresi sekaligus membangun karakter. Melalui sejumlah cabang lomba, peserta mendapat kesempatan mengembangkan daya cipta dan kecintaan terhadap seni serta budaya bangsa.
“Di era globalisasi saat ini, generasi muda harus memiliki jati diri serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari budaya bangsa kita,” katanya.
Partisipasi peserta pada FTBI 2026 juga menunjukkan perkembangan positif. Pada tahap penyisihan, panitia mencatat 110 sekolah negeri dan swasta dengan total 618 peserta.
Panitia mempertandingkan tujuh mata lomba. Cabang tersebut meliputi Nulis Carita Pondok, Maca jeung Nulis Aksara Sunda, Nembang Pupuh, Biantara, Maca Sajak, Ngadongeng, dan Ngabodor Sorangan.
Kemudian, masing-masing mata lomba menghadirkan 10 peserta putra dan putri pada babak final. Sebanyak 53 sekolah berhasil melanjutkan persaingan hingga tahap akhir.
Menariknya, keterlibatan SMP swasta juga meningkat. Beberapa sekolah swasta bahkan berhasil menembus babak final dan bersaing dengan sekolah negeri.
Nurani menilai kondisi tersebut menunjukkan semakin luasnya kepedulian sekolah terhadap keberadaan bahasa daerah.
“Momen seperti ini menjadi kebanggaan kita semua bagaimana kita bersama-sama melestarikan dan menjaga bahasa daerah. Tidak bisa dipungkiri makin lama bahasa daerah tidak lagi digunakan oleh generasi muda. Oleh karena itu, dengan adanya Festival Tunas Bahasa Ibu ini menjadi upaya kita semua bagaimana generasi muda bisa tetap menggunakan bahasa daerah,” ungkap Nurani.
Setelah seluruh perlombaan selesai, panitia menetapkan para juara dari setiap cabang. Para juara pertama nantinya membawa nama Kota Bandung pada FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat.
Pada kategori Ngabodor Sorangan putra, Muhammad Alwi Yahya dari SMPN 28 Bandung meraih juara pertama. Sementara itu, kategori putri menjadi milik Nazwa Alysia Indrawan dari SMPN 16 Bandung.
Cabang Nulis Carpon menempatkan Hasbi Rabbani dari SMPN 41 Bandung sebagai juara pertama putra. Untuk kategori putri, Fira Gayatri dari SMPN 33 Bandung meraih posisi teratas.
Berikutnya, Ashar Maulana Kamil dari SMPN 30 Bandung menjadi juara pertama Nembang Pupuh putra. Wafa Khaila Nurrahmah dari SMPN 16 Bandung meraih juara pertama putri.
Pada cabang Ngadongeng, Thoriq Zain Musyaffa dari SMP Intelegensia menjadi juara pertama putra. Sementara itu, Sachio Neisa Khumayara Ruslandi dari SMP Yayasan Atikan Sunda meraih juara pertama putri.
Kemudian, Rasya Himura Baihaqi dari SMPN 34 Bandung meraih juara pertama Maca jeung Nulis Aksara Sunda putra. Nasima Kamila Nurshaliha dari SMPN 46 Bandung menjadi juara pertama kategori putri.
Untuk cabang Biantara, Fadillah Aryasatya dari SMPN 14 Bandung meraih juara pertama putra. Nazwa Alya Felisha Rianie dari SMPN 64 Bandung menjadi juara pertama putri.
Sementara itu, Saka Caffaro dari SMPN 12 Bandung meraih posisi pertama Maca Sajak putra. Zhafira Bilqis Athaya dari SMPN 3 Bandung menjadi juara pertama kategori putri.
Selain juara pertama, panitia juga menetapkan juara kedua, juara ketiga, serta juara harapan satu, dua, dan tiga pada masing-masing cabang.
Dari akumulasi capaian tersebut, SMPN 16 Bandung berhasil meraih predikat Juara Umum FTBI jenjang SMP tingkat Kota Bandung 2026.
Dengan rangkaian tersebut, FTBI 2026 tidak berhenti sebagai kompetisi antarpelajar. Festival ini sekaligus membuka ruang bagi siswa untuk mengenal, menggunakan, dan mengembangkan bahasa Sunda.
Di tengah perubahan pola komunikasi generasi muda, keberadaan ruang seperti FTBI menjadi salah satu upaya untuk menjaga bahasa daerah tetap digunakan. Karena itu, keterlibatan sekolah, guru, keluarga, pemerintah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pelestarian bahasa Sunda.
Selanjutnya, para juara pertama setiap cabang akan membawa hasil pembinaan Kota Bandung ke tingkat Provinsi Jawa Barat. Ajang tersebut menjadi tahap berikutnya bagi para pelajar untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membawa semangat pelestarian bahasa Sunda ke tingkat yang lebih luas.