Pasirjambu — Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang SMP Sub Rayon 03 Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Tahun 2026 kembali menjadi ruang bagi pelajar untuk mengasah kemampuan sekaligus memperkuat kecintaan terhadap bahasa dan budaya Sunda.
Mengusung tema “Tarekah Ngamumule Ajen-Inajen Budaya Sunda di Lingkungan Sakola”, kegiatan tersebut berlangsung di SMPN 1 Pasirjambu, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Sabtu (12/9/2026).
Sebanyak 155 peserta dari berbagai SMP di wilayah Sub Rayon 03 mengikuti tujuh mata lomba. Para siswa tampil dalam cabang Maca Nulis Aksara Sunda, Nembang Pupuh, Ngarang Carpon, Maca Sajak, Ngadongeng, Borangan, dan Biantara.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari proses seleksi peserta yang nantinya mewakili Sub Rayon 03 pada FTBI tingkat Kabupaten Bandung. Karena itu, setiap peserta mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya Sunda.
Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Gugus Sub Rayon 03, H. Enceng, S.Pd., M.Si. Sejumlah pejabat dan unsur pendidikan turut hadir. Di antaranya Pengawas SMP Kabupaten Bandung R. Komarudin Saleh, M.Pd., Penanggung Jawab Kegiatan Ahmad Rohman Somantri, S.Pd., M.M.Pd., Ketua Panitia Dudi Rudiana Setiawijaya, S.Pd., serta Kepala SMPN 1 Pasirjambu Hj. Kartika Prapti Diah Handayani, S.Pd., M.Pd.
H. Enceng mengatakan, FTBI telah menjadi agenda rutin yang berlangsung setiap tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi perlombaan, tetapi juga menjadi sarana menemukan siswa berbakat untuk mengikuti tahapan berikutnya.
“Festival Tunas Bahasa Ibu sudah menjadi agenda rutin yang dilakukan setiap tahun. Agenda ini dilaksanakan dalam rangka mencari bibit unggul, di mana setiap Subrayon harus mengirimkan peserta ke tingkat kabupaten,” ujar H. Enceng.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya menjaga keberadaan bahasa ibu di lingkungan pendidikan. Ia menyebut upaya tersebut sejalan dengan program unggulan Bupati Bandung dalam mendorong pelestarian bahasa daerah.
“Melalui setiap kegiatan di sekolah, kita mencari bibit dan bakat untuk nantinya dikirimkan sebagai peserta ke tingkat kabupaten,” katanya.
Setelah seluruh rangkaian seleksi di tingkat Sub Rayon selesai, peserta terbaik akan mengikuti tahapan FTBI tingkat Kabupaten Bandung. Selanjutnya, proses berjenjang berlanjut sesuai mekanisme penyelenggaraan FTBI.
H. Enceng juga mengingatkan seluruh peserta agar tidak memandang perlombaan hanya dari hasil akhir. Ia menilai keberanian tampil dan pengalaman mengikuti kompetisi merupakan bagian penting dari proses pembelajaran.
“Dalam perlombaan ini tidak ada yang menang atau kalah; semua adalah pemenang. Kita menghargai semua peserta,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana FTBI, Dudi Rudiana Setiawijaya, S.Pd., menjelaskan bahwa FTBI merupakan agenda berjenjang yang berlangsung mulai dari sekolah hingga tingkat nasional. Pelaksanaannya melibatkan berbagai tingkatan sesuai wilayah dan jenjang kompetisi.
“Alhamdulillah hari ini ada kegiatan Festival Tunas Bahasa Ibu, dan ini merupakan agenda nasional karena dilaksanakan berjenjang dan menjadi agenda yang selalu dilaksanakan tiap tahun,” kata Dudi.
Menurut Dudi, FTBI secara nasional dikelola Badan Bahasa. Sementara itu, tahapan daerah berlangsung mulai dari sekolah, subrayon atau wilayah, kabupaten/kota, hingga provinsi melalui Balai Bahasa.
Dari sisi partisipasi, FTBI Sub Rayon 03 tahun ini menunjukkan peningkatan. Pada pelaksanaan 2025, jumlah peserta tercatat sebanyak 128 siswa. Tahun ini jumlah tersebut meningkat menjadi 155 peserta.
“Untuk tahun 2025 kemarin pelaksanaan FTBI diikuti oleh 128 peserta. Untuk tahun ini adalah 155 peserta,” ujarnya.
Peningkatan jumlah peserta tersebut menunjukkan tingginya minat pelajar untuk mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan bahasa dan budaya Sunda. Selain kompetisi, FTBI juga memberi ruang bagi siswa untuk bertemu dengan pelajar dari sekolah lain dan menambah pengalaman.
Dudi menambahkan, tujuan utama FTBI bukan hanya menghasilkan juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi muda Sunda yang tetap menggunakan bahasa Sunda secara aktif.
“Target ke depannya dari FTBI yang paling utama adalah menjadikan tunas-tunas, sirung-sirung atau generasi ngora urang Sunda tetap menjadi penutur aktif bahasa Sunda,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengenal sekaligus menjaga bahasa dan budaya Sunda. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat terus tumbuh melalui lingkungan sekolah.
Di tempat yang sama, Kepala SMPN 1 Pasirjambu Hj. Kartika Prapti Diah Handayani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan FTBI. Ia menilai antusiasme peserta dari berbagai sekolah menjadi hal positif dalam upaya memperkenalkan budaya Sunda kepada generasi muda.
“Saya sangat senang sekali dan bangga dengan adanya kegiatan FTBI, khusus untuk saat ini di tingkat Subrayon 03,” ungkap Kartika.
Ia berharap seluruh peserta memperoleh pengalaman positif selama mengikuti kegiatan. Selain itu, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk memahami bahasa Sunda secara lebih mendalam.
“Animo dari anak-anak dari semua sekolah yang ada di Subrayon 03 sangat banyak. Mudah-mudahan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bekal bagi murid-murid kita untuk mengenal budaya, khususnya bahasa Sunda, dengan lebih mendalam lagi,” katanya.
Antusiasme peserta juga terlihat dari pengalaman Dila Assyfa Putri Rudi, peserta Nembang Pupuh dari SMP IT Al Vaaz. Ia mengikuti lomba pupuh dengan membawakan pupuh Dangdanggula.
“Saya mengikuti lomba pupuh Dangdanggula. Kesannya seru, terus jadi bisa menambah pengalaman dan punya banyak teman baru,” ujar Dila.
Dengan melibatkan 155 siswa dalam tujuh mata lomba, FTBI Sub Rayon 03 tahun 2026 tidak hanya menghadirkan kompetisi. Kegiatan ini juga mempertemukan pendidikan, kreativitas, dan pelestarian budaya dalam satu rangkaian.
Melalui tahapan seleksi tersebut, para siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat sekaligus mengenal kekayaan bahasa dan sastra Sunda. Selanjutnya, peserta terbaik akan membawa nama Sub Rayon 03 pada tahapan FTBI tingkat Kabupaten Bandung.