29.4 C
Bandung
Sabtu, Okt 17, 2026
Info Burinyay
Jawa BaratOlah Raga

Buky Wibawa Pimpin Asprov PSSI Jawa Barat Periode 2026–2030, Pembinaan Usia Dini Jadi Prioritas

Buky Wibawa menerima panji PSSI dari Erick Thohir setelah terpilih sebagai Ketua Asprov PSSI Jawa Barat periode 2026–2030.
Buky Wibawa Karya Guna menerima panji PSSI dari Ketua Umum PSSI Erick Thohir dalam prosesi pengukuhan Ketua Asprov PSSI Jawa Barat periode 2026–2030 di Bandung, Sabtu (17/10/2026). Foto:Info Burinyay/yk

Bandung, Info Burinyay – Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir mengukuhkan Buky Wibawa Karya Guna sebagai Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Barat periode 2026–2030. Buky terpilih secara aklamasi dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Hotel Horison Bandung, Sabtu (17/10/2026). Kepengurusan baru ini membawa agenda penting, terutama memperkuat pembinaan usia dini dan meningkatkan daya saing sepak bola Jawa Barat.

Erick Thohir menilai proses pemilihan tersebut menunjukkan soliditas para pemilik suara dan pemangku kepentingan sepak bola di Jawa Barat. Menurutnya, persatuan menjadi modal utama untuk membangun ekosistem sepak bola yang lebih kuat dan berkelanjutan.

“Tidak mungkin membangun sesuatu dengan perpecahan. Aklamasi bukan berarti sesuatu yang negatif. Ketika seluruh pemilik suara bersatu, pemerintah daerah bersatu, KONI mendukung, dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola mendukung, kita bisa membangun sepak bola bersama-sama,” kata Erick dalam sambutannya.

Erick juga menyoroti besarnya potensi sepak bola Jawa Barat. Dengan jumlah penduduk mencapai 51,7 juta jiwa, provinsi ini memiliki basis talenta yang luas. Namun, potensi tersebut membutuhkan sistem pembinaan yang terstruktur, kompetisi berjenjang, dan dukungan berkesinambungan.

Karena itu, penguatan sepak bola daerah perlu berjalan seiring dengan pengembangan kompetisi liga dan tim nasional. Melalui pembinaan yang terintegrasi, Jawa Barat diharapkan mampu melahirkan pemain berkualitas sekaligus mendorong pertumbuhan industri olahraga dan membuka peluang kerja.

Bagi Buky Wibawa, kepemimpinan Asprov PSSI Jawa Barat bukan sekadar tanggung jawab organisasi. Ia memandang jabatan tersebut sebagai amanah untuk menjawab harapan masyarakat terhadap kemajuan sepak bola daerah.

Buky ingin memperkuat pembinaan agar pemain asal Jawa Barat semakin banyak menembus tim nasional. Target itu mencakup pemain putra dan putri di berbagai kelompok umur. Dengan demikian, keberhasilan pembinaan dapat terlihat melalui jalur pengembangan pemain yang jelas dan terukur.

Selain itu, Buky menekankan pentingnya menghidupkan kompetisi dari tingkat akar rumput. Turnamen usia dini, liga desa, kompetisi sepak bola pesantren, dan penguatan sekolah sepak bola (SSB) perlu memperoleh perhatian lebih besar.

Kompetisi yang teratur memberi kesempatan kepada pemain muda untuk mengasah kemampuan. Di samping itu, pertandingan berjenjang membantu pelatih memantau perkembangan pemain dan mengidentifikasi talenta potensial sejak dini.

Jawa Barat juga memiliki modal berupa klub-klub pembinaan dengan sejarah panjang. Salah satunya UNI Bandung, yang dikenal sebagai salah satu klub sepak bola tertua di Indonesia. Keberadaan klub tersebut menjadi bagian dari potensi daerah yang perlu terus diperkuat.

Meski demikian, pembinaan tidak cukup hanya mengandalkan klub dan fasilitas latihan. Kualitas pelatih turut menentukan perkembangan teknik, fisik, pemahaman taktik, dan mental pemain. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas pelatih serta tenaga pembinaan menjadi pekerjaan penting bagi kepengurusan baru.

Pelatih membutuhkan metode latihan yang sesuai dengan kelompok umur. Selain itu, pemain muda memerlukan pendampingan berkelanjutan dan kesempatan bertanding secara konsisten. Kombinasi tersebut dapat membantu mereka berkembang tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan pembentukan karakter.

Di sisi lain, Buky menyoroti kebutuhan infrastruktur yang mendukung pembinaan. Gagasan satu desa satu lapangan sepak bola dapat menjadi salah satu arah pengembangan fasilitas olahraga. Namun, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kondisi geografis, ketersediaan lahan, kemampuan anggaran, dan biaya pemeliharaan.

Karena itu, pembangunan lapangan membutuhkan perencanaan realistis dan kolaborasi dengan pemerintah kabupaten serta kota. Pemerintah daerah dan pengelola fasilitas juga perlu memastikan lapangan tetap terawat dan masyarakat dapat memanfaatkannya secara

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.