Nagreg, Info Burinyay – — Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Jabar II, Dr. H. Dadang M. Naser, S.H., S.I.P., M.I.Pol., mendorong penguatan kemandirian benih nasional saat mengunjungi Green House Melon di Kampung Sayuran RW 09, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kamis, 30 April 2026. Kunjungan ini berlangsung usai dirinya menghadiri panen ubi Cilembu di Kampung Cibudar RW 05 di desa yang sama.
Dalam kunjungan tersebut, Dadang menekankan pentingnya pembentukan kelompok tani melon berskala nasional. Ia menilai, langkah ini dapat meniru keberhasilan kelompok petani anggur yang sudah mandiri dalam penyediaan benih.
“Ke depan, kita harus bentuk kelompok tani melon seluruh Indonesia. Anggur sudah bisa mandiri benihnya. Sementara melon masih bergantung pada pembelian. Ini harus kita jaga,” ujar Dadang.
Selain itu, ia mengingatkan petani agar tidak sembarangan membeli benih, terutama melalui platform daring. Ia menilai praktik penjualan benih tanpa kontrol berpotensi menurunkan kualitas produksi.
“Kalau beli benih jangan sembarangan, apalagi online. Kita tidak tahu kualitas di dalamnya. Kalau benih salah, kualitas hasil panen pasti turun,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dadang menyoroti peran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Nagreg yang mulai beroperasi sebagai pusat distribusi hasil pertanian. Menurutnya, koperasi harus berkembang menjadi penyedia benih unggul dan penyalur pupuk bersubsidi.
“KDMP ini sudah mulai menampung buah-buahan. Ke depan, koperasi harus menjadi pengecer pupuk subsidi dan penyedia benih unggul, mulai dari mentimun, cabai, hingga melon,” jelasnya.
Di sisi lain, ia juga mengapresiasi inisiatif Desa Citaman yang mendeklarasikan produk lokal “Ubi Madu Citaman Nagreg”. Ia mendorong agar pengembangan varietas unggul tetap melalui pengawasan dan konsultasi agar kualitas benih terjaga.
“Kunci pertanian itu ada di benih. Kalau benih tidak unggul, petani akan rugi karena sudah keluar modal, waktu, dan tenaga,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan Kelompok Tani Nagreg Hill, Rudiyanto, menyampaikan bahwa budidaya melon di greenhouse berjalan dengan dukungan pemerintah. Ia menyebut kelompoknya telah menjalankan produksi selama hampir satu setengah tahun dengan capaian lima kali panen.
“Alhamdulillah, di ketinggian 800 meter ini kami masih bisa menanam melon premium. Ini sudah produksi kelima,” ungkap Rudiyanto.
Ia menjelaskan, teknik budidaya dilakukan dengan satu buah per tanaman agar nutrisi terfokus. Selain itu, penggunaan media tanam pasir menjadi hasil uji coba yang efektif dalam mengendalikan hama.
“Kami fokus satu pohon satu buah supaya kualitas maksimal. Media pasir juga membantu karena cepat kering, jadi hama sulit berkembang,” jelasnya.
Namun demikian, Rudiyanto mengakui kelompoknya masih menghadapi kendala pada ketersediaan benih dan nutrisi, khususnya untuk sistem hidroponik. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berkelanjutan.
“Kami berharap ada bantuan benih unggul, khususnya untuk jenis premium. Jadi kami tidak bergantung pada pembelian online dan kualitasnya lebih terjamin,” pungkasnya.
Kunjungan ini memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan petani lokal dalam membangun sistem pertanian berkelanjutan. Selain itu, penguatan koperasi dan kemandirian benih diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani di Kabupaten Bandung.
