Ciparay, Info Burinyay – — Momentum Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 menjadi perhatian dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ Al Karomah, Jalan Raya Laswi No.380, Desa Gunungleutik, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jumat (1/5/2026).
Ustad Ade Abdul Karim, S.Pd.I., Pimpinan Pondok Pesantren Baitus Shofaa Ciheulang Ciparay, menyampaikan pesan tentang pentingnya sinergi antara buruh dan pengusaha dalam kehidupan kerja. Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga kewajiban ibadah di tengah kesibukan mencari nafkah.
Dalam khutbahnya, Ustad Ade menegaskan bahwa setiap orang memiliki kewajiban untuk bekerja dan mencari rezeki. Namun demikian, menurut dia, masyarakat berada pada posisi yang berbeda dalam dunia kerja. Sebagian menjadi pegawai atau buruh, sementara sebagian lainnya menjadi pengusaha.
“Ketika masyarakat mencari nafkah, ada dua posisi. Di satu sisi kita sebagai pegawai atau buruh. Tetapi di sisi lain ada juga yang menjadi pengusaha. Maka kedua-duanya harus bersinergi,” ujar Ustad Ade di hadapan jamaah Salat Jumat.
Selain itu, ia menilai hubungan antara pekerja dan pengusaha harus berjalan selaras agar tercipta suasana kerja yang sehat. Karena itu, ia meminta para pekerja menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab serta mencintai pekerjaannya.
“Seorang pegawai harus memberikan dedikasi dan tanggung jawab yang sungguh-sungguh terhadap pekerjaannya. Mencintai pekerjaannya dan melaksanakan tugas dengan giat,” katanya.
Namun di sisi lain, Ustad Ade juga mengingatkan para pengusaha agar memenuhi hak pekerja secara adil dan tepat waktu. Menurut dia, Islam memberikan perhatian serius terhadap hak-hak buruh dan pekerja.
“Pengusaha juga harus bersinergi dengan pegawai. Jangan menunda-nunda hak dan kewajibannya, atau menahan hak pegawai,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengutip hadis Rasulullah SAW tentang ancaman bagi pihak yang mengabaikan hak pekerja. Karena itu, ia meminta para pelaku usaha menjaga amanah dan memperlakukan pegawai secara manusiawi.
“Rasul berkata ada tiga golongan yang menjadi musuhnya Rasul di yaumil qiamah. Salah satunya pengusaha atau pebisnis yang menunda atau tidak memberikan hak pegawainya,” ungkapnya.
Selain membahas hubungan kerja, khutbah tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan kewajiban kepada Allah SWT. Menurut Ustad Ade, pekerjaan harus berjalan seiring dengan pelaksanaan ibadah, terutama salat wajib.
“Sesibuk apa pun pekerjaan kita, kewajiban kepada Allah harus tetap dilaksanakan. Sholat harus dilakukan. Insya Allah pekerjaan yang kita laksanakan akan menjadi pekerjaan yang berkah,” katanya.
Ia menambahkan, keberkahan dalam bekerja tidak hanya berdampak pada kehidupan dunia, tetapi juga menjadi bekal di akhirat. Oleh sebab itu, ia mengajak jamaah menjadikan May Day sebagai momentum introspeksi dan perbaikan bersama.
“May Day bukan hanya hari buruh. Tetapi juga menjadi momentum perbaikan dan kebaikan untuk kita semua melalui pekerjaan yang kita laksanakan,” pungkasnya.
