Kamis, Jul 23, 2026
Info Burinyay
Peristiwa

Panen Tiap Minggu! Paprika Pasirjambu Jadi Ladang Cuan Baru, Dr. H. Sugianto Ungkap Rahasianya

Dr. H. Sugianto, M.Si. menunjukkan budidaya paprika di greenhouse Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung yang mampu menghasilkan panen setiap pekan dengan sistem pertanian modern.
Perintis agribisnis paprika Dr. H. Sugianto, M.Si. berada di dalam greenhouse paprika di Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Melalui budidaya modern, sekitar 4.000 tanaman paprika mampu menghasilkan panen berkelanjutan setiap pekan dengan dukungan pasar yang stabil. (Foto: Info Burinyay/Lee)

Pasirjambu, Info Burinyay – – Komoditas cabai paprika mulai membuka peluang ekonomi baru bagi petani di Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Melalui sistem budidaya modern menggunakan greenhouse, petani mampu memanen paprika setiap pekan sepanjang tahun sekaligus menjaga kualitas hasil panen. Kondisi tersebut membuat paprika memiliki nilai jual yang stabil dan pasar yang terus membutuhkan pasokan.

Perintis agribisnis paprika di Kampung Ciaul RW 13, Desa Cisondari, Dr. H. Sugianto, M.Si., membuktikan bahwa budidaya paprika mampu menjadi sumber pendapatan berkelanjutan apabila petani menerapkan teknik budidaya yang tepat. Ia mengembangkan ribuan tanaman paprika di dalam greenhouse yang berdiri di kawasan dataran tinggi Pasirjambu.

Saat ditemui di Green House Kampung Ciaul, Kamis (23/7/2026), Sugianto menjelaskan bahwa tanaman paprika mulai menghasilkan buah setelah memasuki umur sekitar 100 hari. Setelah panen perdana, petani dapat memanen buah secara rutin setiap minggu tanpa bergantung pada musim.

“Setelah itu paprika bisa dipanen terus-menerus sepanjang tahun. Tanam paprika itu banyak untungnya karena hasilnya bisa dipetik terus,” ujar Sugianto.

Ia menilai karakter wilayah Kampung Ciaul sangat mendukung pengembangan paprika. Suhu udara yang sejuk, kelembapan yang terjaga, serta tingkat serangan hama yang masih rendah memberikan keuntungan besar dibandingkan beberapa sentra paprika lain di Jawa Barat.

Menurutnya, petani di sejumlah daerah mulai menghadapi serangan hama yang cukup tinggi sehingga mereka harus meningkatkan penggunaan pestisida. Sebaliknya, kondisi di Kampung Ciaul masih memungkinkan petani mengendalikan hama dengan penggunaan pestisida dalam jumlah yang lebih rendah.

“Alhamdulillah, sampai sekarang kami masih menggunakan pestisida dengan kadar minimal. Kondisi itu membuat tanaman tetap sehat dan produksi bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Saat ini, greenhouse milik Sugianto menampung sekitar 4.000 pohon paprika. Setiap tanaman tumbuh dengan dua cabang utama sehingga jumlah batang produktif mencapai sekitar 8.000 batang. Seluruh tanaman berkembang di dalam greenhouse yang menjaga suhu, kelembapan, dan intensitas cahaya tetap stabil sepanjang hari.

Selain itu, greenhouse membantu petani mengurangi risiko akibat perubahan cuaca. Ketika musim kemarau datang, petani tetap mampu memenuhi kebutuhan air dan nutrisi tanaman sehingga pertumbuhan paprika tidak mengalami penurunan yang signifikan.

Sugianto mengatakan keberhasilan budidaya paprika tidak hanya bergantung pada kondisi alam. Sebaliknya, petani juga harus menguasai teknik budidaya, memahami kebutuhan tanaman, serta berani berinvestasi pada fasilitas produksi yang memadai.

Karena itu, ia membangun greenhouse di atas lahan sekitar 75 tumbak dengan nilai investasi awal sekitar Rp170 juta. Dana tersebut mencakup proses pematangan lahan, pembangunan konstruksi greenhouse, pembelian bambu, pemasangan instalasi, hingga penyediaan bibit.

Ia sengaja memilih bambu dari daerah bercuaca panas sebagai material utama greenhouse. Berdasarkan pengalaman para praktisi pertanian, bambu tersebut memiliki daya tahan lebih lama dibandingkan bambu dari daerah lembap.

“Bambu dari daerah panas bisa bertahan sekitar lima sampai enam tahun. Karena itu kami memilih material tersebut agar greenhouse lebih awet,” jelasnya.

Selain menjaga kondisi lingkungan tanaman, greenhouse juga membantu petani mempertahankan kualitas buah. Paprika tumbuh lebih seragam, tingkat kerusakan menurun, dan produktivitas tanaman tetap terjaga meski cuaca berubah.

Sugianto kemudian menerapkan sistem tanam menggunakan polybag. Menurutnya, metode tersebut memberikan banyak keuntungan dibandingkan penanaman langsung di lahan terbuka.

Polybag memudahkan petani mengendalikan gulma, menjaga kelembapan media tanam, sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Di sisi lain, akar tanaman tetap mampu berkembang karena bagian bawah polybag memiliki rongga yang memungkinkan akar menembus tanah.

“Kami lebih mudah membersihkan gulma. Ketika melihat rumput tumbuh, kami langsung mengambilnya. Cara ini jauh lebih efisien dibandingkan penanaman langsung di tanah,” ungkapnya.

Ia juga memanfaatkan sekam bakar sebagai media tanam utama. Selain itu, ia mencampurkan pupuk organik dari kotoran ayam dengan sejumlah pupuk lain agar tanaman memperoleh nutrisi secara seimbang.

Menurutnya, kombinasi media tanam tersebut mampu menjaga pertumbuhan tanaman sejak masa vegetatif hingga memasuki fase produksi buah.

Namun demikian, Sugianto menegaskan bahwa keberhasilan bertani paprika tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Petani juga harus membangun jaringan pemasaran agar seluruh hasil panen terserap pasar.

Karena itu, sejak awal ia menjalin kerja sama dengan mitra penampung yang siap membeli seluruh hasil panennya. Kerja sama tersebut berlangsung atas dasar saling percaya sehingga proses pemasaran berjalan lancar hingga sekarang.

“Berapa pun hasil panen kami, semuanya ditampung. Sampai hari ini tidak ada panen yang terbuang. Setiap minggu pengumpul datang mengambil hasil panen kami,” tegasnya.

Kondisi tersebut membuat petani tidak lagi khawatir terhadap pemasaran hasil produksi. Sebaliknya, mereka dapat lebih fokus meningkatkan kualitas budidaya agar produktivitas tanaman terus meningkat.

Selain itu, Sugianto mengingatkan bahwa setiap usaha selalu mengandung risiko. Oleh sebab itu, ia mempelajari teknik budidaya paprika terlebih dahulu sebelum memulai investasi.

Ia mengaku memanfaatkan berbagai sumber pengetahuan, mulai dari media sosial, video pembelajaran, hingga praktik langsung bersama para pelaku agribisnis paprika. Langkah tersebut membantunya memahami analisis usaha, menghitung kebutuhan modal, serta mempersiapkan strategi budidaya secara matang.

“Jangan hanya berani berspekulasi. Kita harus belajar lebih dahulu supaya memahami teknik budidaya dan analisis usahanya,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Sugianto mengajak generasi muda untuk mulai memandang sektor pertanian sebagai bidang usaha yang modern, efisien, dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara bertani sehingga pekerjaan di sektor pertanian tidak lagi identik dengan aktivitas yang berat dan kurang menarik.

Ia menilai sistem greenhouse mampu menghadirkan lingkungan kerja yang lebih tertata. Selain itu, petani dapat mengelola tanaman dengan lebih mudah karena hampir seluruh proses budidaya berlangsung secara terkontrol.

“Selama ini banyak orang menganggap pertanian identik dengan pekerjaan yang kotor. Padahal sekarang pertanian sudah berkembang. Dengan greenhouse, pekerjaan menjadi lebih efisien, kebutuhan tenaga kerja lebih sedikit, dan hasil panen bisa lebih optimal,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan polybag, sistem irigasi, hingga pengaturan nutrisi membuat proses pemeliharaan tanaman berlangsung lebih sederhana. Petani juga dapat memantau kondisi tanaman setiap hari tanpa harus mengeluarkan biaya operasional yang berlebihan.

Karena itu, ia berharap semakin banyak anak muda mulai melirik sektor pertanian sebagai peluang usaha baru. Menurutnya, kebutuhan pasar terhadap komoditas hortikultura berkualitas terus meningkat sehingga kesempatan untuk mengembangkan usaha masih terbuka lebar.

Sugianto mengingatkan bahwa setiap investasi selalu mengandung risiko. Namun demikian, risiko tersebut dapat ditekan apabila petani memiliki pengetahuan yang cukup sebelum memulai usaha.

Ia mengaku tidak langsung membangun greenhouse begitu saja. Sebaliknya, ia terlebih dahulu mempelajari teknik budidaya paprika, menghitung kebutuhan modal, menganalisis peluang pasar, hingga berkonsultasi dengan para praktisi pertanian.

“Saya belajar dari berbagai sumber. Sekarang banyak pengetahuan tersedia melalui media sosial, YouTube, sampai praktik langsung di lapangan. Semua itu menjadi bekal sebelum saya memulai usaha ini,” katanya.

Menurutnya, keberanian harus berjalan seiring dengan pengetahuan. Dengan cara itu, petani dapat mengambil keputusan usaha berdasarkan perhitungan yang matang, bukan sekadar spekulasi.

Selain aspek budidaya, Sugianto juga menyoroti peluang pasar yang masih terbuka luas. Ia mengatakan seluruh hasil panennya selalu terserap oleh mitra penampung tanpa menyisakan produk yang tidak terjual.

Setiap pekan, pengumpul datang langsung ke greenhouse untuk mengambil seluruh hasil panen. Kondisi tersebut berlangsung secara konsisten sejak panen pertama hingga saat ini.

“Berapapun hasil panen yang kami peroleh, semuanya ditampung. Sampai sekarang tidak pernah ada hasil panen yang terbuang,” katanya.

Menurutnya, keberadaan pasar yang stabil menjadi salah satu alasan mengapa budidaya paprika layak dikembangkan lebih luas di Kabupaten Bandung.

Di balik aktivitas budidaya paprika, Sugianto mengaku memiliki alasan lain yang tidak kalah penting, yakni menjaga kelestarian lingkungan. Ia telah menaruh perhatian terhadap isu lingkungan jauh sebelum mengembangkan greenhouse di Kampung Ciaul.

Menurutnya, kegiatan bertani bukan hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem melalui keberadaan tanaman yang menghasilkan oksigen.

“Saya menikmati suasana kebun seperti ini. Udaranya sehat, lingkungannya hijau, dan memberikan semangat baru setiap hari,” tuturnya.

Ia meyakini bahwa pelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi dapat berjalan secara bersamaan. Oleh sebab itu, ia memilih tetap mengembangkan sektor pertanian meskipun memiliki aktivitas lain di bidang organisasi.

Sugianto juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, anggota legislatif, hingga masyarakat, untuk lebih serius menggali potensi pertanian di setiap wilayah Kabupaten Bandung.

Menurutnya, setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, setiap wilayah perlu mengembangkan komoditas yang sesuai dengan kondisi geografis dan iklim setempat.

Ia menilai keberhasilan sektor pertanian akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru di pedesaan.

“Kalau kita mau menggali potensi daerah dengan sungguh-sungguh, potensi itu akan menghasilkan nilai ekonomi. Hari ini saya membuktikan bahwa pertanian bukan hanya memberikan hiburan karena berada di alam terbuka, tetapi juga menghasilkan keuntungan yang nyata,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sugianto juga menyampaikan pandangannya mengenai aktivitas organisasi yang selama ini ia jalani. Menurutnya, organisasi menjadi ruang untuk memperluas pengabdian kepada masyarakat.

Ia mengaku tetap berkomitmen menjalankan kegiatan pertanian sembari aktif di organisasi. Baginya, kedua bidang tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Prinsip yang saya pegang adalah menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Karena itu, saya tetap ingin berkontribusi melalui berbagai bidang yang saya jalani,” katanya.

Sugianto kemudian menyatakan kesiapannya apabila kembali memperoleh amanah untuk memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Bandung. Namun demikian, ia menegaskan bahwa aktivitas pertanian akan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

“Pertanian sudah menjadi bagian dari kehidupan saya. Kegiatan ini akan terus saya jalankan karena memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan keluarga,” pungkasnya.

Sementara itu, pegawai Green House Kampung Ciaul, Alit Suryana, menjelaskan bahwa proses budidaya paprika memerlukan persiapan media tanam yang matang sebelum petani menanam bibit.

Ia memulai proses tersebut dengan mencampurkan sekam bakar dan pupuk organik. Selanjutnya, ia mengomposkan campuran itu selama satu hingga dua bulan agar unsur haranya benar-benar siap diserap tanaman.

Setelah proses pengomposan selesai, Alit memasukkan media tanam ke dalam polybag. Berikutnya, ia menyiram media tersebut selama lima hari berturut-turut. Setelah air yang keluar dari polybag tampak jernih, barulah ia menanam bibit paprika.

“Kalau media tanam sudah siap dan airnya sudah jernih, kami langsung melakukan penanaman. Tanaman kemudian memasuki masa pertumbuhan sampai sekitar 100 hari sebelum panen pertama,” jelas Alit.

Menurutnya, tanaman paprika membutuhkan perawatan rutin setiap hari. Karena itu, tim greenhouse selalu memberikan nutrisi sesuai kebutuhan tanaman agar pertumbuhan berlangsung optimal.

Selain pemberian nutrisi, pekerja juga memantau kelembapan udara di dalam greenhouse. Apabila kondisi mulai kering, mereka segera menyiram daun tanaman. Sebaliknya, ketika kelembapan masih terjaga, penyiraman tidak perlu dilakukan.

“Kalau kondisi greenhouse masih lembap, kami tidak menyiram daun. Namun kalau mulai kering, kami langsung melakukan penyiraman supaya tanaman tetap segar,” ujarnya.

Alit menjelaskan bahwa hasil panen terus meningkat setelah tanaman memasuki masa produksi.

Pada panen perdana, sekitar 4.000 pohon paprika menghasilkan kurang lebih 80 kilogram buah. Seminggu kemudian, produksi meningkat menjadi sekitar 150 kilogram. Selanjutnya, hasil panen kembali naik menjadi sekitar 300 kilogram pada minggu ketiga.

Produktivitas tanaman terus bertambah pada minggu keempat hingga mencapai sekitar 400 kilogram. Setelah itu, volume panen meningkat seiring bertambahnya umur tanaman dan jumlah buah yang siap dipetik.

Ia mengatakan tanaman paprika menghasilkan buah secara bertahap sehingga petani dapat memanen setiap minggu tanpa harus menunggu musim berikutnya.

“Bertambahnya umur tanaman membuat jumlah buah semakin banyak. Karena itu produksi juga terus meningkat dari minggu ke minggu,” katanya.

Bahkan, selama delapan kali panen pada fase buah pertama, greenhouse tersebut berhasil menghasilkan sekitar 2,3 ton paprika. Kini tanaman memasuki fase buah kedua dengan potensi produksi yang lebih besar.

Meski demikian, Alit mengakui bahwa tanaman paprika tetap menghadapi ancaman hama, terutama trips atau kutu loncat yang sering menyerang tunas muda, bunga, dan bakal buah.

Untuk mengatasi masalah tersebut, tim greenhouse melakukan pemantauan setiap hari. Apabila populasi hama meningkat, petugas segera melakukan penyemprotan pestisida sesuai kebutuhan.

“Kalau serangan hamanya tinggi, kami menyemprot setiap dua hari sekali. Namun kalau kondisinya sudah terkendali, penyemprotan cukup setiap tiga atau empat hari,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pengawasan rutin menjadi kunci utama menjaga kualitas tanaman sekaligus mempertahankan produktivitas paprika hingga masa panen berakhir.

Di sisi lain, Akademisi Dr. H. Dudi Warsudin, S.H., M.H., menilai budidaya paprika di Kampung Ciaul memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan Kabupaten Bandung.

Menurutnya, sistem greenhouse berhasil menciptakan lingkungan tumbuh yang lebih stabil sehingga tanaman mampu berkembang secara optimal.

“Saya melihat kebun ini tertata dengan sangat baik. Greenhouse menjaga suhu tetap stabil sehingga tanaman tumbuh lebih baik. Kondisi seperti ini layak menjadi contoh bagi petani di daerah lain,” ujar Dudi.

Ia juga menilai paprika memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan karena permintaan pasar masih cukup tinggi, sedangkan jumlah petani yang membudidayakannya belum banyak.

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan potensi tersebut sebagai sumber pendapatan baru.

“Kalau masyarakat mengembangkan budidaya paprika secara serius, saya optimistis pendapatan petani akan meningkat. Selain itu, sektor pertanian juga akan memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah,” katanya.

Keberhasilan budidaya paprika di Kampung Ciaul menunjukkan bahwa inovasi mampu meningkatkan daya saing sektor pertanian. Melalui penerapan greenhouse, penggunaan media tanam yang tepat, serta pengelolaan nutrisi secara terukur, petani dapat menjaga produktivitas sekaligus menghasilkan produk berkualitas tinggi.

Selain itu, kepastian pasar memberi ruang bagi petani untuk terus meningkatkan skala usaha. Kondisi tersebut membuka peluang lahirnya sentra hortikultura modern di Kecamatan Pasirjambu yang mampu memasok kebutuhan paprika secara berkelanjutan.

Dengan dukungan teknologi budidaya, semangat inovasi petani, serta potensi alam yang sesuai, kawasan dataran tinggi Kabupaten Bandung berpeluang berkembang menjadi salah satu pusat produksi paprika di Jawa Barat. Pada akhirnya, keberhasilan tersebut tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.