Ciwidey, Info Burinyay – SMP Negeri 1 Ciwidey di Jalan Babakan Tiga Nomor 70, Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, menggelar Penilaian Sumatif Akhir Semester (PSAS) Tahun Pelajaran 2025/2026. Sekolah memulai kegiatan ini pada Senin 1 Desember 2025 dan akan menuntaskannya pada Jumat 5 Desember 2025. Seluruh proses berlangsung serentak karena sekolah ingin menjaga ritme evaluasi di jenjang menengah pertama. Dengan demikian, sekolah dapat memastikan setiap siswa mengikuti ujian sesuai kalender pendidikan.
Pelaksanaan PSAS tahun ini menghadirkan pendekatan yang lebih terstruktur. Sekolah memutuskan menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) untuk seluruh rombongan belajar. Keputusan tersebut mendorong proses yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih efisien. Selain itu, penggunaan CBT memberi pengalaman yang lebih modern bagi peserta didik. Hal ini juga membuka kesempatan bagi siswa untuk terbiasa menghadapi sistem digital dalam kegiatan akademik. Dengan begitu, sekolah berupaya memperkuat budaya literasi teknologi.
Mewakili Kepala SMPN 1 Ciwidey, Ahmad Rohman Somantri, S.Pd., M.M.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Oom Mariyah, S.Pd., untuk mengoordinasikan seluruh rangkaian kegiatan. Oom menjelaskan bahwa sekolah melibatkan 1.271 siswa. Ia memerinci jumlah tersebut menjadi 459 siswa kelas 7, 409 siswa kelas 8, dan 403 siswa kelas 9. Menurutnya, pembagian jadwal sudah tersusun sejak awal semester sehingga guru dapat menyiapkan kisi-kisi dan perangkat soal dengan lebih matang.
“Hari ini kita ada kegiatan PSAS yang berlangsung dari tanggal 1 sampai tanggal 5. Untuk hari pertama, mata pelajaran yang kita ujikan PABP dan Bahasa Indonesia. Semua siswa mengerjakan soal melalui aplikasi CBT dengan sistem pengawasan silang. Dengan pola ini, siswa bisa mengenal guru lain dan suasana ujian lebih netral,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengawasan silang membuat pelaksanaan PSAS lebih objektif karena siswa tidak terlalu dekat dengan pengawas.
Oom juga menjelaskan posisi PSAS dalam penilaian hasil belajar.
“PSAS hanya untuk menilai semester satu. Untuk kenaikan kelas nanti kita memakai PSAT. Namun, nilai PSAT dan PSAS tetap kita pertimbangkan secara bersamaan,” jelasnya.
Dengan alur tersebut, sekolah ingin menjaga konsistensi asesmen sepanjang tahun. Ia pun menekankan bahwa setiap hasil ujian memiliki bobot tersendiri sesuai pedoman sekolah.
Di lapangan, sekolah bergerak cepat dalam menyiapkan fasilitas pendukung. Oom memastikan komite ujian menyediakan laboratorium komputer untuk siswa yang tidak memiliki smartphone.
“Sejauh ini kondisi aman. Siswa yang tidak punya HP bisa memakai perangkat di lab komputer. Insyaallah jaringan stabil,” katanya.
Dengan fasilitas tersebut, sekolah ingin memastikan setiap peserta dapat mengikuti ujian tanpa hambatan teknis.
Pengawas Kelas 8K, Riska Nindayanti, S.Pd., ikut mengawasi langsung proses ujian. Ia menilai CBT berjalan lancar meski beberapa kendala muncul.
“Teknis ujian menggunakan CBT berjalan cukup baik. Memang ada soal yang kurang lengkap, tetapi kami langsung memperbaikinya. Saya berharap aplikasi ini bisa terus berkembang agar server lebih stabil,” ujarnya.
Ia menilai kesiapan sistem menjadi faktor penting karena jumlah peserta cukup besar.
Pengawas Kelas 8A, Aep Saepulloh, S.Pd., menjalankan pola pengawasan bergilir. Ia mengaku sistem rolling membuat siswa lebih segar menghadapi ujian setiap hari.
“Hari ini saya bertugas di 8A, besok pindah ke 8B, dan seterusnya. Pola ini kita terapkan agar suasana ujian tidak monoton. Alhamdulillah semua berjalan tertib,” tuturnya.
Ia melihat siswa dapat mengikuti instruksi dengan baik.
Pengelola IT SMPN 1 Ciwidey, Aris Paridi, S.Pd., juga memantau kesiapan perangkat. Ia menegaskan bahwa sekolah menyediakan 26 komputer untuk cadangan.
“Untuk siswa yang tidak membawa perangkat, kami sediakan komputer di lab. Hari ini ada 20 siswa yang memakai fasilitas tersebut. Jumlahnya masih di bawah kapasitas, jadi semuanya bisa terlayani,” jelasnya.
Dengan demikian, sekolah mampu mengurangi potensi keterlambatan ujian akibat kendala perangkat.
Sementara itu, siswa turut memberikan kesan atas pelaksanaan PSAS berbasis CBT. Hafshah Aulya Setiani, siswi kelas 7G, mengaku sempat mengalami kendala perangkat.
“HP saya tiba-tiba mati pas lagi mengerjakan soal. Jadi belum sempat menyelesaikan. Tapi setelah saya laporkan, guru langsung membantu,” katanya. Meski menghadapi hambatan, ia tetap mengikuti arahan pengawas.
Berbeda dengan Hafshah, siswi kelas 9A, Ashyra Draista Putri Resdhiawan, merasa ujian justru lebih menyenangkan.
“Seru karena menggunakan gadget. Jadi lebih praktis. Tadi saya mengerjakan Bahasa Indonesia dan PABP. Soalnya jelas,” ujarnya. Ia menyebut sistem CBT memudahkan navigasi soal.
Sementara itu, siswa kelas 9A lainnya, Azriel Rizky Fadilah, menyampaikan pengalaman positif.
“Saya merasa Alhamdulillah bisa mengerjakan dengan lancar. Ada sedikit kendala, tetapi guru langsung mengecek. Sistemnya praktis dan simple. Insyaallah saya yakin dapat nilai bagus,” tuturnya.
Ia berharap nilai tersebut bisa mendukung rencana akademiknya.
Melalui rangkaian PSAS tersebut, SMPN 1 Ciwidey menunjukkan komitmen untuk meningkatkan mutu evaluasi belajar. Sekolah tidak hanya mengedepankan akurasi, tetapi juga berusaha menanamkan budaya kejujuran. Oom Mariyah menutup keterangannya dengan harapan agar seluruh siswa menuntaskan ujian secara bertanggung jawab.
“Mudah-mudahan kegiatan ini berjalan baik dan anak-anak dapat nilai terbaik,” ujarnya.
Dengan berbagai langkah teknis dan kesiapan sarana, SMPN 1 Ciwidey terus bergerak memperkuat tata kelola penilaian berbasis teknologi. Melalui PSAS 2025/2026, sekolah berharap siswa semakin memahami pentingnya disiplin, integritas, dan ketelitian dalam proses pembelajaran.
