29.1 C
Bandung
Rabu, Jun 3, 2026
Info Burinyay
Pendidikan

Michel Maas Bedah Mitos Hindia Belanda di UPI, Prof Nana Supriatna Soroti Mentalitas Pascakolonial

Michel GM Maas berfoto bersama dosen, mahasiswa, pegiat sejarah, dan peserta visiting practitioner usai memaparkan buku tentang warisan kolonial Belanda di Gedung Nu'man Soemantri UPI Bandung.
Penulis dan jurnalis Belanda, Michel GM Maas (duduk, tengah kanan), berfoto bersama Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed, dosen, mahasiswa, perwakilan Bandung Heritage, dan MGMP Sejarah seusai kegiatan visiting practitioner yang digelar Program Studi Pendidikan Sejarah FPIPS UPI di Gedung Nu'man Soemantri, Bandung, Selasa (2/6/2026). - Foto:infoburinyay/yk

Bandung, Info Burinyay – Program Studi Pendidikan Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menghadirkan penulis dan jurnalis Belanda, Michel GM Maas, dalam kegiatan visiting practitioner di Gedung Nu’man Soemantri UPI, Selasa (2/6/2026). Kegiatan ini mempertemukan akademisi, guru sejarah, pegiat heritage, dan mahasiswa dalam satu forum diskusi sejarah.

Pada kesempatan tersebut, Michel Maas memperkenalkan bukunya yang berjudul De Gelogen Kolonie: Naar Indonesië om Indië te vergeten. Buku terbitan Atlas Contact itu mengulas pengaruh memori kolonial terhadap cara sebagian masyarakat Belanda memandang Indonesia hingga sekarang.

Maas menjelaskan bahwa banyak warga Belanda masih memandang Hindia Belanda sebagai negeri yang damai dan penuh kenangan indah. Namun, menurut dia, pandangan tersebut sering menutupi fakta sejarah yang jauh lebih kompleks.

“Romantisme tentang Hindia Belanda sering mengabaikan kekerasan, eksploitasi, dan penderitaan yang terjadi selama masa kolonial,” ujar Maas dalam pemaparannya.

Sebagai mantan koresponden de Volkskrant, Maas memiliki pengalaman panjang di Indonesia. Ia tinggal selama 18 tahun di berbagai daerah. Karena itu, ia menggabungkan pengalaman pribadi dengan hasil reportase lapangan dalam bukunya.

Selain itu, Maas juga memasukkan kisah ayahnya yang pernah terlibat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Melalui pendekatan tersebut, ia mencoba melihat sejarah kolonial dari sudut pandang yang lebih kritis.

Menurut Maas, masyarakat Belanda masih menghadapi persoalan dalam memahami sejarah kolonial secara utuh. Ia menilai perdebatan mengenai pengakuan 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia menunjukkan persoalan tersebut.

Karena itu, Maas mengajak masyarakat Belanda untuk meninggalkan romantisme kolonial. Sebaliknya, mereka perlu melihat Indonesia sebagai negara modern yang terus berkembang dengan berbagai tantangannya.

Sementara itu, Guru Besar Pendidikan Sejarah dan Pendidikan IPS UPI, Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed, mengapresiasi gagasan yang disampaikan Michel Maas. Menurutnya, buku tersebut membuka ruang diskusi baru tentang cara memahami sejarah kolonial.

Nana menilai pemerintah kolonial dahulu berusaha menampilkan kebijakannya sebagai bentuk kemajuan bagi masyarakat pribumi. Namun, pada saat yang sama, pemerintah kolonial mengabaikan kenyataan yang dialami rakyat terjajah.

“Perlawanan masyarakat terjajah sering dianggap sebagai tindakan barbar. Akibatnya, narasi kolonial menempatkan penjajah sebagai pihak yang membawa peradaban,” kata Nana.

Ia menambahkan bahwa narasi tersebut tidak sepenuhnya hilang setelah Indonesia merdeka. Bahkan, sejumlah penulisan sejarah masih menampilkan sudut pandang yang dekat dengan perspektif kolonial.

Menurut Nana, Michel Maas berusaha membongkar cara pandang tersebut. Ia meminjam perspektif pemikir Prancis Jacques Derrida untuk mengkritisi konstruksi sejarah kolonial.

“Michel Maas mencoba mendekonstruksi perspektif kolonial. Ia mengajak pembaca melihat ulang posisi penjajah dalam sejarah,” ujarnya.

Lebih jauh, Nana menegaskan bahwa buku itu tidak hanya mengkritik kolonialisme Belanda. Buku tersebut juga mendorong bangsa Indonesia untuk melakukan refleksi terhadap cara memandang sejarahnya sendiri.

Ia menilai sebagian masyarakat masih mengagungkan simbol-simbol kolonial dalam kehidupan modern. Padahal, sikap tersebut dapat memunculkan mentalitas yang meremehkan warisan budaya sendiri.

“Jika orang Belanda mulai mengkritisi warisan kolonial, maka kita juga perlu berani meninggalkan cara berpikir yang masih terpengaruh mentalitas penjajahan,” pungkas Nana.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.