Bojongsoang, Info Burinyay – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali ke Bandung setelah menyalurkan bantuan bagi korban banjir di Sumatera. Setibanya di Bandung, ia langsung meninjau banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah Kabupaten Bandung. Ia ingin memastikan penyebab utamanya dan menyiapkan langkah cepat agar banjir tidak terulang.
Dedi bergerak menuju salah satu titik banjir di kawasan Bojongsoang. Ia menemukan aliran sungai yang penuh sampah. Kondisi itu langsung ia rekam dan unggah ke media sosial.
“Tah ieu tah, ieu runtah nepi ka kieu na,” kata Dedi saat memperlihatkan tumpukan sampah yang menyumbat aliran air.
Selama peninjauan, Dedi didampingi Sekcam Bojongsoang, Al Azhar. Ia menanyakan sumber sampah yang memenuhi sungai tersebut. Pertanyaan itu sempat membuat Al Azhar tampak ragu. Melihat situasi itu, Dedi meminta aparat jujur dalam menyampaikan kondisi lapangan.
“Kita jujur saja pak, sampah dari mana aja,” ujar Dedi.
Setelah itu, Al Azhar menyampaikan keterangan lengkap. Ia menduga sampah berasal dari warga Bojongsoang, Bojongsari, dan Lengkong.
“Sampah ini bersumber dari masyarakat Kabupaten Bandung dan Kota Bandung,” jelas Al Azhar. Ia menilai aliran sungai menerima kiriman sampah dari beberapa wilayah yang padat penduduk.
Dari hasil pengamatan di lapangan, Dedi menilai banjir tidak hanya muncul karena sampah. Ia menegaskan bahwa perubahan lahan ikut memperburuk kondisi. Al Azhar membenarkan analisa tersebut. Ia menjelaskan bahwa banyak lahan hijau berubah menjadi perumahan. Ia juga mencatat rawa-rawa yang berubah menjadi permukiman. Di hulu sungai, sejumlah perkebunan sayur menggunakan plastik yang dapat menutup pori tanah.
Melihat data itu, Dedi menyampaikan peringatan keras kepada aparat wilayah. Ia meminta mereka segera menertibkan tata ruang. Ia menegaskan bahwa wilayah tersebut terancam tenggelam bila perubahan lahan terus berjalan tanpa kendali.
“Saya yakin dua sampai tiga tahun ke depan wilayah ini tenggelam pak,” ujar Dedi.
Selanjutnya, Al Azhar menilai penanganan banjir memerlukan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah. Ia menyebut kolaborasi sebagai langkah penting agar upaya perbaikan berjalan cepat. Menanggapi hal itu, Dedi berjanji akan mengumpulkan para pejabat daerah. Ia ingin seluruh pihak mengambil keputusan bersama untuk mengatasi sampah dan banjir secara menyeluruh.
Sementara itu, banjir dan longsor telah melanda 14 kecamatan di Kabupaten Bandung. Pemerintah Kabupaten Bandung menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 6 hingga 19 Desember 2025. Bupati Bandung, Dadang Supriatna, menjelaskan bahwa seluruh kepala wilayah harus siaga penuh selama masa tanggap darurat. Ia ingin informasi lapangan tersampaikan cepat. Kecamatan yang terdampak meliputi Soreang, Cangkuang, Cimaung, Pasirjambu, Kertasari, Ciwidey, Arjasari, Bojongsoang, Banjaran, Dayeuhkolot, Margaasih, Katapang, Pameungpeuk, dan Baleendah.
Untuk menekan risiko banjir, Dedi mengeluarkan surat edaran mengenai penghentian izin pembangunan perumahan di Bandung Raya. Ia menandatangani Surat Edaran Nomor 177/PUR.06.02.03/DISPERKIM pada 6 Desember 2025. Ia menilai kebijakan itu penting untuk menghentikan perluasan permukiman di wilayah rawan banjir.
“Kebijakan ini bertujuan untuk mitigasi agar bencana tidak berulang,” kata Dedi.
Dalam edaran tersebut, ia meminta pemerintah daerah meninjau ulang lokasi pembangunan yang berada di kawasan rawan bencana. Ia juga menekankan kewajiban pengawasan terhadap pembangunan agar sesuai rencana tata ruang. Ia menegaskan bahwa setiap pembangunan harus memiliki Persetujuan Bangunan Gedung serta mengikuti kaidah teknis yang berlaku.
Selain itu, ia meminta pemerintah daerah memulihkan kawasan yang rusak akibat pembangunan. Ia juga mendorong penanaman pohon pelindung di area permukiman. Menurutnya, Bandung berada di cekungan sehingga ancaman banjir lebih tinggi. “Kalau kita tidak melakukan itu, saya jamin dua atau tiga tahun ke depan Bandung tenggelam,” ujar Dedi.
Ia mengingatkan bahwa sedimentasi dan penyempitan sungai akan memperparah banjir bila tidak segera ditangani. Ia mengajak semua pihak memperbaiki penataan ruang dan memperkuat area resapan air. “Sudah waktunya kita berbenah sebelum terjadi peristiwa yang tidak kita harapkan,” kata Dedi.
