Selasa, Jun 23, 2026
Info Burinyay
Kota BandungPendidikan

Bahasa Sunda Tak Masuk Penilaian SPMB SMA, Kepala SMPN 46 Bandung Angkat Suara

Kepala SMPN 46 Bandung Entoh Toharudin Satibi saat memberikan keterangan terkait tidak masuknya nilai Bahasa Sunda dalam komponen penilaian SPMB SMA/SMK Jawa Barat.
Kepala SMPN 46 Bandung, Entoh Toharudin Satibi, menyampaikan kekecewaannya terhadap kebijakan SPMB SMA/SMK Jawa Barat yang tidak memasukkan mata pelajaran Bahasa Sunda dalam komponen penilaian seleksi. (Foto: Info Burinyay/yk)

Bandung, Info Burinyay – Kepala SMPN 46 Bandung, Entoh Toharudin Satibi, menyoroti kebijakan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA/SMK di Jawa Barat yang tidak memasukkan nilai Bahasa Sunda dalam komponen penilaian seleksi.

Menurut Entoh, kebijakan tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pendidik. Pasalnya, sekolah mewajibkan siswa mengikuti pembelajaran Bahasa Sunda setiap tahun. Selain itu, pemerintah daerah juga mengatur mata pelajaran tersebut melalui berbagai regulasi.

“Bahasa Sunda merupakan mata pelajaran wajib di sekolah. Karena itu, saya kecewa ketika penyelenggara SPMB tidak memasukkan nilainya dalam perhitungan seleksi,” ujar Entoh saat ditemui di SMPN 46 Bandung, Selasa (23/6/2026).

Ia menilai kebijakan itu kurang sejalan dengan upaya pelestarian budaya daerah. Selama ini, guru dan sekolah terus mendorong siswa untuk mempelajari bahasa serta nilai-nilai budaya Sunda.

Selain itu, Entoh mengungkapkan bahwa para pendidik Bahasa Sunda juga memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Saat ini, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda bersama Perkumpulan Pendidik Bahasa Daerah Indonesia (PPBDI) menyiapkan agenda audiensi dengan DPRD Jawa Barat.

Melalui audiensi itu, mereka ingin menyampaikan aspirasi terkait posisi Bahasa Sunda dalam sistem seleksi masuk SMA dan SMK.

Entoh menegaskan bahwa Bahasa Sunda tidak hanya berfungsi sebagai mata pelajaran. Bahasa tersebut juga menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Jawa Barat.

“Ulah basa Sunda téh diharé-harékeun, hirup teu neut, paéh teu hos,” katanya.

Sementara itu, Entoh memastikan pelaksanaan SPMB di SMPN 46 Bandung berjalan lancar. Pada tahap pertama, sekolah melayani jalur prestasi akademik dan nonakademik tanpa hambatan berarti.

Kemudian, sekolah melanjutkan proses seleksi melalui jalur domisili dan mutasi pada tahap berikutnya. Panitia tetap memberikan layanan kepada seluruh calon peserta didik sesuai aturan yang berlaku.

Meski demikian, panitia masih menemukan kendala teknis pada beberapa pendaftar. Sebagian calon peserta didik mencantumkan titik koordinat domisili yang kurang tepat saat proses pendaftaran.

Menurut Entoh, masalah itu lebih banyak terjadi pada pendaftar yang berasal dari sekolah dasar swasta. Namun, panitia segera membantu proses perbaikan data agar sesuai dengan alamat sebenarnya.

“Koordinat yang kurang tepat biasanya langsung dibantu oleh panitia agar sesuai dengan data sebenarnya,” ujarnya.

Dari sisi akademik, SMPN 46 Bandung mencatat hasil yang cukup baik pada jalur prestasi. Nilai tertinggi peserta mencapai angka 98. Sementara itu, nilai terendah berada pada kisaran 88.

Selain jalur akademik, sekolah juga menerima siswa melalui jalur prestasi nonakademik. Beberapa peserta meraih prestasi pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kota Bandung. Sebagian lainnya mengantongi prestasi dari berbagai ajang kompetisi.

Untuk tahun ajaran 2026/2027, SMPN 46 Bandung membuka 11 rombongan belajar. Setiap rombongan belajar menampung sekitar 32 hingga 34 siswa.

Di samping melayani warga sekitar sekolah, SMPN 46 Bandung juga menyediakan kuota domisili bagi warga Kabupaten Bandung. Sekolah menyesuaikan kebijakan tersebut dengan ketentuan yang berlaku.

Sebagai sekolah yang fokus pada pelestarian budaya daerah, SMPN 46 Bandung terus mengembangkan berbagai program budaya Sunda. Sekolah mengajak siswa mengenal budaya melalui pembelajaran di kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler.

Saat ini, kegiatan karawitan dan tari tradisional menjadi dua program yang banyak diminati siswa. Selain itu, sekolah juga mencatat prestasi sebagai juara umum Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Kota Bandung.

Menurut Entoh, sekolah tidak hanya mengejar capaian akademik. Sekolah juga berupaya membentuk karakter siswa melalui nilai etika, tata krama, dan budaya Sunda.

“Kami tidak hanya melihat nilai akademik, tetapi juga etika, tata krama, dan karakter anak yang mampu menyerap nilai-nilai budaya Sunda,” kata Entoh.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.