Bandung, Info Burinyay – Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (HMJ PIAUD) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar Pendirian PAUD (SEPAUD), Sabtu (27/6/2026). Kegiatan berlangsung di Aula Ushuluddin Lantai 1 Kampus 2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Panitia mengangkat tema “Menjadi Pelopor Pendidikan Anak Usia Dini Melalui Pendidikan PAUD yang Berkualitas”. Melalui tema tersebut, HMJ PIAUD ingin melahirkan lebih banyak pelopor pendidikan anak usia dini yang profesional.
Mahasiswa, akademisi, praktisi pendidikan, dan peserta dari Bandung, Garut, serta beberapa daerah lainnya mengikuti seminar tersebut. Mereka memenuhi ruang seminar sejak pagi. Selain itu, peserta mengikuti setiap sesi dengan antusias. Mereka juga aktif mengajukan pertanyaan kepada narasumber.
Ketua Umum HMJ PIAUD, Muhammad Fairuzzabadi, membuka kegiatan dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta. Menurutnya, seminar menjadi ruang belajar sekaligus wadah berbagi pengalaman. Karena itu, ia berharap peserta mampu membangun lembaga PAUD yang berkualitas setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dari Bandung, Garut, dan daerah lainnya. Seminar ini menjadi tempat belajar bersama. Selain itu, kita juga memahami cara membangun lembaga PAUD yang benar-benar berkualitas,” ujarnya.
Fairuzzabadi juga mengajak peserta mempelajari buku Cara Mudah Mendirikan PAUD. Buku tersebut menjelaskan lima fondasi utama pendirian PAUD. Menurutnya, materi dalam buku dapat menjadi panduan awal bagi calon pengelola lembaga.
Selanjutnya, praktisi pendidikan Imam Syafei, M.Pd., menjelaskan lima fondasi utama penyelenggaraan PAUD. Ia menilai setiap calon pengelola harus memahami seluruh fondasi tersebut. Dengan begitu, lembaga dapat tumbuh secara legal, terarah, dan berkualitas.
“Hari ini kami mengedukasi peserta tentang lima fondasi penyelenggaraan PAUD. Kami ingin mahasiswa memahami setiap tahapan. Harapannya, mereka mampu berkontribusi dalam membangun pendidikan anak usia dini sebagai investasi peradaban,” katanya.
Imam menegaskan bahwa setiap pengelola harus mengurus legalitas sejak awal. Setelah itu, pengelola perlu menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Selanjutnya, mereka melengkapi sarana dan prasarana. Mereka juga menyusun kurikulum yang sesuai. Selain itu, pengelola harus membangun strategi promosi. Langkah tersebut akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga.
Menurut Imam, mahasiswa memiliki peluang besar untuk menjadi guru, kepala sekolah, maupun pengelola yayasan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membangun semangat kepemimpinan sejak masih kuliah. Dengan cara itu, mereka dapat melahirkan lembaga pendidikan yang berkualitas.
Sementara itu, Dosen PIAUD UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Heri Hidayat, S.Sn., M.Pd.I., CPE., menilai seminar tersebut membuka peluang besar bagi mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya berpeluang menjadi guru. Mereka juga dapat menjadi wirausahawan di bidang pendidikan.
“Kita hidup pada era yang menuntut kemandirian. Mahasiswa dapat mengajar. Namun, mereka juga dapat mendirikan PAUD maupun Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an. Langkah itu akan memperluas kontribusi mereka di dunia pendidikan,” ungkapnya.
Ia berharap semakin banyak lulusan PIAUD mendirikan lembaga pendidikan. Menurutnya, langkah tersebut akan meningkatkan mutu pendidikan Indonesia. Selain itu, lulusan juga dapat membuka lapangan kerja baru di sektor pendidikan.
Sekretaris PIAUD UIN Sunan Gunung Djati, Arif Nursihah, S.TH.I., M.A., CHt., menilai masyarakat Indonesia memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan anak usia dini. Namun, ia mengingatkan bahwa setiap calon pengelola harus memiliki kompetensi yang memadai. Karena itu, seminar seperti ini menjadi sangat penting.
“Seminar ini membekali peserta dengan ilmu, kemampuan manajerial, dan pengelolaan keuangan. Bekal tersebut akan membantu peserta mendirikan RA maupun PAUD yang ideal,” ujarnya.
Selain itu, Arif mendorong panitia melanjutkan program pendampingan setelah seminar selesai. Menurutnya, pendampingan akan menjaga kualitas lembaga yang nantinya berdiri. Bahkan, pemantauan secara berkala juga perlu dilakukan.
Moderator seminar, Risma Maesaroh, mengingatkan pentingnya pendidikan anak usia dini. Menurutnya, PAUD menjadi fondasi pembentukan karakter bangsa. Oleh sebab itu, setiap calon pendidik harus memahami tanggung jawab tersebut.
“Kita tidak hanya mendidik anak hari ini. Kita juga membentuk karakter generasi emas Indonesia pada masa depan,” katanya.
Peserta juga mengaku memperoleh banyak manfaat. Fitri Indriani mengatakan seminar memberikan pemahaman baru. Ia memahami kompetensi guru sekaligus proses legalisasi lembaga.
“Selain belajar menjadi guru PAUD yang lebih baik, saya juga memahami proses legalisasi lembaga. Saya berharap pemerintah semakin mempermudah pengembangan PAUD, terutama di daerah terpencil,” tuturnya.
Peserta lainnya, Imas Siti Romlah dari Pasir Impun, juga menyampaikan kesan positif. Ia mengaku kini memahami proses legalisasi PAUD di wilayahnya. Karena itu, ia berharap seminar serupa terus berlanjut.
“Saya mendapat banyak ilmu. Sekarang saya memahami proses legalisasi PAUD di wilayah saya. Semoga seminar seperti ini terus hadir,” ujarnya.
Dhini Apriliani Shofia juga menyampaikan pengalaman serupa. Ia memperoleh pengetahuan baru tentang proses pendirian sekolah. Selain itu, ia memahami tahapan membangun lembaga secara menyeluruh.
“Saya mendapatkan banyak ilmu. Terutama mengenai cara membangun sekolah yang terencana dan lengkap. Saya berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut,” katanya.
Melalui Seminar Pendirian PAUD (SEPAUD), HMJ PIAUD UIN Sunan Gunung Djati Bandung ingin memperkuat semangat mahasiswa untuk membangun lembaga pendidikan anak usia dini. Selain itu, organisasi tersebut mendorong lahirnya PAUD yang legal, profesional, dan berkualitas. Dengan demikian, pendidikan anak usia dini dapat melahirkan generasi yang berkarakter, unggul, dan siap menyongsong Indonesia Emas.
