26.9 C
Bandung
Minggu, Jun 7, 2026
Info Burinyay
Opini

MBG Pasca Covid Dinilai Selamatkan Kualitas Hidup Lansia Kab Bandung, Ini Catatan Penting dari LLI

Drs. H. Bambang Budiraharjo, M.Si., Ketua Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Kabupaten Bandung, menyampaikan perspektif tentang dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lansia pasca Covid-19 dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 Tahun 2026 di Kabupaten Bandung.
Drs. H. Bambang Budiraharjo, M.Si., Ketua Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Kabupaten Bandung, menyampaikan perspektif tentang dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lansia pasca Covid-19 dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 Tahun 2026 di Kabupaten Bandung. - Foto:infoburinyay/ilustrasimbg

Perspektif Drs. H. Bambang Budiraharjo, M.Si., Ketua Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Kabupaten Bandung dalam Rangka Hari Lanjut Usia Nasional ke-30 Tahun 2026

Pandemi Covid-19 memang sudah berlalu. Namun, dampaknya masih membekas dalam kehidupan masyarakat, terutama para lanjut usia. Di Kabupaten Bandung, banyak lansia menghadapi tekanan ekonomi, keterbatasan aktivitas sosial, dan penurunan kualitas gizi selama masa pandemi. Kondisi tersebut membuat upaya pemulihan kesehatan lansia menjadi semakin penting.

Dalam situasi itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir sebagai salah satu instrumen yang mampu memperkuat ketahanan lansia. Ketua Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Kabupaten Bandung, Drs. H. Bambang Budiraharjo, M.Si., memandang program tersebut bukan sekadar bantuan makanan. Menurutnya, MBG juga mendorong pemulihan kesehatan, memperkuat hubungan sosial, dan membuka peluang pemberdayaan ekonomi bagi lansia.

Pertama, MBG membantu lansia memperbaiki status gizi pasca pandemi. Selama Covid-19, banyak lansia mengalami silent hunger. Mereka tetap makan setiap hari, tetapi tubuh mereka kekurangan protein dan mikronutrien penting. Karena itu, menu bergizi yang hadir secara rutin mampu membantu lansia mengejar kebutuhan nutrisi yang sempat tertinggal.

Selain memperbaiki gizi, MBG juga meringankan beban ekonomi keluarga. Banyak lansia di Baleendah, Cileunyi, maupun Margaasih masih bergantung pada bantuan anak atau kerabat. Kehadiran satu porsi makanan bergizi setiap hari membantu mereka menghemat pengeluaran bulanan. Selanjutnya, mereka dapat mengalokasikan dana tersebut untuk membeli obat hipertensi, diabetes, atau kebutuhan kesehatan lainnya.

Di sisi lain, program ini ikut menghidupkan kembali Posyandu Lansia. Setelah pandemi mereda, sejumlah posyandu mengalami penurunan aktivitas. Kini, banyak lansia kembali datang untuk mengambil makanan sekaligus memeriksa tekanan darah dan kadar gula darah. Melalui pola tersebut, kader kesehatan dapat menemukan gejala penyakit tidak menular lebih cepat.

Manfaat MBG juga menyentuh aspek sosial. Pandemi meninggalkan jejak kesepian bagi banyak lansia. Oleh sebab itu, titik distribusi MBG berubah menjadi ruang pertemuan yang mempererat hubungan sosial warga lanjut usia. Mereka tidak hanya menerima makanan, tetapi juga berbagi cerita, pengalaman, dan semangat hidup. LLI Kabupaten Bandung bahkan menyebut fenomena tersebut sebagai “Piring Silaturahmi”.

Selanjutnya, Bambang Budiraharjo mendorong pemerintah agar program ini melibatkan kelompok lansia produktif. Ia mengusulkan pemanfaatan hasil pertanian dari kelompok wanita tani dan kelompok lansia di Pangalengan, Pacet, serta Ciwidey. Dengan langkah itu, MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi, tetapi juga memperkuat roda ekonomi masyarakat.

Meskipun membawa banyak manfaat, program ini tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu persoalan utama terletak pada penyusunan menu. Sebagian menu masih mengikuti pola konsumsi anak sekolah. Padahal, lansia membutuhkan makanan bertekstur lunak, tinggi protein, kaya serat, dan rendah garam maupun gula. Jika penyelenggara mengabaikan kebutuhan tersebut, risiko gangguan kesehatan justru dapat meningkat.

Selain itu, akses distribusi masih menjadi pekerjaan rumah. Kabupaten Bandung memiliki wilayah yang luas dan kondisi geografis yang beragam. Banyak lansia di daerah terpencil atau yang memiliki keterbatasan mobilitas kesulitan menjangkau titik pembagian makanan. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat sistem pengantaran langsung ke rumah bagi kelompok rentan.

Tantangan berikutnya berkaitan dengan keamanan pangan. Lansia memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah dibanding kelompok usia produktif. Oleh karena itu, pengelola program harus menjaga kualitas makanan sejak proses memasak hingga makanan tiba di tangan penerima. Pengawasan yang ketat akan mengurangi risiko keracunan maupun gangguan kesehatan lainnya.

Menjelang Hari Lanjut Usia Nasional ke-30 Tahun 2026 yang mengusung tema “Lansia Terawat, Indonesia Bermartabat”, Bambang Budiraharjo mengajak seluruh pihak untuk melihat MBG sebagai investasi sosial jangka panjang. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada jumlah porsi makanan yang tersalurkan. Keberhasilan sejati muncul ketika lansia hidup lebih sehat, lebih mandiri, dan lebih bermartabat.

Karena itu, LLI Kabupaten Bandung mendorong empat langkah strategis. Pertama, pemerintah perlu menyusun menu khusus lansia bersama ahli gizi dan organisasi lansia. Kedua, pemerintah harus memprioritaskan distribusi bagi lansia disabilitas dan kelompok usia di atas 70 tahun. Ketiga, pengelola program perlu mengintegrasikan MBG dengan kebun gizi dan pemberdayaan ekonomi lansia. Keempat, pemerintah bersama Dinkes, BPOM, dan LLI harus memperkuat sistem pengawasan hingga tingkat kecamatan.

MBG bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan pangan. Program ini menjadi simbol kepedulian terhadap generasi yang telah membangun bangsa. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya mengisi piring para lansia.

Masyarakat juga harus menjaga kesehatan, menghormati martabat, dan memastikan mereka tetap menjalani masa tua dengan bahagia. Itulah makna sesungguhnya dari tema HLUN ke-30, “Lansia Terawat, Indonesia Bermartabat”.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.