Majalaya, Info Burinyay – SMK KP 3 Majalaya terus mendorong lahirnya generasi muda pelestari budaya Sunda di tengah derasnya arus modernisasi dan musik populer. Salah satu siswa yang kini mencuri perhatian ialah Leonar Setraduta, remaja asal Kabupaten Bandung yang memiliki kemampuan vokal dalam membawakan kawih Sunda.
Leonar yang akan naik ke kelas 12 mulai menekuni dunia tarik suara sejak kecil. Lingkungan keluarga ikut membentuk kecintaannya terhadap seni musik. Bahkan, salah satu kerabat Leo pernah mengikuti ajang Dangdut Academy (DA) 5 Indosiar.
Leo memulai perjalanan seninya saat masih duduk di bangku SMPN 1 Pacet. Sejak saat itu, ia aktif mengikuti berbagai perlombaan antarsekolah dan kegiatan seni pelajar. Setelah bergabung dengan SMK KP 3 Majalaya, kemampuan Leo semakin berkembang.
Prestasi pun mulai berdatangan. Leo berhasil meraih Juara Harapan III dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Bandung. Selain itu, penampilannya pada acara perpisahan sekolah juga berhasil menarik perhatian penonton.
“Menyanyi bukan hanya hobi bagi saya. Saya ingin terus belajar dan menambah pengalaman tampil di berbagai acara,” ujar Leonar saat wawancara, Kamis (21/5/2026).
Guru Bahasa Sunda SMK KP 3 Majalaya, Rio Firdaus, mengaku pertama kali melihat bakat Leo saat kegiatan presentasi di kelas. Ketika itu, Rio meminta seluruh siswa membawakan kawih Sunda sebagai bagian dari materi pelajaran.
“Saat Leo tampil, saya langsung melihat potensinya. Cara bernyanyi dan penghayatannya berbeda dibanding siswa lain. Karena itu, saya ingin membantu mengembangkan bakatnya,” kata Rio.
Rio menjelaskan, sekolah terus membuka ruang bagi siswa yang ingin mengembangkan kemampuan seni tradisional. Untuk mendukung hal tersebut, SMK KP 3 Majalaya menjalankan berbagai program seni Sunda, mulai dari musik tradisional, tari, pencak silat, hingga borangan atau seni ngabodor sorangan.
Selain fokus pada pengembangan bakat, sekolah juga memperkuat pendidikan karakter melalui konsep Pancawaluya. Nilai itu mencakup cageur, bageur, bener, pinter, dan singer sebagai dasar pembentukan karakter siswa Sunda.
Menurut Rio, sekolah menyusun program pendidikan secara seimbang antara pengembangan seni, pembinaan karakter, dan penguatan spiritual. Karena itu, siswa rutin mengikuti salat duha bersama serta kegiatan hafalan Al-Qur’an.
“Kami ingin siswa tidak hanya pintar dan berbakat. Mereka juga harus memiliki karakter yang baik dan spiritual yang kuat,” pungkasnya.
