Minggu, Sep 13, 2026
Info Burinyay
Peristiwa

Mahasiswa ITB Turun Langsung Bantu Warga Terdampak Gempa NTT

Mahasiswa ITB dalam gerakan ITB Peduli NTT berpose di depan shelter warga terdampak gempa
Para mahasiswa ITB berpose di depan shelter yang sedang dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan hunian sementara warga terdampak gempa di NTT melalui gerakan ITB Peduli NTT. Foto:Info Burinyay/yk

Bandung — Kepedulian terhadap masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil peran dalam respons kemanusiaan melalui gerakan ITB Peduli NTT.

Gerakan tersebut berawal dari inisiatif mahasiswa di lingkungan kampus. Selanjutnya, gerakan berkembang melalui konsolidasi organisasi mahasiswa, penggalangan bantuan, hingga keterlibatan langsung mahasiswa di wilayah terdampak bencana.

Presiden KM ITB, Nahdah Nabillah, mengatakan kepedulian terhadap masyarakat terdampak menjadi alasan utama mahasiswa terlibat dalam gerakan tersebut. Menurutnya, kepedulian itu kemudian mahasiswa wujudkan melalui aksi dan kontribusi langsung.

“Berawal dari inisiasi Kemenko Sosmas KM ITB yang kemudian berkomunikasi dengan pihak-pihak lain di ITB di level rektorat dan juga Rumah Amal Salman. Dorongan terbesar tentunya karena panggilan kemanusiaan,” ujar Nahdah, Jumat (11/9/2026).

Menurut Nahdah, mahasiswa ITB merupakan bagian dari masyarakat. Karena itu, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk hadir ketika masyarakat menghadapi bencana.

“Khususnya bagi mahasiswa-mahasiswa ITB yang merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri sehingga kepedulian bertransformasi jadi aksi nyata yang perlu diwujudkan dalam kontribusi langsung membersamai saudara-saudara di NTT,” katanya.

Sejalan dengan itu, KM ITB kemudian mengembangkan inisiatif tersebut menjadi gerakan bersama. Sejumlah organisasi mahasiswa ikut mengambil bagian dalam mendukung respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa.

Untuk memperluas dukungan, KM ITB mengonsolidasikan sejumlah organisasi mahasiswa dalam penggalangan bantuan. Setiap organisasi menghimpun bantuan dari anggotanya. Selanjutnya, KM ITB menyalurkan bantuan tersebut melalui gerakan ITB Peduli NTT.

Kemenko Sosmas KM ITB, Arfa, mengatakan keterlibatan KM ITB juga membuka ruang bagi organisasi mahasiswa untuk menyalurkan bantuan yang telah mereka kumpulkan.

“Inisiatif dari stakeholder ormawa terkait penggalangan dana pun dapat dirasakan. Keterlibatan KM ITB di ITB Peduli kami jadikan sebagai wadah bagi ormawa untuk menyalurkan bantuan yang telah dikumpulkan dari anggotanya masing-masing,” ungkap Arfa.

Selain menggalang bantuan, mahasiswa ITB juga mengambil peran langsung di lapangan. Lima perwakilan KM ITB mendampingi Prof. Brian Yuliarto saat berada di wilayah terdampak.

Pendampingan tersebut membantu mahasiswa memetakan kebutuhan masyarakat. Selain itu, mahasiswa memperkuat komunikasi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari sejumlah perguruan tinggi di NTT.

Melalui konsolidasi tersebut, mahasiswa dapat menghubungkan dukungan dari lingkungan kampus dengan kebutuhan masyarakat di lokasi bencana. Langkah itu juga membantu memastikan kontribusi mahasiswa sesuai dengan kondisi lapangan.

Keterlibatan mahasiswa kemudian berlanjut melalui Tim ITB Peduli NTT Kloter 2. Sejumlah mahasiswa turun langsung untuk membantu berbagai kegiatan kemanusiaan di wilayah terdampak, khususnya Kabupaten Manggarai Timur.

Hingga 31 Agustus 2026, tim telah memasang tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA). Lokasinya berada di RS Lapangan Dampek, pengungsian Ronting, dan pengungsian Pota.

Selain fasilitas air, tim juga membangun 21 unit shelter keluarga dan shelter komunal di sejumlah lokasi. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari respons terhadap kebutuhan hunian sementara masyarakat.

Di Ronting, Desa Satar Kampas, tiga kelompok masyarakat juga telah disiapkan untuk melanjutkan pembangunan tenda keluarga.

Pelibatan warga dalam proses tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemulihan. Masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga ikut mengambil peran dalam pembangunan fasilitas yang mereka butuhkan.

Di tengah proses tersebut, mahasiswa juga mendapatkan gambaran langsung mengenai kondisi masyarakat setelah bencana.

Asa, mahasiswa yang tergabung dalam relawan ITB Peduli NTT Kloter 2, mengatakan kondisi di sepanjang perjalanan menuju lokasi menunjukkan besarnya dampak gempa.

Ia melihat banyak rumah warga mengalami kerusakan hingga roboh. Pada saat yang sama, fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) masih terbatas.

Untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari, warga juga masih mengandalkan dapur komunal yang mereka kelola bersama.

Meski menghadapi situasi pascabencana, Asa melihat masyarakat tetap menjaga keramahan dan kehidupan sosial. Aktivitas anak-anak di sekitar lokasi juga membuat suasana pengungsian tetap hidup.

Namun, kondisi tersebut berjalan bersamaan dengan ancaman gempa susulan. Menurut Asa, warga masih merasakan gempa beberapa kali dalam sehari.

“Warganya ramah-ramah banget. Jujur, aku sangat merasakan vibes kampung yang rukun dan suasananya hidup karena banyak anak-anak juga. Tapi, di sini sering banget gempa sampai sekarang, bisa sampai lima kali sehari dan gempanya terasa banget,” ujar Asa.

Di lapangan, mahasiswa turut membantu pembangunan fasilitas kesehatan sementara. Selain itu, kebutuhan hunian sementara juga menjadi perhatian karena banyak rumah warga mengalami kerusakan atau roboh.

Bahkan, sebagian warga yang rumahnya masih berdiri memilih tidak kembali tinggal di dalam rumah. Trauma akibat gempa membuat tenda keluarga dan shelter menjadi kebutuhan mendesak.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa respons pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan logistik. Masyarakat juga membutuhkan tempat tinggal sementara yang aman serta fasilitas pendukung untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Bagi Asa, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat juga memiliki makna lebih luas. Mahasiswa tidak hanya datang sebagai relawan untuk memberikan bantuan, tetapi dapat menjadi kolaborator bagi masyarakat.

Pertukaran pengetahuan menjadi salah satu bentuk kolaborasi tersebut. Mahasiswa dapat memberikan wawasan berdasarkan bidang keilmuan masing-masing. Sebaliknya, mahasiswa juga memperoleh pengetahuan langsung dari masyarakat mengenai kondisi teknis dan kebutuhan di lapangan.

Rangkaian kegiatan ITB Peduli NTT menunjukkan perkembangan respons mahasiswa dari penggalangan bantuan menuju keterlibatan langsung. Konsolidasi organisasi mahasiswa menjadi langkah awal untuk memperluas dukungan.

Selanjutnya, pengumpulan bantuan, pemetaan kebutuhan, pendampingan lapangan, hingga keterlibatan dalam Tim ITB Peduli NTT Kloter 2 menjadi bagian dari rangkaian aksi kemanusiaan tersebut.

Dengan pola tersebut, mahasiswa dapat menghubungkan solidaritas dari lingkungan kampus dengan kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak bencana.

Kontribusi lanjutan juga tengah disiapkan melalui pengiriman rombongan mahasiswa yang berkolaborasi dengan program Aksara Mahasiswa Berdampak Kemendikti.

Keterlibatan tersebut diarahkan untuk mempercepat distribusi bantuan sekaligus mendukung pembangunan shelter keluarga bagi masyarakat terdampak gempa.

Melalui ITB Peduli NTT, mahasiswa ITB menunjukkan bahwa respons terhadap bencana dapat tumbuh dari lingkungan kampus dan berkembang menjadi aksi langsung di tengah masyarakat.

Gerakan tersebut tidak hanya menghimpun bantuan. Mahasiswa juga hadir untuk memahami kebutuhan warga, membantu penyediaan fasilitas, membangun kolaborasi, serta ikut mendukung proses pemulihan masyarakat setelah bencana.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.