Bojongsoang, Info Burinyay – Kecamatan Bojongsoang mempercepat upaya penanganan banjir dengan mengadopsi pendekatan kewilayahan berbasis RW yang lebih terukur dan langsung menyasar akar persoalan. Melalui strategi ini, pemerintah kecamatan memetakan kondisi setiap RW, menilai penyebab banjir, dan merancang langkah teknis yang dapat dikerjakan bersama warga maupun lintas instansi.
Setelah mengikuti Rapat Koordinasi Pembahasan Sinergitas Pelaksanaan Program Pentahelix Penanganan Banjir di wilayah Sapan–Tegalluar pada Kamis, 27 November 2025, Camat Bojongsoang H. Kankan Taufik Barnawan, S.IP menegaskan bahwa analisis berbasis RW memberi kejelasan baru dalam melihat titik-titik rawan di wilayahnya.
Ia menyebutkan bahwa Kecamatan Bojongsoang memiliki 95 RW, dan tim kecamatan menemukan 32 RW yang mengalami banjir atau genangan, baik dalam skala kecil maupun besar. Kankan menekankan bahwa seluruh bentuk genangan tetap masuk ke dalam fokus penanganan.
“Kami ingin membaca persoalan dengan lebih detail. Karena itu, kami memecah analisis sampai tingkat RW. Dengan pola ini, kami mengetahui posisi masalah dan langkah teknis yang harus kami jalankan. Bahkan genangan kecil di depan kantor kecamatan pun tetap kami tangani sebagai bagian dari pekerjaan besar,” kata Kankan.
Untuk memperkuat pernyataannya, ia menjelaskan bahwa beberapa perbaikan kecil menghasilkan dampak signifikan. Dua RW berhasil keluar dari daftar wilayah genangan setelah pemerintah kecamatan menindak sejumlah persoalan teknis yang selama ini tidak terlihat. “Langkah kecil bisa memberi dampak besar kalau kita gerakkan secara konsisten,” tambahnya.
Kankan menjabarkan perkembangan penanganan banjir di kawasan Tegalluar. Saat ini, pihaknya telah menyelesaikan langkah teknis di 14 RW, sehingga wilayah terdampak menyusut drastis. Jika seluruh wilayah Tegalluar rampung, maka persentase RW terdampak tinggal sekitar 20 persen atau sekira 17 RW.
“Setiap progres menunjukkan bahwa pendekatan kewilayahan ini bekerja. Kami melihat penurunan jumlah RW terdampak secara langsung. Ini memberikan keyakinan bahwa strategi ini perlu kami lanjutkan,” ujarnya.
Kankan menjelaskan bagaimana analisis per RW membuka informasi baru terkait penyebab banjir di beberapa wilayah. Ia mencontohkan kawasan Buahbatu yang bermasalah pada sodetan ke Sungai Cipeso. Warga di wilayah itu bergerak cepat melalui pola pentahelik, dan langkah tersebut memberikan manfaat bagi empat RW sekaligus.
“Warga di Buahbatu menunjukkan inisiatif kuat. Mereka menata sodetan dan membersihkan aliran sehingga empat RW merasakan hasilnya. Kalau pekerjaan itu selesai sepenuhnya, wilayah terdampak akan berkurang lagi,” katanya.
Untuk memperjelas langkah kolaboratif, Kankan menyampaikan alasan utama penggunaan pendekatan RW. Ia ingin menumbuhkan tanggung jawab bersama, sehingga setiap wilayah ikut bergerak dan memahami bagian yang harus mereka kerjakan.
“Kami ingin setiap RW merasa memiliki peran. Ketika data tersedia, RW mengetahui penyebabnya, dan semua pihak terlibat, maka rasa tanggung jawab tumbuh. Banjir tidak bisa kita serahkan hanya pada pemerintah. Semua unsur harus bergerak bersama,” tegasnya.
Dalam rapat koordinasi tersebut, pembahasan sinergitas pentahelik berlangsung intensif. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Bandung, BBWS, akademisi, komunitas, dan dunia usaha menyelaraskan peran masing-masing agar pekerjaan tidak tumpang tindih.
“Kami tidak ingin memunculkan saling tuding. Kami ingin memastikan bahwa setiap instansi bergerak sesuai kewenangan. Provinsi mengerjakan bagiannya, Kabupaten Bandung menjalankan perannya, BBWS menuntaskan pekerjaan teknis yang menjadi ranahnya, dan masyarakat pun menjalankan tugas yang relevan,” jelas Kankan.
Ia menegaskan bahwa pembagian peran harus berubah menjadi langkah nyata di lapangan. Pemerintah telah menyiapkan intervensi infrastruktur, tetapi proses itu membutuhkan dukungan penuh masyarakat terutama terkait lahan.
“Kalau pemerintah membangun saluran, memperlebar drainase, atau menyiapkan sodetan baru, maka masyarakat harus memberikan akses lahannya. Upaya ini bukan untuk kepentingan salah satu kelompok, tetapi untuk keamanan bersama,” lanjutnya.
Ia juga menilai, sosialisasi pentahelik bertujuan membangun cara pandang baru. Ia ingin warga memahami bahwa banjir bukan kondisi yang harus diterima setiap tahun. Dengan data yang jelas dan kerja sama yang solid, persoalan banjir bisa terurai satu per satu.
“Harapan kami sederhana namun penting: semua pihak bergerak bersama. Kalau semua elemen menjalankan perannya, wilayah terdampak akan terus berkurang. Kami ingin masyarakat melihat bahwa banjir bisa kita tangani kalau kita bersatu,” tegasnya.
Kankan menyatakan bahwa pemerintah kecamatan akan terus menjalankan strategi berbasis RW dan memperkuat pentahelik di seluruh wilayah. Ia yakin kerja kolaboratif tersebut dapat membawa Bojongsoang menuju wilayah yang lebih siap menghadapi cuaca ekstrem.
“Bojongsoang harus tumbuh menjadi wilayah yang tangguh dan adaptif. Kami bergerak, kami bekerja, dan kami memastikan solusi berjalan. Dengan dukungan warga, kami yakin target ini bisa tercapai,” pungkasnya.
