Kamis, Jul 16, 2026
Info Burinyay
PeristiwaSeni Budaya

Anton Charliyan: Majelis Adat Sunda Prioritaskan Penguatan Kampung Adat sebagai Fondasi Pelestarian Budaya Sunda

Irjen Pol (Purn.) Dr. Drs. Anton Charliyan, M.P.K.N., Ketua Majelis Adat Sunda, memberikan keterangan kepada awak media terkait penguatan kampung adat sebagai prioritas pelestarian budaya Sunda di Bandung, Kamis (16/7/2026).
Ketua Majelis Adat Sunda, Irjen Pol (Purn.) Dr. Drs. Anton Charliyan, M.P.K.N., saat memberikan keterangan kepada awak media di Kantor Majelis Adat Sunda, Jalan Parakan Asri Raya No. 8, Batu Nunggal, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Kamis (16/7/2026). Foto: Info Burinyay/dj.

Bandung, Info Burinyay – Ketua Majelis Adat Sunda, Irjen Pol (Purn.) Dr. Drs. Anton Charliyan, M.P.K.N., menegaskan bahwa penguatan kampung adat menjadi agenda utama Majelis Adat Sunda pada 2026. Menurutnya, pelestarian budaya Sunda harus dimulai dari akar yang paling kuat, yaitu kampung adat.

Anton menyampaikan pernyataan tersebut di Kantor Majelis Adat Sunda, Jalan Parakan Asri Raya No. 8, Batu Nunggal, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Kamis (16/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa kampung adat menjadi tempat lahir, tumbuh, dan bertahannya nilai budaya Sunda. Karena itu, Majelis Adat Sunda memilih memusatkan perhatian pada penguatan kampung adat. Langkah tersebut dinilai lebih efektif untuk menjaga keberlanjutan budaya.

“Kami membangun kemajuan kebudayaan Sunda. Namun, kami harus menguatkan kampung adat terlebih dahulu. Kampung adat menjadi inti masyarakat yang masih menjalankan adat dan budaya secara konsisten. Bagaimana kita memperbaiki hal lain jika fondasinya belum kuat,” kata Anton Charliyan.

Selain itu, Anton mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keberadaan kampung adat. Menurutnya, kampung adat menyimpan nilai sejarah, tradisi, dan identitas masyarakat Sunda. Oleh sebab itu, masyarakat harus menjaga keberadaannya secara bersama-sama.

Ia menilai pelestarian budaya tidak cukup melalui kegiatan seremonial. Sebaliknya, masyarakat perlu memperkuat lingkungan yang masih menjalankan adat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara itu, generasi muda dapat mempelajari budaya langsung dari para pelakunya.

Karena alasan tersebut, Majelis Adat Sunda menetapkan pembenahan kampung adat sebagai prioritas organisasi pada tahun ini. Program itu mencakup penguatan peran masyarakat adat, pelestarian tradisi, serta pengembangan nilai budaya yang tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Kami lebih fokus membenahi kampung adat. Kami ingin memperkuat akar budaya Sunda. Setelah fondasinya kokoh, pengembangan budaya akan berjalan lebih baik,” ujarnya.

Sementara itu, Anton menegaskan bahwa Majelis Adat Sunda membuka ruang bagi semua kalangan. Organisasi tersebut tidak membatasi keanggotaan berdasarkan suku maupun latar belakang.

Menurutnya, kepengurusan Tim Rancage membuktikan semangat tersebut. Tim itu berisi tokoh dari berbagai etnis. Mereka bekerja bersama untuk menjaga dan memajukan budaya Sunda.

“Bukan hanya orang Sunda yang bergabung. Ada tokoh Tionghoa, Batak, dan Minang. Memang sekitar 90 persen berasal dari masyarakat Sunda. Namun, kami membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin ikut menjaga budaya Sunda,” jelasnya.

Lebih lanjut, Anton mengapresiasi semangat para anggota dari berbagai etnis. Mereka menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap budaya Sunda. Karena itu, ia berharap masyarakat Sunda ikut memperkuat gerakan tersebut.

“Masa mereka rajin mendorong budaya Sunda, sementara orang Sunda hanya menjadi penonton. Kami mengajak semua pihak bergabung. Kami tidak membedakan golongan apa pun,” tegasnya.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.